Ikan Mas Turut Menertawakan Kelemahan Kita

Processed with VSCO with c6 preset

Mungkin ini saatnya untuk berhenti mengumpulkan dan mulai perlahan melepaskan…

London – Inggris Raya, 12 November 2017 [03:04pm]

Satu pagi enam bulan yang lalu saya bangun lebih awal dari biasanya dan bergegas mengeluarkan sebagian besar baju yang menggantung di lemari. Saya memilah pakaian, sepatu, topi, hingga kaos kaki yang terlipat rapi di laci-laci kayu dan memindahkannya ke kantong hitam yang dengan cepat terisi dan menggelembung.

Kotak kardus yang tergeletak di lantai perlahan mulai penuh dengan lembaran kartu pos dari kerabat, beragam hadiah, suvenir yang rutin saya kumpulkan dari berbagai kota dan negara, serta foto yang selama ini telah mengekalkan kenangan saya tentang orang-orang penting yang pernah bersinggungan. Setelahnya, saya menutupnya rapat-rapat, membawanya ke tempat pengumpulan donasi dan melepaskannya pergi mencari tuan yang baru.

Pagi itu saya memandang kamar yang kosong…

Meja belajar saya tak lagi bersolek dengan banyak benda, hanya tumpukan buku yang masih tertinggal di sana.

Lemari saya pun kini tampak telanjang, hanya terisi beberapa lembar baju, celana serta sepatu.

Saya tercenung untuk sesaat, mencoba menelaah keputusan saya satu jam yang lalu untuk melepaskan sebagian besar benda yang telah saya kumpulkan selama beberapa dekade.

Dan saya tidak pernah merasa lebih lapang dan bebas dari saat itu!

*** Continue reading

Advertisements

Tak Ada Filosofi di dalam Kopi Kami Pagi Ini

Processed with VSCO with a2 preset

Matahari di musim gugur layaknya gadis perawan di sarang penyamun, ia menjadi begitu berharga, sehingga kala ia terbit tak ada pekerjaan lain yang lebih penting dibanding menikmati sekejap waktu saat ia bertahta.

***

Winchester – Hampshire, 28 Oktober 2017 [10:25am]

Saat ramalan cuaca memberi tahu bahwa Sabtu ini wilayah tenggara Inggris akan dihujani cahaya matahari, saya dan rekan saya Nick menanggalkan pekerjaan rumah yang menumpuk dan memutuskan untuk mengunjungi Wincester, sebuah kota kecil berjarak 68 mil di tenggara London. Nama Winchester muncul seperti kelinci dari topi pesulap, Nick tetiba teringat nama kota yang pernah didengarnya ini dan menyarankan kami untuk berkunjung kesana.

“I’ll drive us to Winchester, we can go for a walk and lunch before heading back to London in the afternoon” katanya. Saya yang hanya pernah ke tiga kota lain di Inggris selain London tidak akan menolak sebuah ajakan mengunjungi kota baru. Berbekal GPS yang menjadi penunjuk arah dan dua cangkir kopi, kami bergerak meninggalkan London di Sabtu pagi. Saya menyukai kopi yang dikawinkan dengan susu kedelai dan Nick senantiasa memilih kopi pekat yang diseduh cepat.

Bagi saya, kopi adalah ritual, layaknya segelas air dingin saat bangun pagi dan sebait ucapan “selamat malam” yang saya kirimkan saat beranjak tidur untuk adik-adik dan ibu saya. Kopi pun tidak memiliki identitas, kopi yang enak bukan berasal dari biji kopi yang ditanam di tanah dengan nama unik ataupun diseduh dengan beragam metode yang hingga kini tak mampu saya hapalkan satu persatu. Sebagai pembuka hari, kopi cukup dengan sekadar hadir, tak peduli ia terseduh dari teko di dapur, tersedia dalam tiga puluh detik dari restoran cepat saji di sudut jalan, ataupun hadir dalam cangkir tanah liat berhias latte art dari gerai kopi masa kini yang tumbuh layaknya cendawan di musim hujan.

Adalah waktu dan pengalaman yang dihabiskan tatkala mengecap kopi yang menjadikan ia bermakna.

