Anjing!

Saya tidak pernah menyukai hewan ini. Setidaknya dulu, hingga beberapa waktu yang lalu. Merunut ke belakang, semuanya bermula ketika saya masih kecil. Mungkin saya memiliki fobia atau mungkin juga sekadar rasa takut yang berkepanjangan saja.

Saya yang tumbuh besar di daerah pasar di barat kota Makassar, tinggal di rumah yang terletak di gang lebar berbatas tembok belakang rumah sakit serta sebuah gudang milik saudagar Tionghoa yang tak sekalipun pernah saya temui rupanya. Ia memiliki empat ekor anjing berukuran besar dan bertampang garang. Dua diantaranya berwarna hitam beledu dengan mata kuning keemasan, telinga mereka runcing dengan monjong panjang, bulunya yang pendek tampak menyerupai kulit telanjang dari kejauhan.

Setiap hari mereka rutin berpatroli di gang kami, menggonggongi siapa saja yang melintas dalam radius kerja mereka. Satu dari mereka galaknya minta ampun, si betina berwarna cokelat – yang kala melonglong di malam hari membuat saya seketika meminta izin tidur di bawah ranjang Ayah – tak jarang mengejar siapa saja yang diendusnya mengeluarkan aura ketakutan. Continue reading

Satu Koma Enam Satu Delapan

Begini awal mulanya…

Di suatu petang di bulan November, di tengah perjalanan panjang trans-liberia yang tengah saya tempuh, rombongan kami berhenti sejenak di sebuah desa bernama Lombe. Kala itu kami berniat melewatkan sebuah pekan di pulau Tiwai, sebuah pulau besar di tengah-tengah sungai Moa yang melintasi Sierra Leone, Liberia dan berakhir di delta niger – Nigeria.

Pulau Tiwai menjadi salah satu dari sedikit destinasi alam liar yang dapat dijangkau dengan jalan darat dari kota tempat saya bermungkim. Sejak dahulu, Tiwai telah dikenal sebagai daerah suaka bagi primata. Pulau yang luasnya tak lebih dari dua lapangan bola menjadi rumah bagi sebelas jenis primata dan great apes. Peneliti eropa sejak awal tahun 50an menasbihkannya menjadi salah satu daerah dengan kekayaan primata terbesar di dunia.

Tiwai menjadi rumah bagi  monyet Diana yang langka, menjadi ekosistem alami bagi monyet Kolobus Merah beserta koloninya dan juga tempat persembunyian Chimpanzee Hitam Afrika yang semakin sulit ditemui.

Saya menyebut Tiwai sebagai daerah suaka, tempat perlindungan bagi primata yang terancam punah, sungai Moa yang lebar serta buaya-buaya Nigeria yang mendiaminya menjadi pelindung alami para primata dari pemangsa utama mereka; Manusia. Continue reading

Si Kecil Ibra

Perkenalkan namanya Ibra, jerapah jantan berusia 14 bulan. Lahir di Giraffe Centre dari jerapah betina tertua di tempat konservasi itu. Pertemuan saya dengan Ibra terjadi beberapa hari sebelum saya meninggalkan Kenya.

Setelah tersenyum puas melihat sebuah stiker visa Republik Malawi kembali tertempel di passport hijau saya, saya dan Ronald kolega dari MSF South Sudah berkunjung ke Giraffe Centre. Sebuah tempat konservasi jerapah jenis Rothschild salah satu jenis jerapah yang sudah hampir punah. Letaknya di pinggiran kota Nairobi, cukup dekat dengan Nairobi National Park. Selain mengenal Ibra, saya pun berkesempatan untuk belajar lebih banyak tentang hewan cantik ini.

Walaupun hewan berleher jangkung ini hanya terdiri dari satu spesies saja, ada beberapa sub-spesies. kesemuanya merupakan sub-spesies yang dilindungi. Menurut saya jerapah selain anggun, juga pemalas. Mereka menghabiskan 12 jam lebih waktunya hanya untuk makan!

Hmm, seandainya hidup manusia juga bisa seperti mereka mungkin kita akan lebih bahagia…

Ibra mungkin beruntung bisa lahir di tempat konservasi ini, kemudian memastikan dirinya bisa tumbuh dewasa sebelum kembali ke alam liar tempat dimana dia semestinya berada atau mungkin juga dia sial, karena akhirnya harus menghabiskan masa kecilnya terkungkung dalam keterbatasan?

Apapun itu hipotesa saya, sepertinya Ibra tidak berfikir seruwet itu. Selama ada pucuk hijau untuk digapai dan gosokan hangat ibunya di punggungnya, semua akan baik-baik saja…

Hmm, seandainya kita juga bisa sesederhana mereka…

Safari adalah hal pertama yang muncul di benak saya saat mendengar kata Kenya! Sudah menjadi impian saya sejak pertama kali menonton film Out in Africa bahwa suatu hari nanti saya akan berkunjung ke benua hitam dan bersentuhan dengan hewan-hewan liar.

Maka kesempatan berkunjung ke Kenya tidak saya sia-siakan. Ingin rasanya berkendara di atas 4WD melintas Masaai Mara dan melihat migrasi ribuan wilderbeest dan zebra. Sayang, musim hujan mengungkung hewan-hewan jauh di dalam rimbunnya semak savana.

Beruntunglah saya bisa mengunjungi Nairobi National Park, satu-satunya taman nasional di dunia yang terletak di hiruk pikuk kota dan kondisinya masih sangat terjaga.

Jiwa kanak-kanak saya seketika kembali saat pertama kali saya berjumpa Jerapah yang sedang menggapai jumput dedaunan atau sekumpulan zebra yang saling menyisir leher satu dan lainnya. Berusaha sekuat tenaga untuk mengenali singa yang bersembunyi ataupun leopard yang tertidur malas di puncak pohon besar, dan mengendap-endap pelan di balik Buffalo yang berjalan pelan dan keluarga Rhino yang pemalunya sungguh luar biasa.

sungguh hewan-hewan ini anggun dan menarik dalam caranya masing-masing, tak heran beberapa dari kita tega berburu untuk mengabadikan keindahannya.

sayang…

[I upload the series of my trip to Nairobi National Park at Nairobi National Park 14 on Flickr. To you who loves cute animal, ENJOY!] 🙂