Saat Kita Menggenapkan Kisah-Kisah Ganjil.

Bogor – Indonesia, 15 Februari 2016 [02:37 PM]

 From   : AR Putri

To        : Me

Halo Kak Husni, 

Perhitungan Kakak tepat sekali, kami sekarang ada di kelas 2 SMA. Beberapa dari kami memang sudah pindah ke sekolah lain, tetapi kita semua still stay in touch with each other.

Senang sekali menerima e-mail dari kakak. Hal ini membangkitkan ingatan bahwa kami pernah ingin mempublish kumpulan cerita yang kami buat berdasarkan artikel yang kakak buat tentang Suku Dani.  Continue reading

Advertisements

Saat Kita Terpilin Dalam Jaring-Jaring Kemungkinan

Satu pagi di bulan Mei saat tanah Sudan Selatan tengah membara dihantam terik dan kaki-kaki telanjang legam dan hitam tengah retak kala bercumbu dengan tanah negeri muda ini.

Sebuah surel mengisi kotak pesan saya dan menjadi awal cerita lintas benua dan masa ini…

***

Bogor – Indonesia, 7 Mei 2013 [12:47 PM] 

From   : AR Putri

To        : Me

Dear Kak Husni Mubarak Zainal,

Kami adalah siswa-siswi kelas 8 dari Sekolah Nasional Plus Bogor Raya, Bogor yang terdiri dari kelas 8A dan 8B, berjumlah 48 siswa. Kami ingin berkenalan dengan kakak melalui email ini. Mungkin Kak Husni bingung, mengapa tiba-tiba kami  menghubungi Kak Husni, yang ternyata sekarang tidak tinggal di Indonesia lagi, melainkan di Malawi, Afrika. Ada cerita di balik keinginan kami mencari jejak dimana Kak Husni berada. Cerita itulah yang mendorong kami berusaha mencari tahu dimana keberadaan Kak Husni saat ini. Agak sedikit sulit menemukan alamat email Kak Husni, tapi untunglah akhirnya kami dapat menemukannya. Begini ceritanya: Continue reading

Satu Cerita dalam Ratusan Langkah 

Pernah empat kali dalam hidup saya menandai batas kemampuan fisik dan mental saya dengan pencapaian yang tidak pernah saya duga sebelumnya…

***

Yang pertama di tahun 2004, kala itu usia saya 19 tahun, dengan tubuh ceking dan fisik pas-pasan saya ditugaskan sebagai tim medis di sebuah Lomba Cross Country Wisata. Semua rencana menjadi bencana tatkala saya dan seorang adik kelas terpisah dari rombongan utama, membuat kami harus menjelajah rimba dan melintas dua lembah dalam dua malam, tanpa tenda, peta dan penerang. Tak ada api untuk mengubah berliter-liter beras di pundak saya menjadi nasi, serta tak ada jubah tenda untuk membangun kerangka-kerangka besi di tas saya menjadi tempat berteduh kala hujan deras di malam pertama, kami tidur beralaskan tanah dan berselimut satu ponco.

Dua hari kami bertahan dengan air hujan dan segumpal gula merah yang kami jilati kala perut keroncongan atau kepala mulai pening akibat kekurangan energi. Kesialan bertambah saat sepatu adik kelas saya rusak, kami yang berusaha memburu jejak matahari harus melambat mengikuti ritmenya. Saya pun memutuskan untuk memberikan sepatu saya padanya dan berjalan dengan satu kaos kaki bolong melintas hutan, gunung, menyisir lembah dan menepis semut-semut merah dan lintah yang tak henti-hentinya bergantungan di sela-sela kaki dan betis saya.

Beruntung di malam kedua kami bertemu dengan rombongan utama dan berhasil pulang dengan selamat. Sejak itu saya belajar; Agar jangan pernah mendaki gunung tanpa kaos kaki cadangan dan senantiasa menyelipkan gula merah dan doa di sela-sela langkah.

