Saya rindu berada di sana, di kedalaman samudera di ruang biru pekat tanpa suara. Laut memanggil tanpa bisa saya menjawab. Karib perjalanan saya ini bergurau mengibaratkan saya bagai ikan, ingsang saya mengerjap dan sisik saya mengering di dataran Afrika.

Ya, sungguh saya ingin sekali pulang kesana. Ke laut, tempat yang senantiasa saya sebut rumah… 

A LOST-CEPTION

Dia seorang wanita usia dua puluhan datang dengan pakaian hitam dan chitenje lusuh bermotif bunga, seorang bayi tertidur pulas di pundaknya. Sesaat setelah dia duduk, dia menyodorkan buku mungil bersampul orange, health passport miliknya. Dari sampul yang telah sobek dan halaman kertas usam dan kotor terkena tanah menjelaskan bahwa dia sudah lama tidak berkunjung ke klinik. Disini tidak sepertinya layaknya di Indonesia, pasien membawa rekam medik mereka masing-masing, sebuah buku mungil yang di namakan health passport.

Sudah dua hari dia mengeluh demam dan nyeri perut sebelum dia datang mengunjungi klinik kami. Tapi bukan keluhannya yang menarik perhatian saya, tetapi sebuah bentuk oval bergaris dua yang ditulis dengan tinta merah, tertera di halaman depan health passport-nya. Dia penderita HIV… Continue reading