Kidung Malam Ini

Processed with VSCO with a5 preset

London – Inggris Raya, 25 Desember 2016 [05:20 PM]

Kau dan aku adalah lantunan bait-bait yang dinyanyikan alam raya dalam bisunya…

***

Saya melewati gang kecil di sisi selatan Stasiun Euston kala segerombolan anak kecil tengah berbanjar rapi dan melantunkan Christmas Carol. Topi-topi santa menghiasi kepala mereka, tampak sesuai dengan senyum yang mereka kembangkan. Seorang anak berkulit gelap menenteng ember plastik berisi beberapa receh koin dan kertas.

“Would you share your spare for children with Cancer Sir?”

Ia menodongkan ember tersebut ke arah saya yang memelan dan menikmati lantunan nyanyian mereka.

“Sure…” Beberapa receh koin pun saya letakkan.

Tebak saya, usia mereka rata-rata tak lebih dari sepuluh tahun. Gigi mereka bergemeletuk memberi irama pada lagu “Silent Night” yang tengah mereka nyanyikan. Mungkin bagi mereka ini adalah sebentuk kesenangan dan hiburan, tapi tak ada yang dapat menepis sebait pengorbanan disana, berdiri dengan kaki kecilnya, menantang suhu musim dingin London yang senantiasa menggerutu dan tak bersahabat. Semua untuk manusia yang tak mereka kenali nama dan rupanya.

Perayaan agama senantiasa memperlihatkan sisi baik dari manusia, ia hadir dalam rupa Natal ataupun Lebaran yang dapat saya jumpai di belahan bumi manapun saya bersinggungan dengan bulan suci itu. Pada kebiasaan nenek saya yang berbagi setengah pesangon pensiun suaminya sang tentara, untuk pengemis-pengemis yang berderet di pagar kantor pos saat hari raya tiba. Pada kebiasaan rekan saya, seorang pria Malawi bernama Andy yang senantiasa menyelipkan kwacha – kwacha (mata uang Malawi) untuk para wanita tua penderita HIV-AIDS, yang berbagi bangku gereja dengannya kala misa Natal berlangsung. Dan pada tiap-tiap rekan kerja saya, yang meninggalkan kenyamanan dan hangatnya keluarga untuk menjawab panggilan kemanusiaan di sudut-sudut bumi tempat kami bertemu.

Dari mereka saya belajar bahwa dengan berbagi, manusia mencukupkan dirinya.

Continue reading

Advertisements

Kepada Rumi, Saya Patah Hati

Konya – Turkey, 28 Desember 2014 [07:40am]

 Hujan rintik-rintik menyisakan embun di kacamata saya.

Jujur saja saya paling tidak suka saat tak mampu melihat dengan sempurna. Kacamata yang berembun membuat saya pincang, buram jalan dan manusia melebur layaknya santan putih yang dituang di semangkok bubur ketan hitam. Insting pun seketika menjadi pelakon utama yang menuntun saya berjalan. Samar-samar saya melihat rupa menara hijau tinggi di seberang jalan, satu-satunya warna cerah yang mencuat di balik berundak-undak awan di atas kota Konya.

Subuh tadi seorang karib mengirimi saya sebuah surel panjang berisi refleksi dirinya setahun terakhir. Natal yang baru saja berlalu menjadi kuil untuknya berkontemplasi tentang hidup, kepercayaan, mati dan cinta. Sayang 2014 bukanlah tahun terbaiknya, karib saya ini baru saja ditinggal pergi kekasihnya. Bukan dia saja yang patah hati, saya pun dibuatnya ikut patah hati. Bagi saya keduanya adalah pasangan sempurna, layaknya lonceng kecil dan leher domba. Dalam perbedaan mereka saling melengkapi, bahkan ketika saling membenci mereka berjanji untuk tetap saling mencintai.

Surelnya adalah ungkapan patah hati, tulisannya mengingatkan saya pada hari dimana mereka berpisah dan percakapan lintas benua kami yang berlangsung hingga dini hari kebanyakan berisi hening dan seguk tangisnya di seberang sana.

The wound is the place where light enters you

Ia mengutip sajak favorit kami, disela-sela baris surelnya. Continue reading

Manusia, Tuhan, Cinta dan Meja Makan yang Dibagi Dua

Selçuk – Turkey, 24 December 2014[07:12pm]

“Can I sit here? tanya dia.

Sesaat saya memandang pria itu sebelum menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Have you ordered?” Tanyanya lagi.

“Not yet, it seems there’s only  one waiter and he’s pretty busy” jawab saya sekadarnya.

Beberapa saat kami berdua kembali sibuk dengan layar kecil ponsel kami sebelum pelayan bertubuh tambun dengan serpihan uban keperakan menyapa. Disodorkannya sebuah menu bergambar ke tengah-tengah meja, kemudian perhatiannya kembali terarah pada layar televisi yang tergantung di tengah-tengah ruangan. Continue reading

The Cycle of Everything

Selçuk – Turkey, 24 December 2014 [06:06pm]

“There are two roads, most distant from each other: the one leading to the honorable house of freedom, theother the house of slavery, which mortals must shun. It is possible to travel the one through manliness and lovely accord; so lead your people to this path.” ~ The Oracle of Apollo

***

Matahari tengah menggantung tinggi saat saya tiba di Ephesus siang tadi. Silaunya memberi bayang-bayang lebar yang menutupi setengah Amphiteater-nya yang megah. Pengukur suhu digital di telepon genggam saya menunjukkan angka tujuh, angka yang cukup nyaman di pertengahan musim dingin seperti ini. Saya merapatkan jaket tipis berwarna hitam yang tengah saya kenakan, sembari melayangkan pandang ke sekeliling, Mencoba menikmati momen sekejap.

