Hai dinda…

Satu-satunya tempat yang ingin saya kunjungi saat ini adalah ruangan kecil di Lantai 2 Fakultas Kedokteran UNHAS. salah satu tempat yang saya sebut rumah, tempat pertama kali saya tertarik akan bidang kemanusiaan. saya lahir dari janji yang terpatri di rumah kecil itu, di TBM Calcaneus FK UNHAS.

Banyak cerita yang menggantung indah disana, tempat saya belajar bahwa memang tidak mudah melebur, memecah tiap partikel ke-Aku-an kemudian mencipta wujud “Kita”, tempat saya belajar berhenti bersikap sinis akan mimpi dan kebersamaan, tempat saya belajar bahwa tidak ada kata tidak untuk menolong sesama dan tak ada kata “nanti” hanya ada sekarang dan saat ini. Tempat saya belajar bahwa janji yang sependek tarikan napas akan mengalir seumur hidup.

Sore ini di Afrika, saya teringat para prajurit-prajurit kecil yang kami sebut saudara telah menuntaskan baktinya setahun menjaga rumah kecil kami. ingin rasanya menyalami dan memeluk mereka satu-persatu, kembali tenggelam dalam ruang kecil di lantai dua itu.

Tapi rindu masih menggantung tinggi dan belum tersapu oleh pertemuan, biarlah sore ini saya mengirim salam melalui catatan Hai dinda. semoga sampai tepat waktunya, sebelum mentari tenggelam esok hari.

***

Hai dinda, apa kabarmu disana? Di rumah kecil kita? Ku yakin kini kau telah tumbuh dewasa…

Malam larut di desa kecil ini dan sontak ku teringat padamu. Bukan kunang-kunang yg membuai kenangan ataupun semilir angin barat ini yg membawa kabar, bintang selatan yg tiap malam kupandang pun tak berujar secuil beritamu nun jauh disana…

Ya, aku hanya tiba-tiba teringat padamu. Deja vu mereka berkata, tapi takdir ku berujar pelan. Ku hanya rindu menyapamu walau mungkin tiap malam ku bermimpi akan kebersamaan kita. Dan setahuku seperti keyakinanku, ku tahu mungkin disana kau tak sedikitpun ingat padaku.

Hai dinda, apa kabarmu disana? Di rumah kecil kita? Ku yakin kini kau telah tumbuh dewasa…

Kembali ku teringat saat pertama kau lahir dari janji yg terpatri dipaut oleh alam dan sunyi pagi. Kau sekecil genggaman tangan yg bertaut tak tergores oleh satupun legam malam atau sinar pagi yg menyengat. Kau adalah nafas baru bagi kami dirumah kecil itu. Tetes keringat, perjuangan dan keyakinanmu menyertai hari-hari ku. Tahukah saat itu adalah saat terberat bagiku? Saat suatu malam ku harus berjanji [lagi] untuk menyertai hari-harimu disini? Sekecil genggaman tangan dan sependek satu tarikan nafas, suatu malam saat ku mengamini janji untuk menyertaimu…

Hai dinda, apa kabarmu disana? Di rumah kecil kita? Ku yakin kini kau telah tumbuh dewasa…

Banyak hal yg telah berubah dari pertama kali kau memandangku dan menapak ragu kedalam rumah kecil kita, kau yg dulu kecil tak berdaya kini berdiri menopang baja dalam balutan busana ksatria. Bahkan para tsar dan tsarina Rusia pun tampak bukan apa-apa pabila disandingkan denganmu. Waktu bergulir pelan dan kaupun berubah. Sadarkah kau dinda? Ku bangga dengan patri janjimu dan janjiku sendiri. Kalian ada dimana aku berada. Tak ada kata tidak dan tidak mungkin bagimu saat ini. Sadarkah dinda? Ketakutan terbesar mu akan kegagalan dan ketidakmampuan masih membelenggu setiap saat, tapi tanpa sadar kalian telah menapaki jauh menembus batas-batas kegagalan dan ketidakmampuanmu sendiri. Pandanglah kebelakang, sejauh mana kau berjalan dan selebar apa jurang rintangan yg telah kau loncati? Kau pasti kagum akan kemampuanmu sendiri…

Awal hari kau masih sekecil genggaman tangan, rapuh dan masih buta meraba. Pelan-pelan kau berdiri, tak mudah memang! Sering kau terjatuh. Tapi tak secuilpun keraguan merasukiku. Ku yakin padamu, kekuatan mimpi, kebersamaan dan keyakinanmu adalah jurus terampuh. Sekali lagi ku tak pernah gagal dan saat ini bangga ku memandang keberhasilanku menilai keberhasilanmu.

