Ikan Mas Turut Menertawakan Kelemahan Kita

Processed with VSCO with c6 preset

Mungkin ini saatnya untuk berhenti mengumpulkan dan mulai perlahan melepaskan…

London – Inggris Raya, 12 November 2017 [03:04pm]

Satu pagi enam bulan yang lalu saya bangun lebih awal dari biasanya dan bergegas mengeluarkan sebagian besar baju yang menggantung di lemari. Saya memilah pakaian, sepatu, topi, hingga kaos kaki yang terlipat rapi di laci-laci kayu dan memindahkannya ke kantong hitam yang dengan cepat terisi dan menggelembung.

Kotak kardus yang tergeletak di lantai perlahan mulai penuh dengan lembaran kartu pos dari kerabat, beragam hadiah, suvenir yang rutin saya kumpulkan dari berbagai kota dan negara, serta foto yang selama ini telah mengekalkan kenangan saya tentang orang-orang penting yang pernah bersinggungan. Setelahnya, saya menutupnya rapat-rapat, membawanya ke tempat pengumpulan donasi dan melepaskannya pergi mencari tuan yang baru.

Pagi itu saya memandang kamar yang kosong…

Meja belajar saya tak lagi bersolek dengan banyak benda, hanya tumpukan buku yang masih tertinggal di sana.

Lemari saya pun kini tampak telanjang, hanya terisi beberapa lembar baju, celana serta sepatu.

Saya tercenung untuk sesaat, mencoba menelaah keputusan saya satu jam yang lalu untuk melepaskan sebagian besar benda yang telah saya kumpulkan selama beberapa dekade.

Dan saya tidak pernah merasa lebih lapang dan bebas dari saat itu!

***Processed with VSCO with q3 preset

“Everyone started out as a minimalist”

Keputusan menjadi “minimalis” tidak semerta-merta datang begitu saja. Ia adalah hasil observasi saya sejak saya memutuskan menjadi pekerja kemanusiaan tujuh tahun yang lalu. Berpindah kota dan negara dalam waktu yang singkat membuat saya mulai mengumpulkan beragam memorabilia yang menjadi pengingat terhadap tempat-tempat yang pernah saya jejaki. Tidak cukup dengan itu, seringnya berpindah kota dan negara membuat saya harus beradaptasi dengan cuaca serta tradisi setempat dan hal itu memberi saya pembenaran untuk mulai lebih sering berbelanja pakaian, serta barang-barang yang saya pikir akan memudahkan petualangan saya.

Semakin sering saya mengumpulkan, semakin saya merasa berat dan lambat. Laksana meminum air laut, saya semakin tidak terpuaskan dengan apa yang saya miliki dan terus menerus merasa kekurangan. Nilai benda itu pun semakin berkurang, ia membuat saya bahagia untuk sesaat, kemudian nilainya pun pudar seiring dengan datangnya benda baru. Waktu, uang serta tenaga saya pun banyak terbuang untuk hal-hal yang tidak memberi hidup saya nilai tambah.

Batas antara hal yang saya butuhkan dengan hal yang saya inginkan mulai mengabur, tak jarang saya memberi pembenaran tentang hal-hal yang saya inginkan sebagai hal yang saya butuhkan.

Tak jarang pula saya menggunakan alasan “sedang diskon”,”kapan lagi mumpung sedang disana”, atau “sudah lama diimpikan” sebagai ultimatum untuk memutuskan membeli sesuatu.

Di saat seri gawai baru diluncurkan, saya memberi pembenaran untuk mengganti gawai yang tengah saya gunakan, walau dalam kenyataannya gawai saya masih berfungsi sempurna.

Di saat lingkar sosial sedang semarak oleh tren terbaru, saya pun turut serta dalam meriahnya.

Laksana sedang berkaca pada halaman tetangga, tampaknya rumput saya meranggas kering dan butuh untuk senantiasa disiram agar menghijau seperti mereka. Saya pun dibuat sulit untuk merasa puas dan terus menerus menginginkan sesuatu yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Walaupun pada kenyataannya, saya memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup layak dan cukup.

Membuat saya berpikir, bagaimana saya bisa sampai di situasi ini?

Mungkin karena status hidup saya berubah, dari yang dahulunya bergantung pada orang tua kemudian mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, saya terlena dengan kemampuan saya memenuhi apa yang saya inginkan.

Pergaulan, kultur serta eksposur yang terkadang saya hadapi pun tanpa sadar mengubah saya. Tekanan sosial dan maraknya sosial media turut berperan dalam memberi saya gambaran ideal. Yang tanpa saya sadari, tidak pernah sempurna. Bising dan ramainya dunia maya tidak semerta merta membahagiakan. Saya melihatnya sebagai kuil fantasi yang dibangun sebagai bentuk pelarian dari sepi, banyak orang yang tanpa sadar terjebak dalam ilusi yang mereka bangun, menjadi budak oleh lakon yang mereka susun serta senantiasa haus akan pengakuan dari orang-orang asing dibalik layar teknologi.