Dan pagi ini, kopi kami berpasangan dengan sejarah dan agama…

*** Continue reading

Rohingya: Disaat Kita Tengah Bersama-sama menjadi Penonton Tragedi Kemanusiaan

Processed with VSCO with a2 preset
“Rohingya Migrants From Myanmar, Shunned by Malaysia, Are Spotted Adrift in Andaman Sea” ~ The New York Times

Di tahun 2015, beberapa ratus pengungsi Rohingya terkatung-katung di selat Melaka, hingga terhanyut di perairan Indonesia. Terpanggil oleh rasa kemanusiaan, sekelompok nelayan Indonesia kemudian membawa mereka mendarat di Aceh. Etnis minoritas dari Myanmar ini menjadi tajuk berita yang terdengar hingga pelosok-pelosok Indonesia. Di kala itu, saya baru saja menuntaskan penugasan saya di Pakistan, Doctors Without Borders kemudian meminta saya ke Aceh untuk melakukan assessment dan mendisain program kesehatan yang dibutuhkan oleh pengungsi. Itu adalah persinggungan pertama saya dengan salah satu krisis kemanusiaan yang paling terpinggirkan dalam sejarah kita.

Cerita para pengungsi Rohingya menarik perhatian saya, epilog hidup mereka tergambarkan penuh dengan duka, nilai mereka sebagai manusia seakan tidak ada harganya. Dari semua krisis kemanusiaan yang pernah saya temui di berbagai belahan dunia, krisis Rohingya layaknya catatan kaki di kamus besar kemanusiaan, tertulis kecil di sudut lembar terakhir dan tak seorang pun berkenan membacanya.

Dan di saat kemanusiaan tak dapat berbicara, adalah tanggung jawab kita sebagai manusia-manusia merdeka untuk menyampaikan pesannya…

***

London – Inggris Raya, 2 September 2017 [01:30pm]

Sejak enam bulan terakhir saya menenggelamkan diri dalam tumpukan literatur terkait krisis Rohingya, saya menjadikannya topik disertasi dan mencoba menarik benang merah antara krisis Rohingya dan kondisi mental para pengungsi yang menetap di Bangladesh. Saya kemudian menganalisis ratusan literatur yang menuliskan tentang krisis kemanusiaan ini, apa yang menjadikan etnis Rohingya manusia-manusia tanpa negara?

Kalau boleh berkata jujur, pekerjaan ini tergolong sulit. Sebagian besar literatur yang memuat perkara Rohingya bersifat “abu-abu”, sangat sedikit literatur ilmiah yang telah melalui proses peer-reviewed yang dapat dijadikan acuan. Sehingga sulit untuk menyimpulkan objektivitas serta validitas literatur-literatur ini. Tetapi, semakin banyak saya membaca dan semakin saya menenggelamkan diri dalam catatan-catatan cerita mereka, semakin saya teryakinkan bahwa kita tengah menjadi penonton sebuah tragedi kemanusiaan besar yang semakin lama tampak semakin runyam.

“Rohingya” mendefinisikan kelompok Islam Sunni yang menetap di utara negara bagian Rakhine, Myanmar. Enam dekade terakhir, kelompok etnis minoritas ini larut dalam konflik dan persekusi yang berakar jauh sebelum Myanmar menjadi sebuah negara merdeka. Sejarah terkait etnis Rohingya pun sesimpang siur penyebab konflik itu sendiri, sebuah catatan yang dituliskan seorang dokter bernama Francis Buchanan merujuk jauh ke abad 17 mendokumentasikan etnis ini sebagai “Rovingaw” atau “Mohammedans” – orang-orang berkulit gelap dan tubuh kokoh yang menjadi pengikut Muhammad –  yang telah mendiami kerajaan Arakan (sekarang menjadi negara bagian Rakhine) sejak abad kesembilan. Di abad ke 18, kekaisaran Inggris yang menjajah selatan Asia dan juga daerah-daerah yang kini menjadi bagian Myanmar kemudian mendukung migrasi besar-besaran “Rovingaw” ke Rakhine, menasbihkan ekslusivitas kepada “Rovingaw” sebagai para pekerja lahan disaat beras menjadi komoditas bernilai tinggi, hal ini menimbulkan rasa iri dan ketidak adilan bagi para penduduk asli Rakhine yang merasa terpinggirkan di tanah mereka sendiri. Layaknya kisah tentang konflik kemanusiaan lainnya yang pernah menumpahkan darah di planet ini, politik dan penjajahan menjadi cikal bakal perpecahan yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Processed with VSCO with a4 preset
“Newly arrived Rohingya migrants gather at Kuala Langsa Port in Langsa, Aceh province, Indonesia, on Friday after coming ashore. Most such migrants have been prevented from making port in Southeast Asia” ~ npr.org

*** Continue reading

Untuknya, Kekasih di Lain Waktu

Photo 3-12-16, 18 05 25

Saya pernah jatuh cinta kepada sepasang bola mata hitam dan rambutnya yang kelam, serta pada sebaris senyum hangat di wajahnya yang menenangkan. Di sudut matanya saya menyimpan rindu, saat dia memanggil nama saya ataupun tiap kali jari-jemari kami bertaut membelenggu, saat dia menyapa melalui barisan aksara ataupun saat kami bertukar sapa melalui suara.

