Fortune One: Ode of Sierra

Sekeras apa sebuah surel dapat menamparmu?!

Tidak, saya sedang tidak menyampaikan retorika bukan pula berusaha memberimu sebuah pertanyaan filsuf yang mungkin kau temukan jawabannya saat membuka kitab-kitab suci Plato.

Saya sekadar meresonansi sebuah kalimat tanya yang terbersit di dalam otak saya. Pertanyaan itu pun tidak pernah terlintas sebelumnya mengingat surel secara harfiah tidak memiliki massa untuk dapat memberi sebuah rasa.

Pertanyaan itu hadir mengikuti jawabannya saat satu sabtu yang lalu kotak email saya menampilkan sebuah surat dari rekan di benua hitam.

“We are close to win the war Husni, all I can think is how much you want to be here now to end it…”

Pipi saya memerah dan berbagai macam perasaan menggelegak keluar, rasa iri pun bercampur rasa senang, rasa lega bercampur rasa iba, rasa tenang bersinggungan dengan rasa gelisah. Ebola yang menjadi mimpi buruk kami berbulan-bulan lamanya, perlahan mulai kalah.

Saya merasa tertampar tak bisa turun tangan bersama rekan-rekan saya di garis depan melawan salah satu virus paling mematikan di dunia ini.

***

Continue reading

Advertisements

Satu Koma Enam Satu Delapan

Begini awal mulanya…

Di suatu petang di bulan November, di tengah perjalanan panjang trans-liberia yang tengah saya tempuh, rombongan kami berhenti sejenak di sebuah desa bernama Lombe. Kala itu kami berniat melewatkan sebuah pekan di pulau Tiwai, sebuah pulau besar di tengah-tengah sungai Moa yang melintasi Sierra Leone, Liberia dan berakhir di delta niger – Nigeria.

Pulau Tiwai menjadi salah satu dari sedikit destinasi alam liar yang dapat dijangkau dengan jalan darat dari kota tempat saya bermungkim. Sejak dahulu, Tiwai telah dikenal sebagai daerah suaka bagi primata. Pulau yang luasnya tak lebih dari dua lapangan bola menjadi rumah bagi sebelas jenis primata dan great apes. Peneliti eropa sejak awal tahun 50an menasbihkannya menjadi salah satu daerah dengan kekayaan primata terbesar di dunia.

Tiwai menjadi rumah bagi  monyet Diana yang langka, menjadi ekosistem alami bagi monyet Kolobus Merah beserta koloninya dan juga tempat persembunyian Chimpanzee Hitam Afrika yang semakin sulit ditemui.

Saya menyebut Tiwai sebagai daerah suaka, tempat perlindungan bagi primata yang terancam punah, sungai Moa yang lebar serta buaya-buaya Nigeria yang mendiaminya menjadi pelindung alami para primata dari pemangsa utama mereka; Manusia. Continue reading

Satu Pagi di Barat Afrika

Freetown – Sierra Leone, 9 February 2014 [06:06am]

Tiap-tiap manusia berkisah dengan inderanya pun dengan lakunya. Tiap-tiap dari kita adalah sebuah buku yang terbuka dan dapat dibaca oleh siapa saja yang dapat menerjemahkan aksara tak tertulis. Manusia menorehkan cerita hidup dalam ruang bidang yang beragam, seperti kota ini serta misteri pagi yang disembulkannya setiap hari.

Kabut bergulir dari puncak-puncak bukit yang memagar peninsula jauh sebelum matahari terbit, bertingkat-tingkat layaknya gulungan ombak kemudian meluruh hilang saat menyentuh pesisir-pesisir pantai yang mengecup pinggir samudera Atlantis, sebuah pertujukan alam maha megah yang ditampilkan setiap pagi.

Sepuluh tahun yang lalu, saya tak akan mampu berdiri disini sembari memandang kota, karena sebutir peluru akan dengan mudah terbenam di batok kepala saya. Saya akan menjadi salah satu dari ratusan ribu manusia tanpa nama yang hanya terekam sebagai bagian sejarah dari salah satu perang saudara terburuk di benua Afrika.

Perang tak pernah mengenal kata belas kasihan dan toleransi, ia layaknya sebatang besi panas yang melelehkan tiap balok es yang disentuhnya hingga tak menyisakan satu pun atom yang mewujud benda ataupun layaknya titik yang menamatkan tiap cerita, tanpa menyisakan satu pun kata sesudahnya. Continue reading

Saya senang berlari!

