Di Kepalan Tangan 125 Pemuda!

Juba – Sudan Selatan, 23 April 2016 [09:38 AM]

Dan untuk beberapa hal tertentu, jarak dan waktu mengekalkan kenangan…

***

Pagi ini saya terbangun sembari mengingat pagi yang sama empat belas hari yang lalu, pagi terakhir yang saya lewatkan bersama 125 orang yang saya temui enam hari sebelumnya. Kami bersama terangkul dalam Persiapan Keberangkatan (PK) 62 sebagai rangkaian prosesi penerimaan beasiswa LPDP.

Seharusnya saya menceritakan padamu bagaimana enam hari yang saya lewatkan dengan dentang waktu yang seakan tak mengenal sekat hari. Malam memanjang hingga ia dapat memeluk pagi, tidur pun menjadi komoditas paling berharga yang setiap detiknya seakan dipancung pendek dan tak pernah menyisakan ruang untuk mimpi datang berkunjung.

Dan mungkin saya pun harus membagi rahasia tentang tumpukan tugas yang datang silih berganti, menggunung dan tampak tak teraih, dengan buas merenggut waktu sempit yang seharusnya saya lewatkan bersama keluarga. Tugas yang sejauh nalar saya berusaha membenarkan, tampak tak memiliki keterikatan dengan profesi maupun rencana saya bersekolah.

Seharusnya saya bercerita padamu tentang tokoh-tokoh yang kami sambut dengan kaki berbanjar dan tepukan meriah, dari pak menteri hingga enterpreneur, dari sang politis hingga sang idealis, individu yang menyuntikkan semangat nasionalisme dan menyisakan kekaguman setiap kali salam terakhir mereka haturkan dan punggung mereka menghilang dari sudut pintu.

Tapi itu kemudian menjadi tidak begitu berarti ketika pembelajaran sesungguhnya datang dari 125 anak muda yang kemudian mengisi hari saya di sebuah aula kecil di Depok.

*** Continue reading

Advertisements

Supernova; Lubang Hitam yang Kini Menutup.

  
Makassar – Indonesia, 3 Maret 2016 [08:19 PM]

Saya mengenal Supernova melalui refleksinya di lembar terakhir Filosofi Kopi pada tahun 2006. Bagi anak muda yang dibuat jatuh cinta oleh religiulitas Hera mencari Herman, saya pun merajah diri dengan nomor keanggotaan mistis dalam tarekat adDEEction. 

Setelah itu, tahun-tahun berikutnya saya seakan terserap kedalam kumparan dunia Dee Lestari di tiap lembar karyanya yg lain; sebut saja Perahu Kertas, Rectoverso dan kepingan favorit saya; Madre.

Tapi berbeda dengan yang lain, saya sengaja mengacuhkan Supernova.

Bagi saya ia layaknya lubang hitam yang terbuka dan tak jelas ujung akhirnya, begitu menarik sehingga saya takut untuk terseret dan menemukan kehampaan tatkala harus beririsan dengan kenyataan bahwa ia adalah sebuah gala yang belum purna, cerita yang aksara-aksara pelanjutnya masih tersembunyi kabut ide dan bersemayam dalam kuil imajinasi seorang Dewi Lestari, tempat dimana ia belum mengizinkan kami -para pembacanya- untuk masuk dan bergumul dengan tokoh-tokoh yang telah bertahun-tahun hidup dalam tiga buku dan merindu kelanjutannya.

Dan selama itu pula, saya turut mengumpulkan buku-buku Supernova…

Jangan tanya sudah berapa kali saya membeli KESATRIA, PUTRI & BINTANG JATUH yang senantiasa berhasil lepas dan menemukan tuan baru di tangan teman atau kerabat yang seakan amnesia saat tanggal janji pengembalian buku telah tiba.

AKAR yang saya beli beberapa tahun yang lalu pun telah berganti sampul dengan coretan tangan adik saya yang -saat itu- tengah belajar menulis di kelas satu. Lembar demi lembar PETIR pun telah menguning di makan waktu tanpa pernah dibuka, layaknya perawan tua yang tak pernah mendapat sentuhan tangan pejantannya.