Saya pernah jatuh cinta, saya senantiasa jatuh cinta….

***

Saya tak akan lupa saat pertama kali kami bersua pada suatu senja di lantai tiga. Tawanya renyah terdengar dari kotak-kotak pengeras suara, mendiamkan saya yang tengah berbincang seru. Kemudian menarik saya ke semestanya, berpusar dalam kekaguman.

Saya sudah lupa tentang jejak-jejak sejarah hingga akhirnya kami bersama sebagai sepasang kekasih, teman, rekan, saudara atau apapun mereka menyebutnya. Kami tak pernah memberi tagar atas apa yang kami jalani. Kami membiarkan pengalaman menyimpulkan perasaan.

Di setiap jalur yang saya lalui, saya senantiasa menemukan bait-bait doanya. Salam dan harapannya menjadi kidung penyerta langkah. Saya pun menggantung kenangan tentangnya di ujung-ujung tali sepatu, untuk menemani tiap langkah ke sudut bumi manapun yang saya tempuh.

Pekerjaan memisahkan kami, hidup kami berselang satu malam. Jarak menjadi pembunuh asa, merentangkan kami begitu jauhnya. Saya berusaha tidak menghitung ada berapa juta langkah yang harus saya tempuh untuk pulang dan menemuinya saat rasa rindu yang mendera melanda.

Tapi lebih dari itu, tak ada yang mengalahkan waktu yang seketika menjadi musuh…. Continue reading

Saya; Sang Penghuni Neraka Dunia

64297_10201062422981687_1849617805_n

London – Inggris Raya, 30 April 2017 [06:07pm]

Pernahkah kalian terbangun dari tidur sembari meregang tiap-tiap napas yang kalian hela, sesaat setelah mata kalian terbuka? Layaknya terjungkal dari kematian dan kembali ke bumi!

Kemudian bersyukur bahwa kalian masih hidup untuk satu siklus hari lagi? Saya pernah.

Koreksi, saya sering mengalaminya.

***

Sewaktu kecil, paman saya yang berdagang lintas kota sering membawa pulang buku saku dan komik sebagai hadiah. Satu waktu, ia membawa pulang sebuah komik berjudul “Siksa Neraka”, komik saku dengan sampul dan isi yang mengilustrasikan betapa meradangnya kehidupan dan jiwa-jiwa penghuni alam bawah. Komik itu adalah saripati mimpi buruk masa kecil saya. Ia membuat saya takut pada neraka, takut pada kematian dan berharap tidak akan pernah menjumpainya.

Saya kecil sering membayangkan bahwa malaikat maut adalah sesosok mahluk malam yang akan hadir tatkala saya tertidur dan lengah, menarik jiwa keluar dari raga dan mengakhiri hidup untuk selamanya. Ibu saya yang resah melihat saya kecil yang gelisah mengajarkan sebuah doa untuk menentramkan saya dari mimpi buruk akan kematian, doa yang tak pernah lupa saya tuturkan tiap malamnya sembari berhatap bahwa orang-orang yang saya kasihi akan hidup kekal selamanya.

Beranjak dewasa hingga kini, kematian menjadi begitu akrab. Ia hadir layaknya rival lama di reuni sekolah yang berusaha dihindari karena menghadirkan luka dan mengingatkan kekalahan-kekalahan masa lalu. Menjadi seorang dokter tidak membuatnya lebih mudah, malam-malam panjang di bangsal rumah sakit sering membuat saya memikirkan tentang kematian. Tetapi rasa takut akan tidur untuk tidak terbangun lagi tetaplah menjadi satu mata yang mengerling di sudut-sudut tergelap malam. Ia hadir dalam malam-malam panjang nan gerah di Sudan Selatan, kala suara bedil dan peluru silih berganti terdengar menghiasi jam-jam lewat tengah malam. Setiap malam berselang, bunyi pesawat yang hilir mudik di angkasa tepat diatas barisan tenda-tenda terdengar laksana terompet Sangkakala

“Disaat saya tengah tertidur dan maut menjemput, bagaimanakah rasanya?”

“Apakah denting senapan yang berbunyi sedetik tadi, tengah mengantarkan peluru menembus tenda dan dipan tempat saya tertidur?”

“Mungkinkah pesawat yang tengah lewat tadi baru saja menjatuhkan bom yang mengantarkan saya ke peristirahatan terakhir?”

“Bagaimana mereka akan menguburkan saya nantinya apabila mereka tak mampu lagi mengenali serpihan-serpihan tubuh saya?”

“Bagaimanakah rasanya mati? Apakah saya akan merasakan sensasi nyeri yang tidak terperi? Ataukah tenggelam perlahan dalam keheningan abadi?

