Evolve or Revolve?

  
Phebe – Liberia, 08th October 2015 [05:25pm]

Every afternoon when I just finished with work at the hospital, I saw this girl sitting at the exact stone bench, carrying the exact silver bowl and smiling the exact way when I waved my hands toward her. She then waiting for costumer under the big tree outside of the hospital compound, often until the sun sets or earlier when the rumble sound of thunder approaching.  

Have you ever imagined how’s your life would be if you revolved in the same pattern, routine or even people? 

Over and over? 

As if your universe is a giant tree and you mere a tiny leaf waiting autumn to comes and then fall into the ground, composed. 

Some might think it’s tidious, that life is not supposed to be a vicious cycle of boredoms, that human born to explore and it’s the nature of our species to evolve not revolve.

But the fact is, not all of us has the privilege to travel, to see what beyond the horizon or to experience sun light when our loved ones succumbed in a dark night or to answer the dreamy question of a purpose of life.

Some people also feel content with the tiny world of their surroundings. To think that exploration only for those who seek for completeness in their seemingly empty life. 

In a matter of fact, people will stops seeking, exploring or asking when they finally found what they’ve been looking for, no?

So maybe life is not about seeking for an answer, but knowing what to question.

Because in a matter of fact, not every question in this tangible universe [unfortunately] has an answer…

Advertisements

Seberapa sering kita membandingkan apa yang kita inginkan dengan apa yang kita miliki? Memberi sangkalan pada aturan aritmatika dimana pembanding dan yang dibandingkan tidak merunut pada satuan yang sama?

Sekali-kali mari berhenti membandingkan, mungkin ada baiknya kita berhitung saja? Membulatkan yang kita miliki dengan syukur dan mengurangkan yang kita inginkan dengan ikhlas.

Mungkin itu lebih baik, mungkin dengan begitu kita bisa menambah kadar realitas dan menyimpulkan bahwa kita baik-baik saja dengan apa yang kita punya.

Hidup, harta dan cinta.

Cukup satu untuk menggenapkan….

Sepucuk Surat Terima Kasih.

Surat ini saya tujukan kepada Saudari Tasniem Fauziah.

“Semoga saja aliran informasi dapat mengantarkan sedikit bagian dari halaman rumah maya ini tepat pada tujuannya….”

***

Saya ingin memulai dengan mengucapkan terima kasih.

Terima kasih atas surat terbuka saudari kepada Jokowi. Disini saya tak bermaksud membalas surat tersebut, surat terbuka yang dapat dipandang telanjang oleh siapa saja tapi saya percaya ditujukan kepada satu orang saja.

Saya ingin mengucap terima kasih karena surat saudari memberi saya ruang untuk berfikir kembali atas pilihan yang saya buat. Pilihan untuk berdiri pada satu sisi, pilihan untuk ikut berbagi beban bangsa ini dengan percaya pada seseorang.

Saya awam mengenai politik, pun tidak pernah dibuat terkesan akan elegi yang sering ditampilkan oleh para pelakon politik negeri kita. Tapi kali ini saya ingin membuka mata, memutuskan untuk tidak diam dalam gelap dan menyumbangkan keilmuan saya yang sedikit dan rasa bangga serta cinta kepada tanah air saya yang besar untuk satu momen yang menentukan hajat hidup saya dan saudara sebangsa saya.

Saya memutuskan untuk memilih dan saya memilih untuk percaya.

***

Continue reading

there is nothing wrong of being atheist, gay or believe that the universe was created by an invisible giant spaghetti monster. what’s wrong is not being a human to another human being!

#saynotodiscrimination

Maybe it’s not always about summer, spring or winter wings. Or about the sun, the moon or the milky way. Maybe it’s merely about you and me. The space and time and our memories…

Me with the juxtaposition idea of us and the universe.

Saya ingin berlabuh, melepas sauh lelah hingga ke dasar yang tenang. Kemudian menikmati waktu yang melambat tanpa batas. Hidup sekejap perlu perhentian, sebagai pengingat jalan di depan masih panjang. Maka tak usah lah kita terburu-buru…