Anjing!

Saya tidak pernah menyukai hewan ini. Setidaknya dulu, hingga beberapa waktu yang lalu. Merunut ke belakang, semuanya bermula ketika saya masih kecil. Mungkin saya memiliki fobia atau mungkin juga sekadar rasa takut yang berkepanjangan saja.

Saya yang tumbuh besar di daerah pasar di barat kota Makassar, tinggal di rumah yang terletak di gang lebar berbatas tembok belakang rumah sakit serta sebuah gudang milik saudagar Tionghoa yang tak sekalipun pernah saya temui rupanya. Ia memiliki empat ekor anjing berukuran besar dan bertampang garang. Dua diantaranya berwarna hitam beledu dengan mata kuning keemasan, telinga mereka runcing dengan monjong panjang, bulunya yang pendek tampak menyerupai kulit telanjang dari kejauhan.

Setiap hari mereka rutin berpatroli di gang kami, menggonggongi siapa saja yang melintas dalam radius kerja mereka. Satu dari mereka galaknya minta ampun, si betina berwarna cokelat – yang kala melonglong di malam hari membuat saya seketika meminta izin tidur di bawah ranjang Ayah – tak jarang mengejar siapa saja yang diendusnya mengeluarkan aura ketakutan. Continue reading

An Abundant of White

“People change for two reason; either their mind has been enlightened or their heart has been broken”

***

Seemingly I saw that phrase written at the corner of a magazine page. The old guy that sits next to me has been reading it for quite sometimes before he falls asleep soundly. It was one hour to go before the train arrives at Denizli, from the window morsel with light rain I could see the bright orange sky was slowly turning to dark violet. Swirling sound of steel hitting the bottom of rail creates a humdrum music.

There was nothing such interesting with the scenery. An abundant of orange field crisscrossing towns that looked similar one to another, every half an hour or forty-five minutes the train will stop for a while at a designated station. Beside the old man that sleeping next to me the wagon was dared empty. I counted there was a total of seven people including me and nobody seemed knowing each other. No conversation, no sound of chit chatting neither a ring of a phone. The emptiness and constant humming of the train machine felt excruciating. Continue reading

Manusia, Tuhan, Cinta dan Meja Makan yang Dibagi Dua

Selçuk – Turkey, 24 December 2014[07:12pm]

“Can I sit here? tanya dia.

Sesaat saya memandang pria itu sebelum menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Have you ordered?” Tanyanya lagi.

“Not yet, it seems there’s only  one waiter and he’s pretty busy” jawab saya sekadarnya.

Beberapa saat kami berdua kembali sibuk dengan layar kecil ponsel kami sebelum pelayan bertubuh tambun dengan serpihan uban keperakan menyapa. Disodorkannya sebuah menu bergambar ke tengah-tengah meja, kemudian perhatiannya kembali terarah pada layar televisi yang tergantung di tengah-tengah ruangan. Continue reading

The Cycle of Everything

Selçuk – Turkey, 24 December 2014 [06:06pm]

“There are two roads, most distant from each other: the one leading to the honorable house of freedom, theother the house of slavery, which mortals must shun. It is possible to travel the one through manliness and lovely accord; so lead your people to this path.” ~ The Oracle of Apollo

***

Matahari tengah menggantung tinggi saat saya tiba di Ephesus siang tadi. Silaunya memberi bayang-bayang lebar yang menutupi setengah Amphiteater-nya yang megah. Pengukur suhu digital di telepon genggam saya menunjukkan angka tujuh, angka yang cukup nyaman di pertengahan musim dingin seperti ini. Saya merapatkan jaket tipis berwarna hitam yang tengah saya kenakan, sembari melayangkan pandang ke sekeliling, Mencoba menikmati momen sekejap.

Sedari kecil saya menyenangi mitologi Yunani dan peradaban Roma. Bagi saya, kisah mereka jauh lebih menarik dibanding komik tebal rekaan penulis-penulis Jepang. Para dewa-dewi Olimpus layaknya superhero yang hidup dalam imajinasi saya. Meskipun kisah mereka jauh dari sempurna -bergelimang intrik, perang, cinta dan kecemburuan- tapi peradaban yang mengagungkan mereka berkembang jauh melintas ruang dan masa. Nama-nama mereka menghiasi langit dalam rupa gugusan bintang, planet hingga bulan-bulan yang mengorbit pelan. Mereka seakan hidup dalam jagad raya yang manusia temukan. Dari peradaban Yunani dan Roma, para filsuf-filsuf yang saya kagumi berasal, ilmu pengetahuan pun berkembang dan lahir layaknya Athena yang lahir dari kepala Zeus yang terbelah.

