Saya; Sang Penghuni Neraka Dunia

64297_10201062422981687_1849617805_n

London – Inggris Raya, 30 April 2017 [06:07pm]

Pernahkah kalian terbangun dari tidur sembari meregang tiap-tiap napas yang kalian hela, sesaat setelah mata kalian terbuka? Layaknya terjungkal dari kematian dan kembali ke bumi!

Kemudian bersyukur bahwa kalian masih hidup untuk satu siklus hari lagi? Saya pernah.

Koreksi, saya sering mengalaminya.

***

Sewaktu kecil, paman saya yang berdagang lintas kota sering membawa pulang buku saku dan komik sebagai hadiah. Satu waktu, ia membawa pulang sebuah komik berjudul “Siksa Neraka”, komik saku dengan sampul dan isi yang mengilustrasikan betapa meradangnya kehidupan dan jiwa-jiwa penghuni alam bawah. Komik itu adalah saripati mimpi buruk masa kecil saya. Ia membuat saya takut pada neraka, takut pada kematian dan berharap tidak akan pernah menjumpainya.

Saya kecil sering membayangkan bahwa malaikat maut adalah sesosok mahluk malam yang akan hadir tatkala saya tertidur dan lengah, menarik jiwa keluar dari raga dan mengakhiri hidup untuk selamanya. Ibu saya yang resah melihat saya kecil yang gelisah mengajarkan sebuah doa untuk menentramkan saya dari mimpi buruk akan kematian, doa yang tak pernah lupa saya tuturkan tiap malamnya sembari berhatap bahwa orang-orang yang saya kasihi akan hidup kekal selamanya.

Beranjak dewasa hingga kini, kematian menjadi begitu akrab. Ia hadir layaknya rival lama di reuni sekolah yang berusaha dihindari karena menghadirkan luka dan mengingatkan kekalahan-kekalahan masa lalu. Menjadi seorang dokter tidak membuatnya lebih mudah, malam-malam panjang di bangsal rumah sakit sering membuat saya memikirkan tentang kematian. Tetapi rasa takut akan tidur untuk tidak terbangun lagi tetaplah menjadi satu mata yang mengerling di sudut-sudut tergelap malam. Ia hadir dalam malam-malam panjang nan gerah di Sudan Selatan, kala suara bedil dan peluru silih berganti terdengar menghiasi jam-jam lewat tengah malam. Setiap malam berselang, bunyi pesawat yang hilir mudik di angkasa tepat diatas barisan tenda-tenda terdengar laksana terompet Sangkakala

“Disaat saya tengah tertidur dan maut menjemput, bagaimanakah rasanya?”

“Apakah denting senapan yang berbunyi sedetik tadi, tengah mengantarkan peluru menembus tenda dan dipan tempat saya tertidur?”

“Mungkinkah pesawat yang tengah lewat tadi baru saja menjatuhkan bom yang mengantarkan saya ke peristirahatan terakhir?”

“Bagaimana mereka akan menguburkan saya nantinya apabila mereka tak mampu lagi mengenali serpihan-serpihan tubuh saya?”

“Bagaimanakah rasanya mati? Apakah saya akan merasakan sensasi nyeri yang tidak terperi? Ataukah tenggelam perlahan dalam keheningan abadi?

Ratusan kali, imajinasi liar tadi berkelebat dalam pikiran saya. Membuat terlelap tidur layaknya pertandingan tinju yang berlangsung lama dan melelahkan.

“Dan ketika orkestra perang tengah dimainkan di sekitar kalian, imajinasi lebih seringnya menjadi realita terburuk yang kalian jumpai”

Seringnya saya memilih untuk terjaga lebih lama, membuat tiap-tiap sel otot di tubuh saya bekerja, memeras peluh hingga akhirnya terhempas kelelahan diatas dipan kayu dan selembar kasur tipis di tengah-tengah kamp pengungsian. Berharap tidur hening tanpa mimpi, yang menjadi tempat berlabuh terbaik dari kumparan ironi yang mengitari tanah ini.

Satu yang seringnya saya syukuri, bahwa hidup masih berpendar cerah setiap harinya. Saya masih bisa terbangun walau dengan tubuh kuyup dan lelah untuk bekerja satu hari lagi, walaupun saya tahu digelapnya malam satu atau beberapa nyawa tengah meregang dan pergi tanpa pernah dikenali. Continue reading

Advertisements

Manusia, Tuhan, Cinta dan Meja Makan yang Dibagi Dua

Selçuk – Turkey, 24 December 2014[07:12pm]

“Can I sit here? tanya dia.

Sesaat saya memandang pria itu sebelum menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Have you ordered?” Tanyanya lagi.

“Not yet, it seems there’s only  one waiter and he’s pretty busy” jawab saya sekadarnya.