***

Processed with VSCO with c7 preset

“We are more interested in making others believe we are happy than trying to be happy ourselves”

Jujur berkata, saya senantiasa merasa hidup saya laksana sebuah perlombaan.

Dan apabila kalian bertanya perlombaan apa? Saya pun tak dapat menerka.

Tapi saya merasa hidup saya terkungkung dalam irama serba cepat, kebutuhan akan material yang tampaknya tidak pernah berkecukupan dan membuat saya lelah. Hidup saya laksana seekor ular yang tengah mengejar ekornya, terlibat perlombaan dengan masa depan yang saya tahu sendiri tidak memiliki pemenang.

Lambat laun, saya pun mulai kehilangan identitas dan dititik nadir itu, saya pun tersadarkan.

Bahwa eksistensi saya sebagai individu tidaklah bergantung pada apa yang saya gunakan ataupun yang tercitrakan, dan bahwa kebahagiaan saya tidak pula bergantung dari pengakuan orang lain.

Ini saatnya buat saya mencukupkan diri dan itu dimulai dengan melepas semua yang berkekurangan dan berlebihan.

***

Processed with VSCO with c9 preset

Nomophobia [v]: Fear of being without a mobile device, or beyond mobile phone contact.

Penelitian menyimpulkan bahwa manusia memiliki rentang perhatian tak lebih dari delapan detik pada satu objek, sedetik lebih rendah dibanding ikan mas yang konon dapat memusatkan perhatiannya selama sembilan detik.

Dan kalian pun tak perlu pongah menolak ataupun malu untuk ditertawakan ikan mas di kolam rumahmu, karena pada dasarnya mereka berada di podium lebih tinggi dalam perlombaan menguji konsentrasi.

Berapa banyak waktu yang kalian luangkan dalam sehari untuk mengecek pesan, email serta beragam media sosial yang kalian miliki? Seberapa cepat kalian mengalihkan fokus pada dering notifikasi yang berbunyi dari gawai?

Di era digital ini, tanpa sadar peran tuan dan pelayan antara gawai dan pengguna semakin samar, dan saya merasa perlu untuk membuat batasan jelas untuk hal tersebut.

Saya adalah Tuan bagi teknologi dan bukan sebaliknya.

Pertama, saya memutuskan untuk tidak lagi mengaktifkan segala jenis notifikasi pesan singkat tanpa terkecuali.

Kedua, saya memutuskan untuk tidak lagi mengaktifkan segala jenis nada dering dan mengandalkan nada getar sebagai pengingat. Kerabat serta rekan dekat saya pun paham bagaimana menghubungi saya dengan cepat. Selebihnya, saya percaya bahwa tidak ada berita di dunia ini yang tidak dapat menunggu.

Ketiga, saya mengurangi presensi saya di sosial media serta memilahnya berdasarkan fungsi, beberapa yang memiliki kesamaan perlahan saya tinggalkan. Selain itu, ranah pribadi memiliki hadirin serta ruangnya sendiri, saya mulai belajar untuk mengenalinya.

Keempat, saya belajar untuk melepaskan ketergantungan pada gawai dan ini dimulai dengan melepaskan komputer tablet yang jarang saya gunakan. Koleksi kamera serta aksesorisnya pun saya lepaskan beberapa bulan yang lalu, walaupun berat saya merasa hobi saya dalam fotografi dapat tersalurkan melalui telepon genggam yang kini saya gunakan.

Kelima, saya mulai membiasakan untuk berkomunikasi langsung, baik dengan video ataupun telepon. Mencoba memberi waktu, perhatian serta emosi saya pada mereka yang senantiasa dirindu.

Kini saya merasa lebih peka terhadap sekeliling saya, hadir dalam ruang dan waktu yang diraba oleh panca indera dan tak lagi terperangkap dalam ruang semu maya untuk waktu yang lama.

Perihal berpakaian, saya memulainya dengan memangkas jumlah pakaian yang saya miliki.

Saya meluangkan waktu untuk memikirkan apa yang saya harapkan dari sebuah pakaian? Dan jawabannya adalah rasa nyaman, itu saja.