Saya pun sempat putus asa dan menganggap seri Supernova ini tak akan pernah lengkap. Bodhi dan Elektra tak akan pernah bertemu, Gio selamanya akan hidup dengan tanda tanya besar akan keberadaan Diva dan stagnasi Dimas-Reuben adalah sebuah keabadian. Hal-hal yang saya ketahui melalui beberapa baris narasi disampul belakang KPBJ, Akar dan Petir

Kabar baik itu datang tatkala Partikel akhirnya lahir dari rahim tua serial Supernova. Saya yang saat itu tengah menetap di tenggara Afrika begitu senang mendengar celotehan di dunia maya tentang Zarah dan Fungi yang tampak begitu mistis, rahasia yang terangkai dengan apik melalui pencarian panjang yang membuatnya berpetualang melintas dimensi dan membuat definisi ruang-waktu berelongasi dalam bentuk yang tak lagi solid.

Kemudian berlanjut dengan terbitnya Gelombang dan memperkenalkan kisah perantauan Alfa kepada para pengagum mortalnya yang menantikannya lahir jauh sebelum embrionya tercipta. Tahun itu 2014, dan gelombang rasa suka cita turut pula menghantam saya yang tengah menetap di Pakistan.

Meloncat dua tahun dan Inteligensi Embun Pagi akhirnya terbit. Siapa sangka saya yang tengah menikmati libur panjang di Indonesia dapat memegang buku tebal bersampul putih itu di hari lahirnya! Ada rasa lega yang teramat sangat menyadari bahwa penantian panjang untuk membaca Supernova sebagai sebuah kesatuan tiba pada garis finish. 

Kini saya siap melebur dalam semesta Supernova, menikmati kelahiran kembali sebuah bintang yang telah lama diimpikan dan terjun dalam lubang hitam kisah, intrik, rahasia enam buku ini yang kini menutup sempurna.

Mengambanglah saya disana selamanya, dan itu tak mengapa

Tabik;

H

Saat Kita Menggenapkan Kisah-Kisah Ganjil.

Bogor – Indonesia, 15 Februari 2016 [02:37 PM]

 From   : AR Putri

To        : Me

Halo Kak Husni, 

Perhitungan Kakak tepat sekali, kami sekarang ada di kelas 2 SMA. Beberapa dari kami memang sudah pindah ke sekolah lain, tetapi kita semua still stay in touch with each other.

Senang sekali menerima e-mail dari kakak. Hal ini membangkitkan ingatan bahwa kami pernah ingin mempublish kumpulan cerita yang kami buat berdasarkan artikel yang kakak buat tentang Suku Dani.  Continue reading

ROHINGYA: In a State of The Stateless

“We need you to go to Aceh ASAP?”

It takes just one phone call before I found myself ready for my next assignment. Since I started working in the humanitarian field, there is always a dream of  going back to Indonesia and serve the nation, little did I know that the dream hasn’t been too far away?

I never been to Aceh before, but it is always on the list of province that I would love to visit since my trip to Sumatra back in 2008. I’ve heard fascinating stories about Aceh – The Mecca Solarium (Negeri Serambi Mekah) – where the nation’s heroines born and lived as a legend. When one dig deeper surpasses the Syariah Law, at the tipping point of Indonesia, you can indulge into mile after mile of white sand beach of Weh Island, a world famous dive site and Indonesia’s gem of marine biodiversity.

This special region talks turkey of politique et intric. Most of the adult still solidly remembers the dark and twisted story of the insurgence of Aceh Freedom Movement (Gerakan Aceh Merdeka) that was spread across the region, along with the fall and rise of Aceh during 2004 Tsunami.

Maybe it was the fond memory of sheer kindness of humanity experienced by people in Aceh during Tsunami that moves a group fisherman on the morning of 15 May 2015, that despite being prohibited by the sea police,bravely rescued the boats crammed with Rohingya Refugees and Bangladeshi that have been stranded in Strait of Malacca for weeks.

That was the first arrival of Rohingya refugee in Indonesia.

*** Continue reading

Satu Sore di Lhokseumawe

The story teller

Lhokseumawe – Indonesia, 10 Agustus 2015 [03:06pm]

Seperti yang dikisahkannya pada saya…

Hidupnya tidak jauh dari periuk, sumur dan sepetak warung. Saat muda dulu, sekali-kali ia menghias mata dengan celak hitam tapi itu saat suaminya belum purna. Lama-lama sekali, ia membeli sarung baru di pasar Minggu kota Lhokseukon dan dikenakannya saat hari raya tiba. Walau tinggal tak jauh, saat muda dulu tempat ini urung dikunjunginya. “Tak pantas” katanya.

