Berkaca tentang Papua dari Afrika

Pibor – Sudan Selatan, 4 Februari 2018 [12:06pm] 

Dua kali saya bertamu ke Papua dan dua kali pula saya dibuat jatuh cinta.

***

Pertemuan pertama saya dengan Papua tepat di penghujung 2012, selama dua minggu saya bertamu ke Mimika, mengunjungi beberapa suku di Baliem hingga menjejas batas Indonesia di Merakue. Kali kedua tepat sebulan setelah itu, saya kembali ke ujung timur untuk menikmati riuh bawah laut di Raja Ampat. Bagi saya yang menyukai olahraga selam, Raja Ampat adalah tempat dimana imajinasi manusia bersisian dengan realita. Gambarannya terlalu indah untuk dipercaya tanpa melihat langsung. Banyak yang berasumsi bahwa Papua menyerupai Afrika, tetapi saya dapat memberitahumu saat ini: Papua membuat saya jatuh hati lebih dari beberapa negara Afrika yang pernah saya jejaki.

Beberapa minggu terakhir, lini masa saya ramai oleh berita seputar KLB (Kejadian Luar Biasa) Campak dan Gizi Buruk yang melanda masyarakat Asmat dan pegunungan Bintang. Halaman depan berita dipenuhi gambaran anak-anak berbadan kurus kering dengan selang infus yang menggantung, manusia dengan perasaan yang masih berfungsi sempurna akan mudah dibuat terenyuh.

Tetapi kondisi itu di jawab dengan sigap oleh banyak kolega saya.  Banyak dari mereka yang kemudian beranjak ke Papua dan mendedikasikan waktu serta keilmuannya untuk membantu masyarakat Asmat. Dari catatan mereka, saya mengikuti perkembangan Asmat. Mereka menggambarkan betapa sulitnya mencapai Agats yang menjadi ibukota kabupaten Asmat. Hanya pesawat kecil yang mampu mendarat di bandara dan perjalanan berlanjut dengan perahu untuk melintas alur sungai-sungai besar. Dari udara, Asmat tampak bagai sulaman pohon-pohon rindang yang dibelah aliran sungai. Kombinasi transportasi serta infrastruktur yang tidak memadai menjadi tantangan relawan-relawan ini. Tiap harinya saya memantau laman mereka, menghitung dengan cermat jumlah kasus yang mereka paparkan, merangkak naik, pelan dan mematikan.

***

Tulisan mereka membuat saya tercenung, gambaran yang mereka berikan membuat saya bernostalgia tentang banyak titik-titik asing di Afrika yang pernah saya jejaki, layaknya pinang dibelah dua; Asmat serupa dengan banyak tempat di mana saya pernah ditugaskan.

Dan apabila saya dapat belajar dari sembilan tahun perjalanan saya menjadi relawan di krisis kemanusiaan, maka saya dapat menarik kesimpulan bahwa kompleksitas masalah kesehatan di daerah terpencil memerlukan lebih dari komitmen tenaga kesehatan.

Intervensi kegawat daruratan seperti KLB Campak memerlukan rantai suplai dan logistik yang mumpuni. Suplai obat-obatan maupun vaksin harus dibarengi dengan suplai logistik pendukung yang tidak terinterupsi. Tenaga medis hanya bagian kecil dalam intervensi krisis, mereka tak dapat bekerja apabila mereka tak dapat menjangkau masyarakat, tak ada ruang untuk bekerja dan tinggal, tak ada listrik untuk mengamankan suplai obat dan vaksin, ataupun jaminan keamanan. Untuk hal yang satu ini, pemerintah memegang peranan besar. Di banyak negara tempat saya bertugas, terkadang pemerintah masih terlibat perang aktif sehingga tidak dapat menjalankan fungsi ini. Tetapi saya percaya pemerintah kita kompeten untuk ini.