Beberapa saat kami berdua kembali sibuk dengan layar kecil ponsel kami sebelum pelayan bertubuh tambun dengan serpihan uban keperakan menyapa. Disodorkannya sebuah menu bergambar ke tengah-tengah meja, kemudian perhatiannya kembali terarah pada layar televisi yang tergantung di tengah-tengah ruangan. Continue reading

The Cycle of Everything

Selçuk – Turkey, 24 December 2014 [06:06pm]

“There are two roads, most distant from each other: the one leading to the honorable house of freedom, theother the house of slavery, which mortals must shun. It is possible to travel the one through manliness and lovely accord; so lead your people to this path.” ~ The Oracle of Apollo

***

Matahari tengah menggantung tinggi saat saya tiba di Ephesus siang tadi. Silaunya memberi bayang-bayang lebar yang menutupi setengah Amphiteater-nya yang megah. Pengukur suhu digital di telepon genggam saya menunjukkan angka tujuh, angka yang cukup nyaman di pertengahan musim dingin seperti ini. Saya merapatkan jaket tipis berwarna hitam yang tengah saya kenakan, sembari melayangkan pandang ke sekeliling, Mencoba menikmati momen sekejap.

Sedari kecil saya menyenangi mitologi Yunani dan peradaban Roma. Bagi saya, kisah mereka jauh lebih menarik dibanding komik tebal rekaan penulis-penulis Jepang. Para dewa-dewi Olimpus layaknya superhero yang hidup dalam imajinasi saya. Meskipun kisah mereka jauh dari sempurna -bergelimang intrik, perang, cinta dan kecemburuan- tapi peradaban yang mengagungkan mereka berkembang jauh melintas ruang dan masa. Nama-nama mereka menghiasi langit dalam rupa gugusan bintang, planet hingga bulan-bulan yang mengorbit pelan. Mereka seakan hidup dalam jagad raya yang manusia temukan. Dari peradaban Yunani dan Roma, para filsuf-filsuf yang saya kagumi berasal, ilmu pengetahuan pun berkembang dan lahir layaknya Athena yang lahir dari kepala Zeus yang terbelah.

Mereka membangun kota-kota besar, kuil-kuil pemujaan dan perpustakaan raksasa ribuan tahun sebelum manusia mengenal alat berat dan kendaraan bermesin!

Continue reading

Sip of Morning and Tale of Politic

Karachi-Pakistan, 13th of February 2015 [09:36am]

I decided to start my day by visiting Machar Colony through Liyari Expressway. A highway that currently in a status of dormant from construction is located along Liyari River. It is designed to relieve the traffic of this giant city. The peaceful ambiance creates when I drive for couple of minutes is seldom to find in a city with robust noise echoing from each vein of the small alley.
When we talk about Lyari we talk about a history!
It was a hotbed of radical politics and intellectuals who settled in the aftermath of bloody partition India-Pakistan and still an area where political parties are made or broken. During the era of Zia ul Haq, Lyari sustained the liberal resistance; it becomes the defense base of political activist who risked their lives to fight the oppression of fundamentalist military regime.
A dense populated area locates at the tip of the city. The town is a hub for Pakistan People Party and home for Sheedi community. Gang  war, violent, football and targeted killing makes the town that was known as the oldest part of Karachi now become the epicenter of the most dangerous city in the world.
But for me Lyari is fascinating in many ways, I have visited the town several time. My journey to Liyari began couple of months with a first step to Marie Adelaide Leprosy Centre. I had the picture of violent area at the back of my mind, being ready to rob or attacked, horrendous event was nothing but certainty. But 10 minutes drives crossing small road, passed a series of old British-era buildings in pale yellow and blue color embroidered by street vendor guarded by arm-man in Shalwaar Kameez and thick mustache depicting the old-school hindi actor, slowly ease my worry. It’s an area as other town of Karachi.

Continue reading

Fortune One: Ode of Sierra

Sekeras apa sebuah surel dapat menamparmu?!

Tidak, saya sedang tidak menyampaikan retorika bukan pula berusaha memberimu sebuah pertanyaan filsuf yang mungkin kau temukan jawabannya saat membuka kitab-kitab suci Plato.

Saya sekadar meresonansi sebuah kalimat tanya yang terbersit di dalam otak saya. Pertanyaan itu pun tidak pernah terlintas sebelumnya mengingat surel secara harfiah tidak memiliki massa untuk dapat memberi sebuah rasa.

Pertanyaan itu hadir mengikuti jawabannya saat satu sabtu yang lalu kotak email saya menampilkan sebuah surat dari rekan di benua hitam.

“We are close to win the war Husni, all I can think is how much you want to be here now to end it…”

Pipi saya memerah dan berbagai macam perasaan menggelegak keluar, rasa iri pun bercampur rasa senang, rasa lega bercampur rasa iba, rasa tenang bersinggungan dengan rasa gelisah. Ebola yang menjadi mimpi buruk kami berbulan-bulan lamanya, perlahan mulai kalah.

Saya merasa tertampar tak bisa turun tangan bersama rekan-rekan saya di garis depan melawan salah satu virus paling mematikan di dunia ini.