Anaknya dua, satu wanita ikut suaminya hijrah ke Pidie sejak tahun 2002 dan satunya lagi pria yang terhanyut dalam romansa maskulinitas Aceh di akhir 90an. Saat konflik usai, alih-alih pulang, ia memilih merantau ke Balikpapan. Satu salam saat Lebaran tahun 2005 menjadi perjumpaan terakhir si Mamak dan Buyungnya. Continue reading

Hai Dokter; Singsingkan Lengan Bajumu, Kejarlah Mimpi dan Matilah Sendiri!

Hidup untuk mengabdi dan mengabdi untuk mati, cukup satu kali.

***

Karachi – Pakistan, 17 Juni 2015 [00:30am]

Kala seseorang meninggal, sebagian besar dari kita senang mencari tahu tentang bagaimana ia berpulang, mengulik sisi drama dan berspekulasi tentang elegi yang ditinggalkan almarhum untuk sanak saudaranya? Tapi seringnya saya senang merayakan kehidupan, memutar kenangan baik yang berbekas dalam ingatan serta untuk sekali saja mengizinkan diri saya merasa kehilangan.

Sebagai seorang dokter, saya pun sering berjumpa dengan kematian, mungkin lebih sering dibandingkan probabilitas kamu bertemu dengan teman masa kecilmu saat reuni sekolah berlangsung. Bagi saya, kematian layaknya kawan akrab yang kau temui di warung kopi lewat pukul lima kala waktu kerja telah usai.

Elisabeth Kübler-Ross menulis dalam bukunya bahwa tiap-tiap manusia melewati lima tahapan kala dirundung duka. Berawal dari penyangkalan hingga berujung pada penerimaan, tiap-tiap individu pun melewati tahapan ini dengan jenjang waktu yang berbeda Tetapi tahapan-tahapan itu tampaknya tidak berlaku bagi dokter; kami paham bahwa mati sepasti inti atom matahari yang berfusi, ia berlaku mutlak dan tak ada sangkalan disana. Maka ketika kematian berkunjung, kami mempersilahkannya masuk, memberinya ruang dan mengizinkannya pergi membawa kemenangan atas satu kehidupan yang tak dapat kami selamatkan…

*** Continue reading

Morning Elegance

Saat pagi menguap dari balik tenda-tenda berwarna dan selesap teh hangat mengusir dingin yang meringkuk nyaman sepanjang malam adalah momen yang paling saya senangi dari berkemah. Tak perduli saat itu berarti sebuah pendakian panjang berhari-hari lamanya atau sebuah perjalanan singkat di akhir minggu, bau sekam dari sisa-sisa api unggun semalam yang basah oleh rintik hujan bekerja layaknya kafein pekat yang diteguk para pecandu kopi, memberi semangat! Saat berkemah, alam memainkan peran seorang wanita ramah yang bekerja sebagai pelayan di kedai-kedai kecil di ujung kota, memberi kenyamanan dengan apa adanya. Membuat saya enggan untuk pulang ataupun beranjak pergi dari kekaguman. Tetapi berkemah bagaimanapun senantiasa berarti sementara, satu masa, satu momen, satu kesempatan dan kemudian setelah itu selesai…

Berkemah berganti kata menjadi berkemas…

Mengepak kembali barang-barang saya, melipat tenda-tenda berwarna, mematikan sekam api dengan tanah yang basah dan menyeruput teh terakhir sebelum ia berasa dingin.
Saya membawa pulang semua beban, ransum dan sampah.

Serta meninggalkan satu saja hal: Masalah.

Dan itu lebih dari cukup untuk meringankan perjalanan pulang saya.

Karachi – Pakistan, December 6th 2014 [11:04am]

“Tuhan senang menyimpan orang-orang baik untuk dipertemukan dengan orang-orang baik lainnya”  Sepertinya itu berlaku bagimu dra!

Mungkin kamu sempat bertanya-tanya, apakah takdir manusia layaknya gulungan benang merah di baju-baju gadis Tionghoa? Kusut bergelung, saling memilin tak tentu arah, Semakin kepinggir semakit sulit untuk diretas.

Orang bijak berkata bahwa hidup, mati dan jodoh ada di tangan Tuhan. Saya sempat bertanya-tanya, selebar apakah tangan Tuhan hingga orang baik sepertimu sungguh sulit bertemu jodoh? Saya membuat sebuah perkalian probabilitas bahwa mungkin kamu dan sang jodoh berada di titik polar yang berlawanan, sehingga bagi takdir kalian untuk bersinggungan memerlukan lompatan mekanik maha dashyat. Tapi kali ini saya salah, kamu pun sepertinya salah. Setengah hatimu tak pernah jauh, bukan begitu?

