Setiap kali saya melihat pohon Baobab raksasa, saya selalu membayangkan saat awal penciptaan mungkin Tuhan sedang bercanda dan menanamnya terbalik hingga daunnya tenggelam di tanah dan akarnya mencuat…

Tapi pohon khas Afrika ini selain ukurannya yang gigantis juga penuh dengan selaput mistis. Masyarakat Afrika percaya bahwa baobab itu bernyawa dan segala bagian tubuhnya bisa dimanfaatkan mulai dari buah, batang, serabut, dan akar. Bahkan dahulu baobab dilubangi dan dijadikan kuburan bagi penderita penyakit misterius yang kini kita kenal dengan sebutan Lepra. Buahnya unik bertekstur mirip beledu dan daunnya berguguran tidak tersisa saat musim dingin menerpa.

Selain lokasi camp kami yang unik yang diapit oleh dua pohon baobab raksasa. Saya beruntung dapat melihat salah satu pohon baobab tertua di Afrika yang terletak ujung timur taman nasional Liwonde dan merasa lebih beruntung lagi dapat memungut beberapa buah yang jatuh dari pohon baobab berusia 4000 tahun ini!

hmm, berharap untuk dibawa pulang dan dijadikan buah tangan bagi kalian 🙂

Hai dinda…

Satu-satunya tempat yang ingin saya kunjungi saat ini adalah ruangan kecil di Lantai 2 Fakultas Kedokteran UNHAS. salah satu tempat yang saya sebut rumah, tempat pertama kali saya tertarik akan bidang kemanusiaan. saya lahir dari janji yang terpatri di rumah kecil itu, di TBM Calcaneus FK UNHAS.

Banyak cerita yang menggantung indah disana, tempat saya belajar bahwa memang tidak mudah melebur, memecah tiap partikel ke-Aku-an kemudian mencipta wujud “Kita”, tempat saya belajar berhenti bersikap sinis akan mimpi dan kebersamaan, tempat saya belajar bahwa tidak ada kata tidak untuk menolong sesama dan tak ada kata “nanti” hanya ada sekarang dan saat ini. Tempat saya belajar bahwa janji yang sependek tarikan napas akan mengalir seumur hidup.

Sore ini di Afrika, saya teringat para prajurit-prajurit kecil yang kami sebut saudara telah menuntaskan baktinya setahun menjaga rumah kecil kami. ingin rasanya menyalami dan memeluk mereka satu-persatu, kembali tenggelam dalam ruang kecil di lantai dua itu.

Tapi rindu masih menggantung tinggi dan belum tersapu oleh pertemuan, biarlah sore ini saya mengirim salam melalui catatan Hai dinda. semoga sampai tepat waktunya, sebelum mentari tenggelam esok hari.

***

Continue reading

Si Kecil Ibra

Perkenalkan namanya Ibra, jerapah jantan berusia 14 bulan. Lahir di Giraffe Centre dari jerapah betina tertua di tempat konservasi itu. Pertemuan saya dengan Ibra terjadi beberapa hari sebelum saya meninggalkan Kenya.

Setelah tersenyum puas melihat sebuah stiker visa Republik Malawi kembali tertempel di passport hijau saya, saya dan Ronald kolega dari MSF South Sudah berkunjung ke Giraffe Centre. Sebuah tempat konservasi jerapah jenis Rothschild salah satu jenis jerapah yang sudah hampir punah. Letaknya di pinggiran kota Nairobi, cukup dekat dengan Nairobi National Park. Selain mengenal Ibra, saya pun berkesempatan untuk belajar lebih banyak tentang hewan cantik ini.

Walaupun hewan berleher jangkung ini hanya terdiri dari satu spesies saja, ada beberapa sub-spesies. kesemuanya merupakan sub-spesies yang dilindungi. Menurut saya jerapah selain anggun, juga pemalas. Mereka menghabiskan 12 jam lebih waktunya hanya untuk makan!

