Zanzibar dalam Tiga Cangkir Teh

Zanzibar Coffee House, 8 July 2013 [05:45pm]

Ini sudah cangkir ketiga, selesap demi selesap teh hitam tandas sudah. Sepertinya ada yang salah dalam tiap cangkir yang saya minta, selalu ada rasa ingin tambah di akhir seduhannya. Sungguh saya mengangkat jempol akan rasa teh di pulau ini, satu sendok kecil madu sudah cukup untuk menyempurnakan seduhannya, membalut teh yang menjadi perpaduan antara daun teh hitam dan vanilla dengan rasa manis. Membuatnya menjadi salah satu teh ternikmat yang pernah saya icip dalam hidup saya.

Zanzibar Coffee House nama tempat ini, bangunan tua berlantai tiga dengan pintu ukir persia dan sebuah poster kuno tentang tata cara menyeduh kopi dalam bahasa arab, menghias salah satu dindingnya. Beruntung saya menemukan tempat ini tanpa sengaja, mereka tidak hanya menyajikan kopi arabika Zanzibar yang pekatnya melegenda, tapi teh hitam vanilla yang di seduh dalam cangkir pualamnya menarik seluruh gravitasi saya, membuat saya betah duduk lebih lama. Sayangnya ini mungkin cangkir terakhir saya, sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang toko ini akan segera tutup seperti toko-toko yang lain. Continue reading

Advertisements

Next Adventure: Ocean!

Indian Ocean, 7 July 2013 [10:56am]

 Debur ombak, angin barat yang membakar, bau garam, lautan biru tak berujung. Saya pulang!

***

Manusia dan laut senantiasa memiliki hubungan yang unik, setidaknya itu menurut saya. Manusia dan rasa keingintahuannya berusaha menjelajahi laut, mencari tahu apa yang ada di balik horizonnya. Dibangunnya kapal-kapal besar dari batang kayu terkuat, di bentangkannya layar-layar terlebar dari rajutan kain-kain terbaik. Tapi pada akhirnya manusia tak pernah dapat menaklukkan lautan, para pelaut pun bergantung pada bintang sebagai penunjuk arah, atau bias cahaya merkusuar dari daratan terdekat. Di hembusan angin barat dan timur yang silih berganti mereka meletakkan harapan, berharap angin memeluk layar-layar mereka dan mengantarkan hingga tiba di haribaan tujuan

Manusia sebagai entitas tercerdas di bumi pun tidak dibekali dengan kemampuan untuk hidup di air, yang sayangnya menjadi daerah terluas di planet biru ini. Agama-agama Samawi turut bercerita tentang Musa yang mampu membelah lautan ataupun Isa yang dibekali kemampuan untuk dapat berjalan di atas air. Tapi tampaknya hanya mereka, dua manusia istimewa dari miliaran penduduk daratan yang dikisahkan memiliki kemampuan seperti itu, tapi saya yakin, ada jutaan orang lainnya yang berharap diberi mukjizat yang sama. Continue reading

May the road rise up to meet you, may the wind always be at your back, may the sun shine warm upon your face and the rains falls soft upon your fields and may God lead my way to find you again someday.

Somewhere over the sea, a place where you and me meant to be….