Di fase awal krisis, Rapid Health Assessment mutlak dilakukan. Untuk menilai kebutuhan medis, kondisi logistik, suplai, demografi, serta kultur setempat. Penilaian ini menjadi penting saat kita menyusun strategi intervensi. Hal terakhir yang kita harapkan adalah intervensi yang tidak tepat sasaran ataupun tidak sejalan dengan norma yang masyarakat anut. Beberapa cenderung melakukan penaksiran awal jarak jauh, dengan bergantung pada berita ataupun narasumber yang mereka kenal di daerah tersebut. Tetapi idealnya, Rapid Health Assessment ini dilakukan oleh tim kecil yang terlatih. Objektifitas serta subjektifitas haruslah seimbang tatkala melakukan penaksiran awal tentang kondisi krisis serta kebutuhan intervensi. Terkadang kita meradang tatkala mendengar berita tentang krisis kemanusiaan, banyak yang dengan cepat membuka posko bantuan, tokoh-tokoh politik pun layaknya semut yang mengerubungi gula dan langsung menuju ke lokasi krisis dengan membawa bantuan. Tetapi penting untuk kita sadari, bantuan yang tidak tepat guna atau pun relawan yang tidak terlatih mengurangi efektifitas intervensi, alih-alih bermanfaat, kesemuanya dapat memperberat kondisi krisis.

Pilar intervensi kesehatan pun harus seimbang antara aspek Kuratif, Preventif dan Promotif. Di saat KLB Campak dan Gizi Buruk, selain intervensi klinis yang berpusat di rumah sakit atau pun Puskesmas, tak kalah pentingnya kampanye vaksinasi Campak yang dikombinasikan dengan penyaringan kasus gizi buruk  pun perlu dilakukan hingga ke pelosok. Di sini pentingnya pemetaan putative cases (kasus awal) serta pola penyebaran. Strategi kampanye vaksinasi pun harus melibatkan elemen kultur serta pola hidup lokal. Beberapa tahun yang lalu, saya mengkoordinir kampanye vaksinasi campak di Sudan Selatan, mengetahui target kami adalah masyarakat suku yang bersifat pastoralis serta bermigrasi mengikuti ternak mereka, kami pun membuat strategi kampanye vaksinasi dengan ikut serta dalam migrasi ini. Desentralisasi kegiatan bijaknya tidak hanya di pusat-pusat kesehatan saja, ia harus dapat bergerak bebas, menyusur hingga ke lingkup-lingkup perifer masyarakat. Hal ini tak pelak membuat tim terkadang harus menetap di pedalaman hingga berminggu-minggu, ke semuanya untuk memastikan cakupan yang sempurna.

IMG_5482.jpg
Kampanye vaksinasi Campak bagi suku Uduk di Sudan Selatan

Di saat strategi intervensi telah ditetapkan, penting pula untuk menimbang sumber daya manusia yang dibutuhkan. Intervensi kuratif di lingkup rumah sakit memerlukan dokter atau tenaga spesialisasi, tetapi intervensi preventif tidak selalu memerlukan dua profesi ini. SDM lokal dapat dikerahkan sebab mereka mengenal struktur demografis serta geografis lokasi intervensi. Task shifting (pengaihan tugas) dapat menjadi jalan keluar di saat SDM terbatas, hal ini pun berguna untuk memastikan keberlanjutan serta mengurangi ketergantungan atas tenaga luar.

IMG_5822.jpg
Penyaringan gizi buruk di kampung suku pedalaman Sudan Selatan

Pemetaan status gizi penting untuk mengetahui derajat GAM (General Acute Malnutrition) serta SAM (Severe Acute Malnutrition) suatu daerah. Berdasar pada ini, intervensi nutrisi pada KLB gizi buruk kemudian disusun. Intervensi kuratif pada KLB gizi buruk umumnya mengacu pada dua pilar; Intensive Therapuetic Feeding Program yang umumnya berpusat di rumah sakit dan bertujuan untuk menstabilkan kondisi pasien serta Ambulatory Therapuetic Feeding Program yang berpusat di sentra layanan primer sebagai rujukan bagi pasien gizi buruk hingga status gizinya membaik. Apabila derajat GAM melebihi batas ambang Blanket Supplementary Feeding Program (BSFP) baiknya dilakukan dan mencakup seluruh penduduk suatu daerah.

