The Cycle of Everything

Selçuk – Turkey, 24 December 2014 [06:06pm]

“There are two roads, most distant from each other: the one leading to the honorable house of freedom, theother the house of slavery, which mortals must shun. It is possible to travel the one through manliness and lovely accord; so lead your people to this path.” ~ The Oracle of Apollo

***

Matahari tengah menggantung tinggi saat saya tiba di Ephesus siang tadi. Silaunya memberi bayang-bayang lebar yang menutupi setengah Amphiteater-nya yang megah. Pengukur suhu digital di telepon genggam saya menunjukkan angka tujuh, angka yang cukup nyaman di pertengahan musim dingin seperti ini. Saya merapatkan jaket tipis berwarna hitam yang tengah saya kenakan, sembari melayangkan pandang ke sekeliling, Mencoba menikmati momen sekejap.

Sedari kecil saya menyenangi mitologi Yunani dan peradaban Roma. Bagi saya, kisah mereka jauh lebih menarik dibanding komik tebal rekaan penulis-penulis Jepang. Para dewa-dewi Olimpus layaknya superhero yang hidup dalam imajinasi saya. Meskipun kisah mereka jauh dari sempurna -bergelimang intrik, perang, cinta dan kecemburuan- tapi peradaban yang mengagungkan mereka berkembang jauh melintas ruang dan masa. Nama-nama mereka menghiasi langit dalam rupa gugusan bintang, planet hingga bulan-bulan yang mengorbit pelan. Mereka seakan hidup dalam jagad raya yang manusia temukan. Dari peradaban Yunani dan Roma, para filsuf-filsuf yang saya kagumi berasal, ilmu pengetahuan pun berkembang dan lahir layaknya Athena yang lahir dari kepala Zeus yang terbelah.

Mereka membangun kota-kota besar, kuil-kuil pemujaan dan perpustakaan raksasa ribuan tahun sebelum manusia mengenal alat berat dan kendaraan bermesin!

Walau sebagian besar yang tersisa adalah puing-puing kota, Amphiteater Ephesus masih berdiri kokoh, menjadi saksi bisu berbagai macam pertujukan yang dihelat di tempat ini. Di tengah-tengah Amphitheater ini saya layaknya sebutir partikel pasir, begitu kerdil apabila disandingkan dengan bebatuan hitam yang menjadi pondasi bangunan.

Konon kala pertujukan gladiator tengah berlangsung,  ribuan penonton akan memadati tempat ini. Salah satu diantara mereka adalah Ares sang dewa perang yang turun ke bumi dalam wujud mortalnya, ia memberi restu pada Gladiator pilihan untuk memerahkan bumi dengan darah lawannya. Tetapi Amphiteater bukanlah lansekap yang membuat kota kuno ini melegenda. Beberapa abad yang lalu, penduduk Ephesus membangun kuil termegah bagi sang dewi perawan; Artemis. Sayang perang dan penaklukan yang silih berganti menggilir kota ini, membuat kuil megah dari marbel putih itu akhirnya hancur dan menyisakan beberapa pilar saja di batas kota Selçuk.

Mengulik Ephesus seakan tak ada habisnya, waktu empat jam menjadi sangat sebentar. Saya senang berdiri mematung di hamparan puing batu yang dahulu menjadi sentra kota, berdiri di tengah-tengah pilar raksasa perpustakaan Celcus ataupun sekadar menyentuh artefak berhias aksara Yunani kuno untuk sebentar saja menyadarkan diri akan fakta bahwa pernah pada suatu masa, seseorang pun berdiri ditempat yang sama dengan saya dan mengukir aksara pemujaan ini.

Artefak layaknya terowongan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, di dalamnya ruang dan waktu menjadi cair dan tak lagi absolut. Saat manusia menggali, mengekskavasi dan berusaha mencari tahu tentang misteri masa lalu, tentang kehidupan yang terkubur zaman, sesungguhnya yang mereka dapatkan adalah jawaban tentang diri mereka sendiri, tentang masa kini, tentang bagaimana kebudayaan mereka tercipta, tentang bahasa yang mereka tuturkan dan tentang betapa pahitnya cinta dan candunya perang serta penghancuran…

Saya berfikir bahwa hanya entitas bernyawa saja yang dapat terjerat dalam lingkaran hidup. Mereka lahir, tumbuh, menua kemudian mati. Rupaya kota pun tak lepas dari siklus itu. Selama berabad-abad Ephesus berkembang, sebelum akhirnya redup saat sentra perdagangan lautnya mulai jarang dilirik musafir-musafir timur, ia pun melemah saat wabah Malaria menyapu sebagian besar penduduknya dan puncaknya saat Ephesus akhirnya takluk ditangan orang-orang Goth. Seakan menjadi pembenaran akan ramalan para Oracle di kuil Apollo bahwa akan tiba masanya dimana Roma akan menjadi sejarah.

***

Pagi tadi, saya memutuskan untuk berjalan kaki dari Selçuk menuju Ephesus. Wanita tua yang saya temui di penginapan mengatakan Ephesus terletak tidak jauh dari jantung kota dan berjalan kaki tidak akan memakan waktu lama. Beruntung saya mengikuti arahannya, menyapu langkah ke kompleks ini memang seringan mengobrol dengannya.

Desember yang segera berakhir menjadi manis layaknya jeruk-jeruk berwana jingga yang menggantung rendah di balik pagar rumah-rumah di kota kecil ini. Malam ini sebagian penduduk kota akan merayakan kelahiran juru selamat mereka.

Keluar dari kompleks Ephesus, langit telah berhias semburat lembayung dan suhu udara pun mulai kembali jatuh ke titik rendah. Senyum wanita tua di penginapan serta seporsi Köfte telah terbayang, terburu-buru saya mempercepat langkah.

Malam panjang telah menanti saya…

Advertisements

6 thoughts on “The Cycle of Everything

  1. Duhai, peradaban Yunani yang terserak memang mengagumkan. Terlebih dapat melihatnya di Turki, negeri di mana telah lama saya dibuat penasaran 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s