Kisah Tiga dan Dewasa

Palu – Sulawesi Tengah, 23 Maret 2009 [08:50am]

Senja belum beranjak kala tiga orang sahabat duduk dengan tampang resah sembari memandang lurus cakrawala di pantai itu. Air muka si Bulan yang manis, senja itu tampak redup. Sang Surya yang senantiasa perkasa, luluh terduduk. Ia Tak bergeming walau sapuan ombak telah membasahi setengah batang kakinya. Sedang Awan yang periang belum mengerti resah yang tengah menggumuli kedua karibnya itu.

Aku takut” ujar si Bulan memecah senyap senja itu.

Sebentar lagi dewasa akan datang, ia akan menelan mimpiku. Aku cuma punya satu dan masih ingin bersamanya” ujarnya pelan. Kata-katanya yang lembut memeluk sore layaknya seorang gadis memeluk boneka kesayangannya, semakin lama semakin erat.

Mengapa dewasa harus datang?” Ia terisak.

Konsentrasinya tertuju pada mimpi dan cita-nya, ia tak ingin melepasnya dan takut bahwa dewasa akan merenggutnya sebentar lagi.

“Ia ingin lari bersama mimpinya, mimpi mungilnya….”

Continue reading