Mereka membangun kota-kota besar, kuil-kuil pemujaan dan perpustakaan raksasa ribuan tahun sebelum manusia mengenal alat berat dan kendaraan bermesin!

Continue reading

Sip of Morning and Tale of Politic

Karachi-Pakistan, 13th of February 2015 [09:36am]

I decided to start my day by visiting Machar Colony through Liyari Expressway. A highway that currently in a status of dormant from construction is located along Liyari River. It is designed to relieve the traffic of this giant city. The peaceful ambiance creates when I drive for couple of minutes is seldom to find in a city with robust noise echoing from each vein of the small alley.
When we talk about Lyari we talk about a history!
It was a hotbed of radical politics and intellectuals who settled in the aftermath of bloody partition India-Pakistan and still an area where political parties are made or broken. During the era of Zia ul Haq, Lyari sustained the liberal resistance; it becomes the defense base of political activist who risked their lives to fight the oppression of fundamentalist military regime.
A dense populated area locates at the tip of the city. The town is a hub for Pakistan People Party and home for Sheedi community. Gang  war, violent, football and targeted killing makes the town that was known as the oldest part of Karachi now become the epicenter of the most dangerous city in the world.
But for me Lyari is fascinating in many ways, I have visited the town several time. My journey to Liyari began couple of months with a first step to Marie Adelaide Leprosy Centre. I had the picture of violent area at the back of my mind, being ready to rob or attacked, horrendous event was nothing but certainty. But 10 minutes drives crossing small road, passed a series of old British-era buildings in pale yellow and blue color embroidered by street vendor guarded by arm-man in Shalwaar Kameez and thick mustache depicting the old-school hindi actor, slowly ease my worry. It’s an area as other town of Karachi.

Continue reading

Fortune One: Ode of Sierra

Sekeras apa sebuah surel dapat menamparmu?!

Tidak, saya sedang tidak menyampaikan retorika bukan pula berusaha memberimu sebuah pertanyaan filsuf yang mungkin kau temukan jawabannya saat membuka kitab-kitab suci Plato.

Saya sekadar meresonansi sebuah kalimat tanya yang terbersit di dalam otak saya. Pertanyaan itu pun tidak pernah terlintas sebelumnya mengingat surel secara harfiah tidak memiliki massa untuk dapat memberi sebuah rasa.

Pertanyaan itu hadir mengikuti jawabannya saat satu sabtu yang lalu kotak email saya menampilkan sebuah surat dari rekan di benua hitam.

“We are close to win the war Husni, all I can think is how much you want to be here now to end it…”

Pipi saya memerah dan berbagai macam perasaan menggelegak keluar, rasa iri pun bercampur rasa senang, rasa lega bercampur rasa iba, rasa tenang bersinggungan dengan rasa gelisah. Ebola yang menjadi mimpi buruk kami berbulan-bulan lamanya, perlahan mulai kalah.

Saya merasa tertampar tak bisa turun tangan bersama rekan-rekan saya di garis depan melawan salah satu virus paling mematikan di dunia ini.

***

Continue reading

Morning Elegance

Saat pagi menguap dari balik tenda-tenda berwarna dan selesap teh hangat mengusir dingin yang meringkuk nyaman sepanjang malam adalah momen yang paling saya senangi dari berkemah. Tak perduli saat itu berarti sebuah pendakian panjang berhari-hari lamanya atau sebuah perjalanan singkat di akhir minggu, bau sekam dari sisa-sisa api unggun semalam yang basah oleh rintik hujan bekerja layaknya kafein pekat yang diteguk para pecandu kopi, memberi semangat! Saat berkemah, alam memainkan peran seorang wanita ramah yang bekerja sebagai pelayan di kedai-kedai kecil di ujung kota, memberi kenyamanan dengan apa adanya. Membuat saya enggan untuk pulang ataupun beranjak pergi dari kekaguman. Tetapi berkemah bagaimanapun senantiasa berarti sementara, satu masa, satu momen, satu kesempatan dan kemudian setelah itu selesai…

Berkemah berganti kata menjadi berkemas…

Mengepak kembali barang-barang saya, melipat tenda-tenda berwarna, mematikan sekam api dengan tanah yang basah dan menyeruput teh terakhir sebelum ia berasa dingin.
Saya membawa pulang semua beban, ransum dan sampah.