Berlari membuat saya dapat mempercepat perpindahan, mengubah lampau menjadi kekinian. Berlari pun memperpendek jarak, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan kegagalan.
Di rumah sakit ini saya berlari hampir setiap saat, saat kode merah menyala dan salah satu dari ratusan anak di bangsal kami kembali meregang nyawa. Mungkin pengantar pizza atau pak pos yang sering bertandang ke rumah akan kagum melihat saya begitu seringnya berlari dari satu bangsal ke bangsal lain, layaknya mereka.
Saat berlari saya tak pernah menatap ke bawah pun menoleh ke belakang. Berlari memfokuskan tujuan, memaksa saya meninggalkan segala sesuatu yang bukan menjadi proritas.
Tapi akhir-akhir ini saya mulai menyadari bahwa berlari membuat waktu tampak memelan dan terkadang saya ingin sebentar saja berjalan pelan…

Little Adult

“For in every adult there dwells the child that was, and in every child there lies the adult that will be.” ~ John Connolly

***

Sewaktu saya kecil, saya sering bertanya-tanya berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menjadi dewasa? Saat itu saya mengartikan dewasa sebagai sebuah puncak kebebasan, selebrasi atas pencapaian usia yang membuat saya dapat melewati batasan-batasan yang selama ini mengungkung saya.

Saat saya dewasa tak ada lagi bapak yang akan mempertanyakan kenapa saya pulang pagi hari ini, tak ada lagi rasa was-was harus mengendarai motor tanpa takut di tilang karena tak memiliki SIM, saya bebas berpacaran tanpa malu-malu bergandengan tangan dan akhirnya mengantongi kartu tanda penduduk serta ikut pemilihan umum untuk pertama kalinya.

Dewasa sejatinya merunut usia, tolak ukur yang paling mudah untuk dijadikan acuan. Saat usiamu mencapai bilangan tertentu maka kedewasaan seharusnya ikut ditasbihkan ke dalam dirimu. Tapi seringnya saya mendengar bahwa dewasa itu adalah sebuah pilihan, bahwa tidak semua yang menua semerta-merta ikut menjadi dewasa, saya merasa itu ada benarnya juga. Dewasa dan usia layaknya Theseus dan Centaur dalam Labirin Kreta, di mana ia harus memilih lorong tepat sembari berpacu dengan Centaur yang terus menerus memburunya. Pilihan ada dimana-mana beberapa mengajarkanmu kebijakan sisanya hanya menjerumuskanmu pada penyesalan.

Dewasa adalah sebuah pilihan? Bagaimana jika dewasa adalah sebuah keterpaksaan?

*** Continue reading

Senja dan Epilog Akhir Tahun

Bo – Sierra Leone, 31st December 2013 [06:22pm]

Jangan bilang-bilang kalau saya membagimu satu rahasia:

Saya menyukai kamar jenazah….

***

Saat rumah sakit ini dibangun belasan tahun yang lalu, mereka menempatkan kamar jenazah jauh di sudut belakang, ukurannya hanya beberapa petak saja dengan kisi-kisi tipis berbalur cat putih bersih, dindingnya pun kini hampir menyatu dengan pagar. Sebuah lampu neon menggantung di langit-langitnya, satu bilah dipan kayu, sebuah kursi dan jendela mungil yang memungkinkan saya memandang ke gugusan bukit berhias rimbun hutan mungil di belakang rumah sakit kami.

Rumah sakit tempat saya ditugaskan kali ini bernama Gondama Referral Centre, sebuah rumah sakit sederhana di timur Sierra Leone yang mengkhususkan diri untuk menangani anak-anak sejak hari pertama kehidupan mereka hingga berusia lima belas tahun.

Bukan tanpa alasan rumah sakit ini dikhususkan, Sierra Leone menempati posisi pertama sebagai negara dengan tingkat kematian anak tertinggi di dunia. Tiap harinya rumah sakit kami menampung lebih dari ratusan pasien, mulai dari bayi mungil yang lahir prematur hingga anak-anak yang datang dengan kondisi kejang hingga koma. Continue reading

Back to The Black Continent

Freetown – Sierra Leone, 27 October 2013 [10:22am]

Pergilah mencari dan sampaikan pada saya saat suatu hari nanti, di sebuah sudut bumi kamu menemukan satu orang saja yang mencintai ketidaknyamanan.

***

Diberinya saya waktu beberapa minggu untuk beristirahat, menikmati rumah dan makanan buatan tangan ibu saya. Masih banyak cerita dan kenangan tentang Sudan Selatan yang belum saya tulis dan paparkan, saya masih harus kembali membiasakan diri tidur tenang tanpa dentuman suara senapan dan kini pekerjaan kembali membawa saya melintas samudera, ke sebuah negara di barat Afrika: Sierra Leone.

Kini sebuah negeri yang namanya akrab di telinga.

Continue reading