I hate silence, it’s an unspoken language yet I don’t speak. It has a poor translation and emptiness weak. I hate silence, when you are miles away and the language we speak is mere loneliness and million words to read…”

@justhityou

Advertisements

If a tiny fragment of ARVs could work simultaneously to fight the giant pandemic of HIV. Then you wonder why all nations on this giant blue planet couldn’t do the same with the tiny Ebola virus?

my though and love to my dearest colleagues at the frontline, fighting the war against ebola and world’s ignorance!

A Note to All of Us

Every now and then I have this love and hate relationship with media…

Seringnya media membuat saya yang jauh dari rumah bisa melek berita, tapi seminggu terakhir sejak kasus dokter Ayu mulai ramai serta gerakan solidaritas mulai di dengungkan, media semacam memberi kesan negatif tentang dokter.

Sebagai dokter saya tentunya merasa gerah akan berbagai opini negatif, opini-opini dari orang yang dalam semalam berkat bantuan internet tiba-tiba ilmu kedokterannya seakan sederajat dengan keilmuan guru-guru besar saya (tapi sayangnya kelompok yang satu ini keilmuannya tampak seakan tunnel vision saja tanpa melirik kedokteran secara holistik dan sebagai sebuah kesatuan sistem maha kompleks yang membutuhkan lebih dari satu rentang usia manusia untik mempelajarinya) ataupun mereka yang menghujat secara nyaring melalui beragam sosial media.

Saya pun menangkap kesan bahwa dokter semakin kesini semakin menjadi public enemy… Continue reading

“Nowadays we often use the term “proximity” to talk about the doctor-patient relationship. But in fact it is much more than that, it should not limited to the medical act. I often got a question why I choose to be a doctor and later become humanitarian worker. For me this profession is special. It’s the feeling of humanity. Going towards other human being to provide help, it makes us all part of our common humanity, with positive vision of what humanity is, of what mankind is.

Everyday we go and meet the other, knowing that we are all the same, but at the same time we are also different…” ~ tis

People put their faith on us when all we can do is believe in ourself and put our faith into something greater than us: To God, Good Power, Universe or anything you may call him or it. I choose this path of life, be a doctor with all of the consequences, the sacrifices, time that I have devoted. But little do I know that I gain more than just knowledges, fame or any important substances. A doctor is not only a profession, it is a way of life. And by that it will take me more than one life to understand the meaning and to practice medicine perfectly as what the society wants me to be. As a doctor I will NEVER promise you a result but I promise you my effort, my long-life willingness of learning the recent knowledge and God damn knows that oath I have recited at the very first day of my life as a doctor; to help others. By that I don’t need respect but I need your trust and a simple note for all of us to remember.

That no matter how you see me and think of me. I am just an ordinary human like you and I am afraid of ignorance too…

#stopkriminalisasidokter

Dia masih bertanya di belahan bumi manakah saya saat ini, tapi saya merasa jawaban akan tempat tak akan pernah memuaskannya.

Maka saya membalas pesan singkatnya dengan beberapa deret aksara:

“Saya sedang melabuhkan sauh, menikmati tenangnya dermaga hidup hingga tiba waktunya nanti untuk mengangkat jangkar dan berlayar kembali…”

Dan dia pun merangkul jawabannya…

Sebuah nukilan singkat dari janin buku yang tengah saya tulis, semoga suatu hari nanti bisa disentuh oleh jemarimu….

Seringkali saya memaku erat-erat harapan di dalam benak saya. Walaupun saya sendiri mahfum bahwa layaknya dua sisi mata uang, senantiasa ada kesempatan serta kekecewaan yang saling bersisian bersamanya.

Sebutlah saya seorang pemimpi tapi saya percaya bahwa untuk semua harapan dan cita yang tertuang di dalam doa, diluar sana akan selalu ada manusia lain yang setia mengamini. Dan untuk semua doa serta cinta yang terucap di dalam diam, percayalah Tuhan Maha Mendengar…

What I think after a pray tonight…

Saya pernah jatuh cinta, kepada sepasang bola mata hitam dan rambutnya yang kelam serta pada sebaris senyum hangat di wajahnya yang menenangkan. di sudut matanya saya menyimpan rindu, saat dia memanggil nama saya ataupun tiap kali jari-jemari kami bertaut membelenggu, saat dia menyapa melalui barisan aksara ataupun saat kami bertukar sapa melalui suara.

Saya pernah jatuh cinta, saya senantiasa jatuh cinta…

Je pense à mettre ce journal inédit sur ​​mon prochain livre