Yang kedua di tahun 2013. Kala itu saya dan dua orang teman bersepeda melintas desa Tikongko menuju kota Bo di Sierra Leone. 50 kilometer seakan meregang saat matahari di atas kami menguapkan tiap jengkal keringat. Suhu siang itu mencapai 40 derajat dan Ramadhan tak membuat hari menjadi lebih mudah.

Kerongkongan saya kering kerontang tapi saya berusaha sekuat tenaga untuk menepis rasa haus jauh-jauh. Sial lagi-lagi menghampiri dan salah satu rekan saya tak lagi kuat mengayuh pedal, menyisakan saya dan seorang wanita yang harus menggotong sepeda dan menopangnya hingga temaram lampu kota terlihat di kejauhan.

Sejak saat itu, tak lagi-lagi saya menerima ajakan bersepeda!

Yang ketiga kala usia saya 22 tahun. Di ICU salah satu rumah sakit, ayah saya menghembuskan napas terakhirnya. Setelah berbulan-bulan berjuang melawan Leukimia akhirnya di satu siang perjalanan beliau pun purna. Waktu seakan berhenti kala monitor di sisi kirinya tak lagi menandakan ia ada. Saya masih membisikinya lantunan ayat suci, genggamannya pun masih hangat terasa. Isak tangis Ibu dan adik-adik saya membuncah seketika, tak lama berselang tubuh kaku beliau telah basah oleh tangis hangat kerabat dan saudara.

Tapi ada sesuatu yang membuat saya tak meneteskan air mata, sesuatu yang tak saya ketahui mengapa. Saya memeluk keluarga saya yang kini tak lagi sempurna, menimang adinda saya yang terkecil dan tak urung menangisi kepergian ayah saya.

Beberapa minggu berselang setelah pemakamannya dan saya tengah merapikan jejelan baju yang menggunung, saya terantuk pada potongan tiket bioskop terakhir yang saya dan ayah saya kunjungi, beberapa hari sebelum ia pergi. Saya memandangnya lekat-lekat dan tanpa saya sadari air mata saya pun jatuh pelan-pelan.

Saya menangis. Terisak sendiri menyadari besarnya tanggung jawab yang kini saya emban, menyadari tak ada lagi ayah yang menjadi pelarian segala remeh temeh masalah hidup, enam kepala yang kini akan mendongak kepada saya saat dirudung masalah dan masa depan yang mau tak mau harus saya tantang sendiri. Sejak saat itu saya menutup lembaran hidup sebagai pemuda dan melangkah menjadi lelaki dewasa serta kepala keluarga.

Yang keempat?

Saya akan menceritakan sedikit lebih panjang tentang itu…

*** Continue reading

Cerita Tentang Kamu. Dan Hal-hal yang Tak Terlisankan.

 
 Lima – Peru, 27 Oktober 2015 [00:07am]

Saya melintas setengah lingkar bumi dalam empat puluh jam terakhir! 

Dan masih belum percaya bahwa saya baru saja menggenapkan daftar penerbangan tergila saya; Afrika ke Latin Amerika! Dari Atlantis ke Pasifik, transit di empat negara, saya bisa memberimu hipotesa baru tentang cara menilai sebuah bandara dari empuknya jejeran kursi di ruang tunggu atau menornya dandanan petugas informasi. 

Tapi mari menyimpan cerita itu untuk lain waktu karena malam ini untukmu.

Cerita tentang kamu. 

Ya kamu yang telah menyempatkan diri dan membagi waktumu untuk berkunjung kesini. 

Saya teringat beberapa tahun yang lalu saat pertama kali mulai berbagi cerita di blog, pekerjaan yang pada mulanya adalah media bagi saya untuk mencegah stress dan berkontemplasi tentang hidup saya dan hidup orang-orang di sekitar saya tak lebih dari ruang pribadi. Hingga kalian datang dan menjadikannya rumah kalian, cerita kalian dan kisah-kisah yang melengkapi kisah yang bertunas disini.