Hmm, seandainya hidup manusia juga bisa seperti mereka mungkin kita akan lebih bahagia…

Ibra mungkin beruntung bisa lahir di tempat konservasi ini, kemudian memastikan dirinya bisa tumbuh dewasa sebelum kembali ke alam liar tempat dimana dia semestinya berada atau mungkin juga dia sial, karena akhirnya harus menghabiskan masa kecilnya terkungkung dalam keterbatasan?

Apapun itu hipotesa saya, sepertinya Ibra tidak berfikir seruwet itu. Selama ada pucuk hijau untuk digapai dan gosokan hangat ibunya di punggungnya, semua akan baik-baik saja…

Hmm, seandainya kita juga bisa sesederhana mereka…

Megahnya Merah Jambu

Sudah lama saya tidak merasakan sejuk mesin pendingin di dalam pusat perbelanjaan. Seperti umumnya warga asia lainnya, saya terbiasa untuk menikmati kehangatan bangunan kaku bernama Mall dan berbulan-bulan tidak berkunjung ke Mall membentuk semacam kerinduan. Beruntunglah Nairobi memiliki banyak pilihan mall yang bisa dikunjungi.

Saya menemukan oase!

Pernah suatu hari saya berkunjung ke Sarit Centre sebuah mall yang terletak di timur Nairobi, niatnya untuk makan siang sekaligus menonton premiere Captain America. Sambil menanti waktu pemutaran film, saya memilih untuk berjalan-jalan di sepanjang lorong mall yang dipenuhi dengan poster-poster serta leafet iklan, beberapa saat kemudian ekor mata saya menangkap sebuah foto danau yang indah terpampang di salah satu sudut. Bukannya gambaran danau biru yang tenang, tapi sebuah danau berwarna merah jambu, akibat tertutup oleh ribuan burung flamingo. Lake Naivasha saya membaca namanya. Seketika saya tahu, kemana tujuan saya berikutnya! Continue reading

Safari adalah hal pertama yang muncul di benak saya saat mendengar kata Kenya! Sudah menjadi impian saya sejak pertama kali menonton film Out in Africa bahwa suatu hari nanti saya akan berkunjung ke benua hitam dan bersentuhan dengan hewan-hewan liar.

Maka kesempatan berkunjung ke Kenya tidak saya sia-siakan. Ingin rasanya berkendara di atas 4WD melintas Masaai Mara dan melihat migrasi ribuan wilderbeest dan zebra. Sayang, musim hujan mengungkung hewan-hewan jauh di dalam rimbunnya semak savana.

Beruntunglah saya bisa mengunjungi Nairobi National Park, satu-satunya taman nasional di dunia yang terletak di hiruk pikuk kota dan kondisinya masih sangat terjaga.

Jiwa kanak-kanak saya seketika kembali saat pertama kali saya berjumpa Jerapah yang sedang menggapai jumput dedaunan atau sekumpulan zebra yang saling menyisir leher satu dan lainnya. Berusaha sekuat tenaga untuk mengenali singa yang bersembunyi ataupun leopard yang tertidur malas di puncak pohon besar, dan mengendap-endap pelan di balik Buffalo yang berjalan pelan dan keluarga Rhino yang pemalunya sungguh luar biasa.

sungguh hewan-hewan ini anggun dan menarik dalam caranya masing-masing, tak heran beberapa dari kita tega berburu untuk mengabadikan keindahannya.

sayang…

[I upload the series of my trip to Nairobi National Park at Nairobi National Park 14 on Flickr. To you who loves cute animal, ENJOY!] 🙂

Karibu Kenya!

Masih jelas di ingatan saya, suatu hari di pertengahan Mei. Daniel, kordinator saya mengirimkan sebuah pesan singkat yang isinya meminta saya kembali ke kota Thyolo hari itu juga. “packed your stuff, sign your holiday form. You’re going to Kenya for 3 weeks starting tomorrow” ucapnya setiba saya di kantor.

Masih terkejut, saya coba menalar apa yang terjadi, liburan gratis dan tiba-tiba ini terlalu sulit untuk dipercaya. Menerka-nerka apa penyebabnya dan akhirnya saya tergelak sendiri. Ahh! visa saya di Republik Malawi sudah hampir habis masa berlakunya. Saya harus keluar dari negara ini sementara waktu.

