The Science of Smile [ Ebola; Past and Present]

Phebe – Liberia, 15th October 2015 [05:09PM]

Back in the 19th century, the great American psychologist William James proposed that our facial expression and other bodily changes are not the consequence of our emotional feelings, but the cause. There is also evidence that our facial expressions change the way we perceive the world. More theory, hypothesis and reseacrh have been published in the following years.

Unanimously, science has debunked the face of happiness.

Continue reading

Advertisements

Evolve or Revolve?

  
Phebe – Liberia, 08th October 2015 [05:25pm]

Every afternoon when I just finished with work at the hospital, I saw this girl sitting at the exact stone bench, carrying the exact silver bowl and smiling the exact way when I waved my hands toward her. She then waiting for costumer under the big tree outside of the hospital compound, often until the sun sets or earlier when the rumble sound of thunder approaching.  

Have you ever imagined how’s your life would be if you revolved in the same pattern, routine or even people? 

Over and over? 

As if your universe is a giant tree and you mere a tiny leaf waiting autumn to comes and then fall into the ground, composed. 

Some might think it’s tidious, that life is not supposed to be a vicious cycle of boredoms, that human born to explore and it’s the nature of our species to evolve not revolve.

But the fact is, not all of us has the privilege to travel, to see what beyond the horizon or to experience sun light when our loved ones succumbed in a dark night or to answer the dreamy question of a purpose of life.

Some people also feel content with the tiny world of their surroundings. To think that exploration only for those who seek for completeness in their seemingly empty life. 

In a matter of fact, people will stops seeking, exploring or asking when they finally found what they’ve been looking for, no?

So maybe life is not about seeking for an answer, but knowing what to question.

Because in a matter of fact, not every question in this tangible universe [unfortunately] has an answer…

Kisah Tiga dan Dewasa

Palu – Sulawesi Tengah, 23 Maret 2009 [08:50am]

Senja belum beranjak kala tiga orang sahabat duduk dengan tampang resah sembari memandang lurus cakrawala di pantai itu. Air muka si Bulan yang manis, senja itu tampak redup. Sang Surya yang senantiasa perkasa, luluh terduduk. Ia Tak bergeming walau sapuan ombak telah membasahi setengah batang kakinya. Sedang Awan yang periang belum mengerti resah yang tengah menggumuli kedua karibnya itu.

Aku takut” ujar si Bulan memecah senyap senja itu.

Sebentar lagi dewasa akan datang, ia akan menelan mimpiku. Aku cuma punya satu dan masih ingin bersamanya” ujarnya pelan. Kata-katanya yang lembut memeluk sore layaknya seorang gadis memeluk boneka kesayangannya, semakin lama semakin erat.

Mengapa dewasa harus datang?” Ia terisak.

Konsentrasinya tertuju pada mimpi dan cita-nya, ia tak ingin melepasnya dan takut bahwa dewasa akan merenggutnya sebentar lagi.

“Ia ingin lari bersama mimpinya, mimpi mungilnya….”

Continue reading

ROHINGYA: In a State of The Stateless

“We need you to go to Aceh ASAP?”

It takes just one phone call before I found myself ready for my next assignment. Since I started working in the humanitarian field, there is always a dream of  going back to Indonesia and serve the nation, little did I know that the dream hasn’t been too far away?

I never been to Aceh before, but it is always on the list of province that I would love to visit since my trip to Sumatra back in 2008. I’ve heard fascinating stories about Aceh – The Mecca Solarium (Negeri Serambi Mekah) – where the nation’s heroines born and lived as a legend. When one dig deeper surpasses the Syariah Law, at the tipping point of Indonesia, you can indulge into mile after mile of white sand beach of Weh Island, a world famous dive site and Indonesia’s gem of marine biodiversity.

This special region talks turkey of politique et intric. Most of the adult still solidly remembers the dark and twisted story of the insurgence of Aceh Freedom Movement (Gerakan Aceh Merdeka) that was spread across the region, along with the fall and rise of Aceh during 2004 Tsunami.

Maybe it was the fond memory of sheer kindness of humanity experienced by people in Aceh during Tsunami that moves a group fisherman on the morning of 15 May 2015, that despite being prohibited by the sea police,bravely rescued the boats crammed with Rohingya Refugees and Bangladeshi that have been stranded in Strait of Malacca for weeks.

That was the first arrival of Rohingya refugee in Indonesia.

*** Continue reading

Satu Sore di Lhokseumawe

The story teller

Lhokseumawe – Indonesia, 10 Agustus 2015 [03:06pm]

Seperti yang dikisahkannya pada saya…

Hidupnya tidak jauh dari periuk, sumur dan sepetak warung. Saat muda dulu, sekali-kali ia menghias mata dengan celak hitam tapi itu saat suaminya belum purna. Lama-lama sekali, ia membeli sarung baru di pasar Minggu kota Lhokseukon dan dikenakannya saat hari raya tiba. Walau tinggal tak jauh, saat muda dulu tempat ini urung dikunjunginya. “Tak pantas” katanya.

Anaknya dua, satu wanita ikut suaminya hijrah ke Pidie sejak tahun 2002 dan satunya lagi pria yang terhanyut dalam romansa maskulinitas Aceh di akhir 90an. Saat konflik usai, alih-alih pulang, ia memilih merantau ke Balikpapan. Satu salam saat Lebaran tahun 2005 menjadi perjumpaan terakhir si Mamak dan Buyungnya. Continue reading

Hai Dokter; Singsingkan Lengan Bajumu, Kejarlah Mimpi dan Matilah Sendiri!

Hidup untuk mengabdi dan mengabdi untuk mati, cukup satu kali.