Hai dinda, apa kabarmu disana? Di rumah kecil kita? Ku yakin kini kau telah tumbuh dewasa…

Seperti layaknya mentari yg bergulir meniti hari dari fajar hingga senja, waktuku tak banyak disini. Satu masa terlampaui dan mustahil untuk terulang kembali. Sejarah menulis suatu masa dimana aku berada di tempatmu berdiri sekarang, dan suatu masa yg lain sejarah akan menulis kisahmu yg semoga lebih indah dari kisahku. Saat adik-adikmu lahir adalah masa pembuktianmu dinda, dikepalamu akan segera terpasang mahkota. Lembaran sejarah telah habis untukku dan kini mereka akan mulai menulis kisahmu…

Ku tahu kau ragu dinda, ku tahu kaupun takut. Takut akan ketidakmampuanmu, takut akan kegagalan ataupun takut akan belenggu ikatan yg mungkin menggerogotimu. Tapi sadarkah kau dinda, itulah mengapa ku senantiasa bersamamu? Karena keberadaanku untuk menopangmu dari keraguan dan ketakutanmu. Saat mereka datang, kau berujar pelan akan janji dan doamu di hari kelahiranmu. Tak sedikitpun kau menistakan kelemahanmu. Tapi kau tahu kekuatanmu ada pada kebersamaan dan keinginanmu untuk belajar…

Jangan takut dinda, kau tak pernah sendiri. Bahkan alam raya pun akan bernyanyi lantunan doa melindungimu. Saat kau yakin dan percaya pada kemampuanmu. Tak ada satu apapun yg dapat merintangimu. Kau hanya perlu percaya akan dirimu sendiri dan menjaga janji itu…

Hai dinda, apa kabarmu disana? Di rumah kecil kita? Ku yakin kini kau telah tumbuh dewasa…

Tak ada kata tidak bisa bagi yg mau belajar dan berdoa, yg akan kau hadapi didepanmu saat ini bukanlah hal yg mudah, tapi sekali lagi mari menengok sejarah. Ku pernah disana dan ku bisa! Ku yakin kau yg lebih tangguh akan menapakinya dengan sentosa.
Menangislah dinda saat kau butuh, berujarlah pelan akan ketidakberdayaanmu, tidurlah saat lelah menyelimutimu. Tapi jangan sekali-kali kau berusaha berpaling dari jalan didepanmu. Percayalah akan senantiasa ada bahu untukmu berbagi tangis dan haru, akan selalu ada hati yg merangkulmu dalam ketidakberdayaanmu dan akan selalu ada mata yg menjagamu dalam tidur nyenyakmu. Percayalah ada aku yg menjagamu selalu…

Selayaknya bukit yg basah tergenang sisa es musim dingin di saat mentari musim semi pertama. Kini tunas-tunas baru telah tumbuh dinda, kau pun telah menjelma menjadi pohon-pohon yg rindang, menaungi dan menjaga kelestarian tunas-tunas baru. Mereka tak akan ragu menapak musim semi ini, disaat semilir angin maupun terjangan badai, kau dengan kokohnya mampu melindungi mereka.
Kau tumbuh ditanah yg sama dengan mereka, berbagi siang dan malam. Bahkan hujan akan bernyanyi lagu yg sama untuk kalian semua. Ajarlah mereka dinda, bagaimana melalui hari dan bertahan. Ajarlah mereka akan kekuatan mimpi, harapan serta kebersamaan. Ajarlah mereka dinda bahwa pada akhirnya semua pengorbanan tidak akan ada yg sia-sia. Mereka akan belajar banyak darimu. Sekali lagi, jangan pernah ragu akan kemampuanmu. Kau telah tumbuh dan akarmu kuat menapak bumi, tak akan ada yg bisa menumbangkanmu dinda…

Dan aku kini bagai pucuk-pucuk daun ek di musim gugur, menguning rapuh di ketinggian alam. Ku memandang kalian dari senjaku dengan senang, ku memandang langit luas tak berbatas. Dalam tasbih alam yg berkumandang, ku hanya menunggu angin membawaku pergi menjauh darimu.

Kemana? Aku pun tak tahu…

Tapi pasti ku kan kembali jatuh disini, ditanah yg sama denganmu, bersatu dan menopangmu [selalu].

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s