Serta meninggalkan satu saja hal: Masalah.

Dan itu lebih dari cukup untuk meringankan perjalanan pulang saya.

Harapan tertinggi saya?

Sederhana saja: Saya hanya butuh hidup yang tenang, bersinergi dengan alam dan segenap isinya, menghormati kehidupan sebagaimana tiap entitas itu mencintai penciptanya dengan caranya masing-masing. Saya ingin menua dengan bahagia, melewatkan masa-masa muda dengan petualangan dan rangkaian cerita belajar serta menghargai kehidupan dan menghormati tiap-tiap kepercayaan yang ada.
Berjalan mengajarkan saya bahwa tradisi bukanlah ritual belaka. Di tiap-tiap lekuk kisah dan sejarah selalu terselip doa untuk pencipta jagad raya. Berjalan bukan hanya perkara mendatangi tempat-tempat yang indah, ia mengajarkan saya arti hakiki dari berziarah.

Ya. Saya menziarahi bumi, rumah yang tak urung saya kenali tiap ruangnya…

Romance of Pakistan

Karachi – Pakistan, December 13th 2014 [10:22am]

 Jika kalian lelah seperti saya, mari sebentar saja berjalan-jalan dalam cerita…

***

Ayah saya pernah bercerita tentang destinasi impiannya; Hippie Trail, sebuah jalur alternatif yang membentang dari negara-negara di Eropa, melintas Iran, Syria, Pakistan, Afghanistan dan India sebelum berakhir di pinggir-pinggir pantai di Bangladesh atau Thailand. Jalur ini menjadi salah satu favorit para pejalan hippie atau bagi mereka yang mencari pencerahan dari filsuf-filsuf timur.

Hingga awal tahun 70an Iran, Syria dan Pakistan membuka pintunya lebar-lebar bagi para pelancong lintas benua. Negara-negara itu menjadi surga yang dapat dijangkau hanya dengan menumpang kereta. Anak-anak muda Eropa dengan tampang kucel dan baju seadanya dengan mudah dijumpai sedang bersantai sembari menghisap Hashish di atap-atap motel murah di Peshawar ataupun Lahore.

Cerita berubah saat Rusia menginvasi Afghanistan dan Iran terlibat sengketa dengan tetangganya Irak, Hippie Trail menjadi terlalu berbahaya untuk disebut sebagai destinasi wisata. Pintu surga itu pun tertutup rapat-rapat saat gelombang revolusi Islam memasuki Pakistan. Wajah negara ini pun berubah, sejak saat itu hingga kini.

***

Continue reading

Karachi – Pakistan, December 6th 2014 [11:04am]

“Tuhan senang menyimpan orang-orang baik untuk dipertemukan dengan orang-orang baik lainnya”  Sepertinya itu berlaku bagimu dra!

Mungkin kamu sempat bertanya-tanya, apakah takdir manusia layaknya gulungan benang merah di baju-baju gadis Tionghoa? Kusut bergelung, saling memilin tak tentu arah, Semakin kepinggir semakit sulit untuk diretas.

Orang bijak berkata bahwa hidup, mati dan jodoh ada di tangan Tuhan. Saya sempat bertanya-tanya, selebar apakah tangan Tuhan hingga orang baik sepertimu sungguh sulit bertemu jodoh? Saya membuat sebuah perkalian probabilitas bahwa mungkin kamu dan sang jodoh berada di titik polar yang berlawanan, sehingga bagi takdir kalian untuk bersinggungan memerlukan lompatan mekanik maha dashyat. Tapi kali ini saya salah, kamu pun sepertinya salah. Setengah hatimu tak pernah jauh, bukan begitu?

Continue reading