Di saat saya merasa jatuh, membaca pesan dan apresiasi kalian senantiasa menyemangatkan. Tak jarang pesan-pesan yang kalian berikan bagi orang-orang di blog ini, pasien-pasien yang pernah saya tuliskan disini sebisa mungkin saya antarkan ke tujuannya. Dan untuk itu saya harus memberitahumu tentang betapa bahagianya mereka mengetahui bahwa di balik batas-batas yang mereka kenal, ada orang asing yang menyampaikan salam dan  mendoakan. Oh Tuhan! Seandainya saja kalian bisa melihat semburat senyum atau gelak demi gelak tawa mereka, dua hal yang tak dapat saya temukan padanan diksi sempurna untuk menggambarkannya. 

Terima kasih!

Continue reading

Aturan Aritmatika di Pantai Monrovia

Monrovia – Liberia, 24 Oktober 2015 [09:12am]

Pagi-pagi sekali saya merapikan diri dan bergegas ke teras belakang penginapan. Jalan pagi itu sedang lengang-lengangnya dan pokok bunga kamboja yang ditanam pemilik hotel masih basah oleh hujan semalam.

Sudah dua bulan saya menetap di Liberia tapi belum sekali pun pernah menginjakkan kaki di daerah pesisirnya. Sebagai anak yang besar di pantai, saya seakan menjadi pecundang dan ingin menutup muka karena malu layaknya seorang kemenakan kualat yang saban kali bertandang ke kota tak pernah singgah di rumah tantenya.

Tiap kali ke Monrovia, saya meniatkan diri untuk berziarah ke pantai, tetapi tiap kali pula pekerjaan membuat saya alpa – alasan ini pun terdengar pengecut – . Kesempatan itu akhirnya datang saat rekan saya Emmanuel menawarkan diri untuk menunjukkan saya pesisir Monrovia, keberuntungan kuadrat saat kantor menempatkan saya di salah satu hotel yang bertetangga dengan batas laut.

Pantai-pantai yang memagar barat Afrika cukup melegenda, ombaknya yang ganas dan cekungan teluk yang curam kala air pasang datang menjadikannya objek wisata yang diminati banyak peselancar. Dikala perang sipil berhenti, gelombang peselancar mulai sering terlihat di sepanjang pantai ELWA, Roberton dan Silver. Bisnis penginapan, bar dan rumah makan di sepanjang pesisir pun tumbuh satu persatu. Lantunan reggae dan pop Nigeria terdengar tiap malam, bersahut-sahutan seakan meneriaki lautan.

Pesisir pantai di Monrovia
Pesisir pantai di Monrovia

Semua itu berubah sejak setahun terakhir, wabah Ebola seakan menyapu bersih ekonomi negeri ini, membalik banyak kursi dan menutup pintu-pintu rejeki.

*** Continue reading

The Science of Smile [ Ebola; Past and Present]

Phebe – Liberia, 15th October 2015 [05:09PM]

Back in the 19th century, the great American psychologist William James proposed that our facial expression and other bodily changes are not the consequence of our emotional feelings, but the cause. There is also evidence that our facial expressions change the way we perceive the world. More theory, hypothesis and reseacrh have been published in the following years.

Unanimously, science has debunked the face of happiness.

Continue reading

Evolve or Revolve?

  
Phebe – Liberia, 08th October 2015 [05:25pm]

Every afternoon when I just finished with work at the hospital, I saw this girl sitting at the exact stone bench, carrying the exact silver bowl and smiling the exact way when I waved my hands toward her. She then waiting for costumer under the big tree outside of the hospital compound, often until the sun sets or earlier when the rumble sound of thunder approaching.  

Have you ever imagined how’s your life would be if you revolved in the same pattern, routine or even people? 

Over and over? 

As if your universe is a giant tree and you mere a tiny leaf waiting autumn to comes and then fall into the ground, composed. 

Some might think it’s tidious, that life is not supposed to be a vicious cycle of boredoms, that human born to explore and it’s the nature of our species to evolve not revolve.

But the fact is, not all of us has the privilege to travel, to see what beyond the horizon or to experience sun light when our loved ones succumbed in a dark night or to answer the dreamy question of a purpose of life.