***

Continue reading

Morning Elegance

Saat pagi menguap dari balik tenda-tenda berwarna dan selesap teh hangat mengusir dingin yang meringkuk nyaman sepanjang malam adalah momen yang paling saya senangi dari berkemah. Tak perduli saat itu berarti sebuah pendakian panjang berhari-hari lamanya atau sebuah perjalanan singkat di akhir minggu, bau sekam dari sisa-sisa api unggun semalam yang basah oleh rintik hujan bekerja layaknya kafein pekat yang diteguk para pecandu kopi, memberi semangat! Saat berkemah, alam memainkan peran seorang wanita ramah yang bekerja sebagai pelayan di kedai-kedai kecil di ujung kota, memberi kenyamanan dengan apa adanya. Membuat saya enggan untuk pulang ataupun beranjak pergi dari kekaguman. Tetapi berkemah bagaimanapun senantiasa berarti sementara, satu masa, satu momen, satu kesempatan dan kemudian setelah itu selesai…

Berkemah berganti kata menjadi berkemas…

Mengepak kembali barang-barang saya, melipat tenda-tenda berwarna, mematikan sekam api dengan tanah yang basah dan menyeruput teh terakhir sebelum ia berasa dingin.
Saya membawa pulang semua beban, ransum dan sampah.

Serta meninggalkan satu saja hal: Masalah.

Dan itu lebih dari cukup untuk meringankan perjalanan pulang saya.

Harapan tertinggi saya?

Sederhana saja: Saya hanya butuh hidup yang tenang, bersinergi dengan alam dan segenap isinya, menghormati kehidupan sebagaimana tiap entitas itu mencintai penciptanya dengan caranya masing-masing. Saya ingin menua dengan bahagia, melewatkan masa-masa muda dengan petualangan dan rangkaian cerita belajar serta menghargai kehidupan dan menghormati tiap-tiap kepercayaan yang ada.
Berjalan mengajarkan saya bahwa tradisi bukanlah ritual belaka. Di tiap-tiap lekuk kisah dan sejarah selalu terselip doa untuk pencipta jagad raya. Berjalan bukan hanya perkara mendatangi tempat-tempat yang indah, ia mengajarkan saya arti hakiki dari berziarah.

Ya. Saya menziarahi bumi, rumah yang tak urung saya kenali tiap ruangnya…

Romance of Pakistan

Karachi – Pakistan, December 13th 2014 [10:22am]

 Jika kalian lelah seperti saya, mari sebentar saja berjalan-jalan dalam cerita…

***

Ayah saya pernah bercerita tentang destinasi impiannya; Hippie Trail, sebuah jalur alternatif yang membentang dari negara-negara di Eropa, melintas Iran, Syria, Pakistan, Afghanistan dan India sebelum berakhir di pinggir-pinggir pantai di Bangladesh atau Thailand. Jalur ini menjadi salah satu favorit para pejalan hippie atau bagi mereka yang mencari pencerahan dari filsuf-filsuf timur.

Hingga awal tahun 70an Iran, Syria dan Pakistan membuka pintunya lebar-lebar bagi para pelancong lintas benua. Negara-negara itu menjadi surga yang dapat dijangkau hanya dengan menumpang kereta. Anak-anak muda Eropa dengan tampang kucel dan baju seadanya dengan mudah dijumpai sedang bersantai sembari menghisap Hashish di atap-atap motel murah di Peshawar ataupun Lahore.

Cerita berubah saat Rusia menginvasi Afghanistan dan Iran terlibat sengketa dengan tetangganya Irak, Hippie Trail menjadi terlalu berbahaya untuk disebut sebagai destinasi wisata. Pintu surga itu pun tertutup rapat-rapat saat gelombang revolusi Islam memasuki Pakistan. Wajah negara ini pun berubah, sejak saat itu hingga kini.

***

Continue reading

[Dis]connected

Machar Colony – Karachi, September 20th 2014 [08:22pm]

 Kemana saja selama ini?

Untuk sekian kali pertanyaan ini berdering menyertai ikon kecil pesan di ponsel saya.

Kemana saja selama ini?

Menjadi pertanyaan surel yang ditujukan ke email ataupun blog saya oleh beberapa orang yang senantiasa setia berkunjung.

Kemana saja selama ini?

Menyertai segudang pertanyaan lain dari orang-orang terdekat saya, mereka yang mengikuti rentetan cerita yang tertulis pun lisan tersampaikan. Mereka yang rutin mengingatkan untuk senantiasa berkirim kabar dan mereka yang merindu dalam nada kesal dan pesan-pesan dalam huruf kapital.

Continue reading

Bukankah kita mencintai kemungkinan? Membiarkannya mekar di tiap-tiap kesempatan? Mencintai masa sekarang, tapi juga menyimpan rindu kepada masa lalu dan berharap penuh pada masa depan.

Terkadang rasa suka kita kepada rasa melebihi rasa suka kita kepada realita. Terkadang kita senang menebak kemungkinan, memikirkan tiap peluang baik yang dapat ditemui di tiap sudut persinggungan dan melapangkan perasaan untuk diisi dengan mimpi-mimpi indah yang jauh dari jangkauan.

Dan terkadang lupa ada harga yang harus dibayar untuk tiap hal yang manusia pikirkan ataupun rasakan; Waktu.

Dan waktu memiliki satuan tertentu, yang sayangnya tak dapat diisi kembali  penuh….