Ratusan kali, imajinasi liar tadi berkelebat dalam pikiran saya. Membuat terlelap tidur layaknya pertandingan tinju yang berlangsung lama dan melelahkan.

“Dan ketika orkestra perang tengah dimainkan di sekitar kalian, imajinasi lebih seringnya menjadi realita terburuk yang kalian jumpai”

Seringnya saya memilih untuk terjaga lebih lama, membuat tiap-tiap sel otot di tubuh saya bekerja, memeras peluh hingga akhirnya terhempas kelelahan diatas dipan kayu dan selembar kasur tipis di tengah-tengah kamp pengungsian. Berharap tidur hening tanpa mimpi, yang menjadi tempat berlabuh terbaik dari kumparan ironi yang mengitari tanah ini.

Satu yang seringnya saya syukuri, bahwa hidup masih berpendar cerah setiap harinya. Saya masih bisa terbangun walau dengan tubuh kuyup dan lelah untuk bekerja satu hari lagi, walaupun saya tahu digelapnya malam satu atau beberapa nyawa tengah meregang dan pergi tanpa pernah dikenali. Continue reading

Diambang Kata Penentu



London – Inggris Raya, 11 Januari 2016 [11:52am]

Sebagai pekerja kemanusiaan membuat keputusan yang cermat dan tepat adalah hal penting yang terkadang menjadi pembatas antara hidup dan mati seseorang, keamanan tim ataupun keberhasilan sebuah program. Keputusan seperti ini terkadang harus saya ambil setiap hari tatkala ditugaskan di lapangan. Sebagai kordinator medis, saya pun dituntut untuk dapat melihat sebuah masalah dalam diorama yang lebih besar, dan mengambil keputusan yang tetap mengutamakan kepentingan dan hajat hidup pasien dan orang-orang yang kami tangani dan menyeimbangkannya dengan keamanan tim dan konteks lokal.

Sekarang, bayangkan kalau kamu adalah salah satu pekerja lapangan MSF yang harus berhadapan dengan situasi sulit di tengah krisis kemanusiaan. Seberapa cermat kamu dalam mengambil keputusan?

Mari bermain sebuah permainan, tempatkan diri kalian sebagai pekerja kemanusiaan MSF dalam game ini dan mari belajar tentang peliknya sebuah keputusan.

***

Kidung Malam Ini

Processed with VSCO with a5 preset

London – Inggris Raya, 25 Desember 2016 [05:20 PM]

Kau dan aku adalah lantunan bait-bait yang dinyanyikan alam raya dalam bisunya…

***

Saya melewati gang kecil di sisi selatan Stasiun Euston kala segerombolan anak kecil tengah berbanjar rapi dan melantunkan Christmas Carol. Topi-topi santa menghiasi kepala mereka, tampak sesuai dengan senyum yang mereka kembangkan. Seorang anak berkulit gelap menenteng ember plastik berisi beberapa receh koin dan kertas.

“Would you share your spare for children with Cancer Sir?”

Ia menodongkan ember tersebut ke arah saya yang memelan dan menikmati lantunan nyanyian mereka.

“Sure…” Beberapa receh koin pun saya letakkan.

Tebak saya, usia mereka rata-rata tak lebih dari sepuluh tahun. Gigi mereka bergemeletuk memberi irama pada lagu “Silent Night” yang tengah mereka nyanyikan. Mungkin bagi mereka ini adalah sebentuk kesenangan dan hiburan, tapi tak ada yang dapat menepis sebait pengorbanan disana, berdiri dengan kaki kecilnya, menantang suhu musim dingin London yang senantiasa menggerutu dan tak bersahabat. Semua untuk manusia yang tak mereka kenali nama dan rupanya.

Perayaan agama senantiasa memperlihatkan sisi baik dari manusia, ia hadir dalam rupa Natal ataupun Lebaran yang dapat saya jumpai di belahan bumi manapun saya bersinggungan dengan bulan suci itu. Pada kebiasaan nenek saya yang berbagi setengah pesangon pensiun suaminya sang tentara, untuk pengemis-pengemis yang berderet di pagar kantor pos saat hari raya tiba. Pada kebiasaan rekan saya, seorang pria Malawi bernama Andy yang senantiasa menyelipkan kwacha – kwacha (mata uang Malawi) untuk para wanita tua penderita HIV-AIDS, yang berbagi bangku gereja dengannya kala misa Natal berlangsung. Dan pada tiap-tiap rekan kerja saya, yang meninggalkan kenyamanan dan hangatnya keluarga untuk menjawab panggilan kemanusiaan di sudut-sudut bumi tempat kami bertemu.

Dari mereka saya belajar bahwa dengan berbagi, manusia mencukupkan dirinya.

Continue reading