Saya menghitung jumlah baju yang saya kenakan dalam seminggu dan seberapa sering saya menggunakannya. Apabila ia tidak saya kenakan dalam sebulan terakhir maka dengan otomatis terpangkas. Aturan yang sama berlaku pada tas, sepatu ataupun aksesoris lainnya.  Saya pun memilih kelompok warna netral yang mudah untuk dipadu padankan. Di akhir proses memilah ini, saya menyisakan empat pasang kemeja, empat celana, tiga sepatu, tiga tas, tiga jam tangan serta beberapa potong baju kaos. Saya pun menerapkan aturan untuk menyingkirkan satu potong pakaian saat saya memutuskan untuk membeli pakaian baru.

Enam bulan setelah saya memulai, saya merasa lebih efisien dan tidak lagi dibuat bingung dengan pakaian. Saya menjadi lebih mawas saat berbelanja, alih-alih mengikuti tren mode atau sikap impulsif, kini saya lebih memilih untuk berinvestasi pada pakaian dengan kualitas bagus atau yang memiliki nilai tambah, selain itu saya pun kini lebih peka terhadap asal pakaian yang saya kenakan ataupun proses pembuatannya.

Lambat laun saya terlepas dari pusaran tren dan rasa haus untuk berbelanja, dan untuk pertama kalinya saya dapat mengapresiasi tenaga, materi serta waktu yang saya luangkan untuk hal ini.

Melepaskan memorabilia tidak berarti melupakan kenangan.

Ada rasa sedih saat saya merelakan koleksi kartu pos yang saya terima dari rekan serta keluarga, atau surat cinta yang pernah saya terima saat SMA dan foto wisuda yang dihadiri mendiang ayah saya. Menyentuh benda-benda ini membuat kenangan tentangnya kembali melayang, membuat saya teringat akan jaring-jaring pengalaman yang terperangkap disana.

Tiap-tiap dari benda itu memiliki arti, tapi tidak ada satu pun yang memiliki fungsi yang saya butuhkan dalam hidup saat ini.

Apa jadinya apabila saya melepaskan benda ini?

Apakah saya akan kehilangan kenangan tentang ayah saya saat melepas foto wisuda?

Apakah hubungan saya dengan rekan dan keluarga akan terputus saat tak ada lagi kartu pos dari mereka yang menghias kamar saya?

Jawabannya tidak, kenangan tidak pernah berumahkan sebuah benda. Ia adalah pengalaman, dan pengalaman senantiasa berumahkan ingatan dan perasaan. Ia kekal disana.

Pelan-pelan saya melepaskan mereka, saya memotretnya satu persatu sebelum merelakannya pergi, setidaknya mereka masih memiliki tempat di dunia maya. Semoga saja kelak ia dapat dikunjungi oleh anak cucu saya, ataupun saya yang renta dan perlahan mulai rabun akan batas ruang dan waktu.

***

Enam bulan berlalu, saya menemukan damai dalam kesederhanaan. Menemukan rasa tenang dalam riuh kota ini dan dapat mengapresiasi apa yang saya miliki. Mencoba memanfaatkan jatah waktu yang saya punya dengan memperkaya pengalaman serta membaginya dengan orang-orang yang memiliki arti penting dalam hidup saya, serta berhati-hati untuk tidak terjebak dalam pusaran posesif material.

Karena pada akhirnya saya mengerti bahwa perihal bahagia terkadang bukanlah tentang memiliki apa yang kita inginkan, tetapi menginginkan apa yang kita miliki.

Tabik.

Advertisements

9 thoughts on “Ikan Mas Turut Menertawakan Kelemahan Kita

  1. Membaca catatan ini membuat saya melirik kotak kayu pakaian milik saya yang 3 bulan lalu saya memutuskan mencoba hal yang sama. Hal terpenting yang saya dapatkan dari percobaab ini adalah saya lebih tau apa yang saya butuhkan dan tidak harus pusing memilih karena terlalu banyak pilihan, menyederhanakan memang bisa menjadi salah satu pilihan jika kita merasa terlalu sulit memutuskan. Dan membaca catatan kak husni membuat percobaan ini seperti semakin tercerahkan dan layak untuk dicoba ke hal-hal lain. Terimakasih pengalamannya, semoga tetap menginspirasi. Salam dari Makassar yang sementara turun hujan kak 🙂

    Liked by 1 person

  2. Cerita ini mengingatkan kembali tentang memori kenangan yang melekat nyata mengikuti saya selama berjalan 2 tahun ini. Selain membebani raga, benda tersebut terus mengusik ketenangan dan tak jaranng merelakan untuk membuangnya.

    Saya setuju jika kenangan bisa di alihkan ke dunia maya, terlebih untuk memaksimalkan kesederhanaan

    Liked by 1 person

    1. Memindahkan kenangan dan benda ke dunia maya memberi banyak ruang bebas untuk diisi kembali. Tapi kita pun harus jeli agar ruang maya tidak berakhir sebagai gudang dan tumpukan benda usang. 🙂

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s