Dan kali ini saya akan berbagi sedikit keruwetan…

Sebagai pemegang paspor hijau, hidup di Afrika susah-susah gampang. Banyaknya negara yang tidak memiliki kedutaan di Indonesia (negara-negara yang dahulunya tidak pernah saya dengar namanya termasuk republik Malawi) menjadi penyebabnya, sehingga bagi warga negara Indonesia saya harus mengajukan aplikasi visa di negara lain. Jepang salah satu negara “terdekat” di Asia dimana kita bisa mengajukan visa. Kali ini saya beruntung bisa mengajukan dan mendapat visa Republik Malawi di kedutaan mereka di Brussels-Belgia.

Untuk perpanjangan visa kali ini, mau tidak mau saya harus kembali mengajukannya di negara lain. Kenya menjadi tujuan saya, karena merupakan salah satu negara “terdekat” dari Republik Malawi. Untuk memasukinya, warga Indonesia cukup membeli visa on arrival. 

Republik Malawi memiliki kedutaan di Nairobi ibukota Kenya, para pelancong dapat mengajukan visa disini. Permasalahan berikutnya adalah, sebagai warga negara Indonesia yang tidak berstatus temporary resident of Kenya, saya tidak bisa mengajukan permohonan visa Republik Malawi melalui kedutaan mereka di Kenya. Sehingga satu-satunya cara adalah saya harus kembali mengajukan permohonan visa di kedutaan mereka di Brussels-Belgia.

Membayangkan harus kembali ke Eropa di penghujung musim dingin, sungguh bukan hal yang menarik bagi saya.

Beruntunglah saya hanya perlu terbang ke Kenya menikmati liburan dengan matahari musim panas sambil menanti paspor saya kembali dari perjalanannya ke Eropa dengan selembar visa Republik Malawi kembali tertempel disana.

Bukankah ini sangat sempurna?! 🙂

Satu-satunya penerbangan ke Kenya adalah melalui Lilongwe, ibukota Republik Malawi dan perjalanan dari distrik Thyolo ke Lilongwe menempuh waktu  6 jam melewati luasnya plateu-plateu dan savana gundul memberi landscape berwarna coklat yang tidak pernah membosankan. Bunga kuning khas musim dingin sudah mulai tampak bermekaran saat itu…

….

Sesampainya di Kenya,

“Karibu!” seorang pria yang membawa kertas putih bertuliskan nama saya menyapa seketika saat saya keluar dari terminal kedatangan di bandara Jomo Kenyatta International Airport.

“Karibu is welcome in swahili, so welcome to Kenya” dia mencoba menjelaskan sambil mengantarkan saya melintasi kemacetan Nairobi menuju MSF Guesthouse, tempat saya bermungkim hingga tiga minggu ke depan. Nancy housekeeper di guesthouse telah menanti dan memberikan pelukan hangat selamat datang.

Pagi itu saya terbangun di desa kecil di selatan Republik Malawi dan malamnya saya tertidur di salah satu guesthouse di tengah hiruk pikuk kota Nairobi.

Ahh, hiruk pikuk kota dan kemacetan dimana-mana, entah mengapa rasanya mirip pulang ke rumah…  🙂

Thyolo dari Pinggir Jalan

Distrik Thyolo nama kota kecil di selatan Malawi ini, tempat kantor kami berpusat. Kota kecil di dataran tinggi dengan kebun teh tertua di Afrika. Ya Teh, tanaman hijau yang menjadi salah satu alasan Kerajaan Inggris menjadikan Negeri Nyassa ini sebagai daerah kolonisasinya.

Kehidupan disini amatlah sederhana, sepeda menjadi alat transportasi utama. Baik pribadi maupun bycyle taxi. Satu yang menarik perhatian saya adalah tidak adanya papan reklame yang umum saya dapati di kota-kota lainnya. Membuat tiap reklame yang terpasang di toko-toko kecil keperluan masyarakat menjadi adalah seni yang dilukis oleh tangan-tangan terampil.

….

Mungkin waktu berhenti di distrik ini, tapi tak mengapa. saya senang terjebak di dalamnya… 🙂