Some people also feel content with the tiny world of their surroundings. To think that exploration only for those who seek for completeness in their seemingly empty life. 

In a matter of fact, people will stops seeking, exploring or asking when they finally found what they’ve been looking for, no?

So maybe life is not about seeking for an answer, but knowing what to question.

Because in a matter of fact, not every question in this tangible universe [unfortunately] has an answer…

Kisah Tiga dan Dewasa

Palu – Sulawesi Tengah, 23 Maret 2009 [08:50am]

Senja belum beranjak kala tiga orang sahabat duduk dengan tampang resah sembari memandang lurus cakrawala di pantai itu. Air muka si Bulan yang manis, senja itu tampak redup. Sang Surya yang senantiasa perkasa, luluh terduduk. Ia Tak bergeming walau sapuan ombak telah membasahi setengah batang kakinya. Sedang Awan yang periang belum mengerti resah yang tengah menggumuli kedua karibnya itu.

Aku takut” ujar si Bulan memecah senyap senja itu.

Sebentar lagi dewasa akan datang, ia akan menelan mimpiku. Aku cuma punya satu dan masih ingin bersamanya” ujarnya pelan. Kata-katanya yang lembut memeluk sore layaknya seorang gadis memeluk boneka kesayangannya, semakin lama semakin erat.

Mengapa dewasa harus datang?” Ia terisak.

Konsentrasinya tertuju pada mimpi dan cita-nya, ia tak ingin melepasnya dan takut bahwa dewasa akan merenggutnya sebentar lagi.

“Ia ingin lari bersama mimpinya, mimpi mungilnya….”

Continue reading

ROHINGYA: In a State of The Stateless

“We need you to go to Aceh ASAP?”

It takes just one phone call before I found myself ready for my next assignment. Since I started working in the humanitarian field, there is always a dream of  going back to Indonesia and serve the nation, little did I know that the dream hasn’t been too far away?

I never been to Aceh before, but it is always on the list of province that I would love to visit since my trip to Sumatra back in 2008. I’ve heard fascinating stories about Aceh – The Mecca Solarium (Negeri Serambi Mekah) – where the nation’s heroines born and lived as a legend. When one dig deeper surpasses the Syariah Law, at the tipping point of Indonesia, you can indulge into mile after mile of white sand beach of Weh Island, a world famous dive site and Indonesia’s gem of marine biodiversity.

This special region talks turkey of politique et intric. Most of the adult still solidly remembers the dark and twisted story of the insurgence of Aceh Freedom Movement (Gerakan Aceh Merdeka) that was spread across the region, along with the fall and rise of Aceh during 2004 Tsunami.

Maybe it was the fond memory of sheer kindness of humanity experienced by people in Aceh during Tsunami that moves a group fisherman on the morning of 15 May 2015, that despite being prohibited by the sea police,bravely rescued the boats crammed with Rohingya Refugees and Bangladeshi that have been stranded in Strait of Malacca for weeks.

That was the first arrival of Rohingya refugee in Indonesia.

*** Continue reading

Satu Sore di Lhokseumawe

The story teller

Lhokseumawe – Indonesia, 10 Agustus 2015 [03:06pm]

Seperti yang dikisahkannya pada saya…

Hidupnya tidak jauh dari periuk, sumur dan sepetak warung. Saat muda dulu, sekali-kali ia menghias mata dengan celak hitam tapi itu saat suaminya belum purna. Lama-lama sekali, ia membeli sarung baru di pasar Minggu kota Lhokseukon dan dikenakannya saat hari raya tiba. Walau tinggal tak jauh, saat muda dulu tempat ini urung dikunjunginya. “Tak pantas” katanya.

Anaknya dua, satu wanita ikut suaminya hijrah ke Pidie sejak tahun 2002 dan satunya lagi pria yang terhanyut dalam romansa maskulinitas Aceh di akhir 90an. Saat konflik usai, alih-alih pulang, ia memilih merantau ke Balikpapan. Satu salam saat Lebaran tahun 2005 menjadi perjumpaan terakhir si Mamak dan Buyungnya. Continue reading