Continue reading

Di titik-titik tertinggi bumi manusia menjura langit, menyadari betapa kecil mereka dibandingkan alam semesta dan segenap isinya. Di kedalaman palung-palung lautan, manusia menjura kegelapan saat mereka menyadari bahwa sungguh sangat sedikit yang mereka ketahui. Manusia memandang tingginya gunung dan dalamnya laut sebagai media untuk ditaklukkan, banyak yang berhasil tapi tidak semua dari mereka akan pulang dengan pelajaran bahwa sesungguhnya mereka tak pernah menaklukkan alam.

Tetapi sejatinya alam menempa mereka untuk dapat menaklukkan batas-batas dalam diri mereka sendiri…

 

nb: picture of Sudirman Range – Mimika, Papua

Summit Is [not] The Limit

Bo – Sierra Leone, 15th January 2014 [11:40am]

“… And I’ll come to Indonesia this August, I hope you will be there!”

Menjadi penutup surat eletronik singkat yang dikirimkan oleh rekan saya Lorna pagi tadi. Suratnya yang hangat menjadi oasis diantara timbunan surat elektronik lain yang harus saya baca dan balas dalam beberapa jam pertama hari ini.

Ini pertama kalinya saya mendengar kabar dari Lorna sejak pertemuan pertama dan terakhir kami di langit Tanzania beberapa bulan yang lalu. Saya yang saat itu dalam penerbangan dari kepulauan Zanzibar menuju Kenya duduk berdampingan dengan seorang gadis berkebangsaan Belanda yang baru saja menamatkan seri perjalanannya melintas dataran selatan Afrika.

Saya bukanlah orang yang senang bercakap dalam pesawat pun bukan orang yang menyenangi transportasi udara. Sebagian besar waktu dalam penerbangan pendek maupun panjang saya lewatkan dengan terlelap, membaca ataupun berdiam diri. Tapi siang itu pandangan saya terkunci oleh pemandangan dari balik jendela saat pesawat kami terbang melintas Kilimanjaro yang berdiri gagah. Pesawat terbang tak terlalu tinggi, bergerak pelan layaknya berenang dalam kumparan awan rendah yang menyelimuti salah satu atap dunia ini. Dengan mata telanjang saya mampu memandang hamparan tipis salju abadi di puncaknya. Siang itu langit membirukan sisi-sisi Kilimanjaro dan saya tak henti-hentinya menekan tombol shutter kamera.

Saya menyenangi cerita akan perjalanan, menyenangi kalimat-kalimat yang meletup dengan semangat dari para muzafir, pejalan dan peziarah. Tiap-tiap dari mereka memiliki titik mula dan tujuan, jarak yang berusaha mereka tebas dengan langkah dan seribu satu alasan untuk memulai sebuah perjalanan. Tapi ujung-ujungnya perjalanan selalu mengantarkan mereka ke penemuan.

Dan penemuan senantiasa bercerita tentang sesuatu yang berbeda, sesuatu yang sederhana.

Penemuan membuat para pejalan menjadi layaknya bayi yang baru menikmati kelima inderanya berfungsi. Saat mereka melihat sisi lain dunia, mengecap petualangan di balik ruang-ruang nyaman mereka, membaui udara, tanah dan busuknya kesenjangan hidup di batas-batas sebuah negeri ataupun merasakan kenyamanan dari sebuah penerimaan dalam budaya yang berbeda.

Lorna salah satu dari mereka, perempuan berusia 19 tahun itu baru menuntaskan perjalanannya dan dalam perjalanan itu ia menemukan satu masa dimana ia memutuskan untuk mereset hidupnya kembali ke titik nol, mengejar sesuatu yang selama ini bahkan tidak pernah terpikir untuk dikejarnya.

“Have you climbed a mountain Husni?” Menjadi kalimat tanya pertama setelah ia tuntas bercerita.

“Yes, several time” Jawab saya.

“Have you climbed Kilimanjaro?” “Ujarnya sembari memandang lepas ke jendela.

“I climbed several mountain in my country but Kilimanjaro indeed is on my bucket list” ujar saya sembari turut memandang keluar.

Kilimanjaro mulai lesap dari pandangan kami, pesawat telah melintas jauh melewati sisi terluar gunung itu. Continue reading