***

Karachi – Pakistan, 17 Juni 2015 [00:30am]

Kala seseorang meninggal, sebagian besar dari kita senang mencari tahu tentang bagaimana ia berpulang, mengulik sisi drama dan berspekulasi tentang elegi yang ditinggalkan almarhum untuk sanak saudaranya? Tapi seringnya saya senang merayakan kehidupan, memutar kenangan baik yang berbekas dalam ingatan serta untuk sekali saja mengizinkan diri saya merasa kehilangan.

Sebagai seorang dokter, saya pun sering berjumpa dengan kematian, mungkin lebih sering dibandingkan probabilitas kamu bertemu dengan teman masa kecilmu saat reuni sekolah berlangsung. Bagi saya, kematian layaknya kawan akrab yang kau temui di warung kopi lewat pukul lima kala waktu kerja telah usai.

Elisabeth Kübler-Ross menulis dalam bukunya bahwa tiap-tiap manusia melewati lima tahapan kala dirundung duka. Berawal dari penyangkalan hingga berujung pada penerimaan, tiap-tiap individu pun melewati tahapan ini dengan jenjang waktu yang berbeda Tetapi tahapan-tahapan itu tampaknya tidak berlaku bagi dokter; kami paham bahwa mati sepasti inti atom matahari yang berfusi, ia berlaku mutlak dan tak ada sangkalan disana. Maka ketika kematian berkunjung, kami mempersilahkannya masuk, memberinya ruang dan mengizinkannya pergi membawa kemenangan atas satu kehidupan yang tak dapat kami selamatkan…

*** Continue reading

Finding Sincerity in Khaosan Road

How many bottles of beer left alone after 5AM in Khaosan Road?

***

I asked myself that silly question as I was passing by different type of people equated by bottle or more of Singha beer on their hands. Every few meters, I saw a young Thais stood between clothes markets’ stall holding giant cooler of ice crammed with beer. Some of them kept waving giant board with raggedly written “Laughing Gas” or “Low Price” bucket whisky, made me wonder whoever wrote that potentially under whatever it was they’d written on it.

I had only been to Khaosan Road once before and while I didn’t remember it fondly; I could recall that it certainly was not jammed with people as this time. It was 10 minutes past 12AM and I was restlessly waiting my friends at the corner of Dang Derm Hotel. The street wasn’t change much and every minute it kept pulsating mass of humanity. Continue reading

And When The Words Dance!

I’m writing a passion. A flame and dust such inexplicable, I want you the get lost in a labyrinth of phrases, vanish before the page ends.I want you to stop before the dot, exhaling your excitement between the commas.

You are my apostrophe without a word. 

Let them write a tale about us, you will be the greatest epoch and I am mere a shadow, a simple phrase in the majestic of your story.

@justHityou

Kepada Rumi, Saya Patah Hati

Konya – Turkey, 28 Desember 2014 [07:40am]

 Hujan rintik-rintik menyisakan embun di kacamata saya.

Jujur saja saya paling tidak suka saat tak mampu melihat dengan sempurna. Kacamata yang berembun membuat saya pincang, buram jalan dan manusia melebur layaknya santan putih yang dituang di semangkok bubur ketan hitam. Insting pun seketika menjadi pelakon utama yang menuntun saya berjalan. Samar-samar saya melihat rupa menara hijau tinggi di seberang jalan, satu-satunya warna cerah yang mencuat di balik berundak-undak awan di atas kota Konya.

Subuh tadi seorang karib mengirimi saya sebuah surel panjang berisi refleksi dirinya setahun terakhir. Natal yang baru saja berlalu menjadi kuil untuknya berkontemplasi tentang hidup, kepercayaan, mati dan cinta. Sayang 2014 bukanlah tahun terbaiknya, karib saya ini baru saja ditinggal pergi kekasihnya. Bukan dia saja yang patah hati, saya pun dibuatnya ikut patah hati. Bagi saya keduanya adalah pasangan sempurna, layaknya lonceng kecil dan leher domba. Dalam perbedaan mereka saling melengkapi, bahkan ketika saling membenci mereka berjanji untuk tetap saling mencintai.

Surelnya adalah ungkapan patah hati, tulisannya mengingatkan saya pada hari dimana mereka berpisah dan percakapan lintas benua kami yang berlangsung hingga dini hari kebanyakan berisi hening dan seguk tangisnya di seberang sana.

The wound is the place where light enters you

Ia mengutip sajak favorit kami, disela-sela baris surelnya. Continue reading

Anjing!

Saya tidak pernah menyukai hewan ini. Setidaknya dulu, hingga beberapa waktu yang lalu. Merunut ke belakang, semuanya bermula ketika saya masih kecil. Mungkin saya memiliki fobia atau mungkin juga sekadar rasa takut yang berkepanjangan saja.

Saya yang tumbuh besar di daerah pasar di barat kota Makassar, tinggal di rumah yang terletak di gang lebar berbatas tembok belakang rumah sakit serta sebuah gudang milik saudagar Tionghoa yang tak sekalipun pernah saya temui rupanya. Ia memiliki empat ekor anjing berukuran besar dan bertampang garang. Dua diantaranya berwarna hitam beledu dengan mata kuning keemasan, telinga mereka runcing dengan monjong panjang, bulunya yang pendek tampak menyerupai kulit telanjang dari kejauhan.

Setiap hari mereka rutin berpatroli di gang kami, menggonggongi siapa saja yang melintas dalam radius kerja mereka. Satu dari mereka galaknya minta ampun, si betina berwarna cokelat – yang kala melonglong di malam hari membuat saya seketika meminta izin tidur di bawah ranjang Ayah – tak jarang mengejar siapa saja yang diendusnya mengeluarkan aura ketakutan. Continue reading