Sedari kecil saya menyenangi mitologi Yunani dan peradaban Roma. Bagi saya, kisah mereka jauh lebih menarik dibanding komik tebal rekaan penulis-penulis Jepang. Para dewa-dewi Olimpus layaknya superhero yang hidup dalam imajinasi saya. Meskipun kisah mereka jauh dari sempurna -bergelimang intrik, perang, cinta dan kecemburuan- tapi peradaban yang mengagungkan mereka berkembang jauh melintas ruang dan masa. Nama-nama mereka menghiasi langit dalam rupa gugusan bintang, planet hingga bulan-bulan yang mengorbit pelan. Mereka seakan hidup dalam jagad raya yang manusia temukan. Dari peradaban Yunani dan Roma, para filsuf-filsuf yang saya kagumi berasal, ilmu pengetahuan pun berkembang dan lahir layaknya Athena yang lahir dari kepala Zeus yang terbelah.

Mereka membangun kota-kota besar, kuil-kuil pemujaan dan perpustakaan raksasa ribuan tahun sebelum manusia mengenal alat berat dan kendaraan bermesin!

Continue reading

Bukankah kita mencintai kemungkinan? Membiarkannya mekar di tiap-tiap kesempatan? Mencintai masa sekarang, tapi juga menyimpan rindu kepada masa lalu dan berharap penuh pada masa depan.

Terkadang rasa suka kita kepada rasa melebihi rasa suka kita kepada realita. Terkadang kita senang menebak kemungkinan, memikirkan tiap peluang baik yang dapat ditemui di tiap sudut persinggungan dan melapangkan perasaan untuk diisi dengan mimpi-mimpi indah yang jauh dari jangkauan.

Dan terkadang lupa ada harga yang harus dibayar untuk tiap hal yang manusia pikirkan ataupun rasakan; Waktu.

Dan waktu memiliki satuan tertentu, yang sayangnya tak dapat diisi kembali  penuh….

Satu Masa di Bulan Februari

“Serendipity; [noun] The occurrence and development of events by chance in a happy or beneficial way” ~ Oxford Dictionary

***

Dubai – Uni Emirate Arab, June 20th 2014 [02:33am]

Saya tidak akan melupakan satu subuh yang sama empat bulan yang lalu, tepatnya tanggal 12 Februari 2014. Saat itu saya tengah menunggu penerbangan saya menuju Praha. Penerbangan yang [sayangnya] tak pernah tiba tepat di tujuan.

Saya akan berbagi sedikit cerita tentang hari itu.

Dari mana saya memulainya? Hmm, mungkin dari alasan kepergian saya…

Saya berencana mengunjungi Praha untuk menziarahi sang kota tua dan seorang karib lama. Lucka namanya, perempuan Ceko yang melewatkan setengah tahun bersama saya di gersangnya Sudan Selatan. Saya yang saat itu tengah bermungkim di barat Afrika harus menempuh seperempat belahan dunia sebelum dapat tiba di ibukota Republik Ceko. Tak ada penerbangan langsung menuju Praha, saya pun harus berganti pesawat di London.

Sayangnya sebuah musibah menimpa pilot pesawat Gambia Bird yang subuh itu akan saya tumpangi dan penerbangan pun ditunda menanti pilot baru tiba. Saya yang memiliki waktu transit yang sangat tipis mulai dibuat cemas, segenggam masa yang saya miliki mulai luruh perlahan demi perlahan. Continue reading

Paris, Je Me Sens Blue

Saya percaya bahwa kalian telah begitu seringnya melekatkan Paris dan cinta.

Dan saya pun demikian.

Hari dimana saya mengunjungi Louvre untuk pertama kalinya, saya tertegun memandangi sebuah patung indah yang menggambarkan legenda Cupid si dewa cinta dan Psyche istrinya. Suatu ketika Psyche yang menjadi pelayan Venus ditugaskan untuk mengambil sebuah termos berisi esensi kecantikan oleh sang dewi. Diwanti-wantinya sang pelayan untuk tidak membuka ataupun mengintip ke dalam termos tersebut. Psyche yang diliputi rasa penasaran, alih-alih langsung menuju Olympus untuk mempersembahkan termos tersebut malah berhenti dan membukanya. Hasratnya berujung bencana, esensi isi termos tersebut terlalu indah dan tak sanggup untuk disandangnya. Pscyhe meregang nyawa, seluruh tubuhnya tak berdaya.

Cupid yang terbang rendah seketika terkejut melihat istrinya yang telah terbujur tak bernyawa, ruh Psyche telah melangkah menuju sungai Stynx di dunia bawah. Diliputi rasa sedih dan nelangsa, Cupid menusuk istrinya dengan anak panah cintanya dan mengembalikan ruh Psyche ke dalam raganya. Sebuah kecupan penuh gairah di daratkan cupid ke bibir istrinya, cinta mereka hidup kembali…

Cupid and Psyche and couple in love
Cupid and Psyche and couple in love

Saya percata Cupid mencintai Paris seperti Parisian (sebutan bagi warga paris) mencintai kota mereka. Disini cinta terserak dimana-mana, pada hangat pelukan seorang pria yang merangkul kekasihnya di atas metro yang melintas cepat, pada senyum simpul wanita-wanita di taman kota, di genggaman pria yang menggenggam erat tangan prianya, di antara salam para rabbi Yahudi kepada imam masjid tetangganya serta di tiap bangunan tua, di relik-relik agama, di bantaran sungai Seine dan cafe-cafe yang tak henti-hentinya mengepulkan asap rokok dan cerita.

The most iconic bookstore of Paris
The most iconic bookstore of Paris

Continue reading