IMG_5551
Penyaringan gizi buruk pada wanita hamil dan anak-anak di Sudan Selatan

Di beberapa negara, pola hidup masyarakat, makanan pokok, politik lokal, struktur gizi dalam keluarga serta struktur sosial menjadi elemen penting yang patut untuk diperhatikan. Gizi buruk adalah salah satu indikator krisis kemanusiaan yang lahir dari problematika sosial. Bijaknya perlu untuk mengurai kompleksitas problematika ini agar dapat menemukan solusi jangka panjang. Masyarakat terbentuk oleh strata tradisi serta peradaban yang mengakar jauh ke masa lalu. Banyak pemerintahan yang terbukti gagal untuk meningkatkan hajat hidup masyarakat apabila mereka buta merangkul elemen ini. Merelokasi suatu komunitas, meminta mereka mengubah pola hidup turun-temurun atau memperkenalkan berbagai macam program “revolusi” akan terdengar hampa dan sekadar solusi responsif saja apabila tidak memerhatikan elemen antropologis dalam penyusunannya.

***

Saya ingin menutup tulisan ini dengan menghaturkan hormat serta penghargaan saya bagi para relawan yang pernah dan tengah berjibaku di Asmat, serta para tenaga kesehatan yang mengabdikan dirinya di titik-titik terluar Indonesia. Saya pernah di sana dan pemahaman saya tentang kesehatan tidak lagi sama setelahnya. Kesehatan adalah hak universal yang melintas segala batas dan kalian adalah orang-orang yang menyulam garis-garis kesetaraan yang putus.

Semoga Tuhan senantiasa bersama kalian hingga di akhir masa pengabdian.

Tabik.

Advertisements

Janus dalam Mozaik-Mozaik Kecil

Processed with VSCO with acg preset

Some people call me a polluter, others say I’m an artist. I prefer to think of myself as an invader.” ~ Invaders, 1973

***

Brussels – Belgia, 23 Desember 2017 [09:23am]

Brussels bagi saya layaknya bangku di peron stasiun kereta, tempat saya menunggu dan menuju perhentian berikutnya. Ia disinggahi kemudian melesap tanpa pernah benar-benar saya kenali. Tetapi itu pula yang membuat kota ini – tempat kantor saya berlokasi- istimewa, di persimpangan ini saya bertemu dengan banyak orang yang menorehkan cerita dan kisah dalam hidup saya, maka pertemuan dengan mereka di Brussels senantiasa menjadi hal yang saya nantikan tatkala kembali ke kota ini.

Apa yang menarik dari Brussels?

Saat menuliskan ini, saya mencoba-coba mengingat beberapa objek wisata yang pernah saya kunjungi. Tetapi layaknya kota lain di benua biru, bangunan bergaya Renaisans dan patung-patung kolosal yang menghias pusat kota tampak begitu generik dan tak bermakna. Mungkin saya perlu memberitahumu tentang Bia Mara, sebuah restoran yang menyajikan olahan ikan dan kentang yang membuat sajian khas Inggris dan Irlandia menjadi tampak kecil di negara asalnya ataupun tentang Le Fin de Siècle; restoran Belgia yang tersembunyi di lorong kecil Rue des Chartreux yang tak pernah sepi. Sajian kelinci berbalut saus beri yang begitu gurih membuat saya senantiasa kembali. Menziarahi kedua tempat ini menjadi hal wajib tiap kali saya mengunjungi Brussels.

Tetapi selain itu, saya tidak menemukan hal yang menarik. Atau mungkin lebih tepatnya, saya belum menemukan hal yang menarik…

***

Continue reading

Tatkala Ia Bersolek, Saya pun Terpana!

Processed with VSCO with a5 preset

London – Inggris Raya, 10 Desember 2017 [11:22am]

Salju pertama turun delapan hari yang lalu, ia kasar dan tak beraturan. Terlalu tipis untuk memutihkan pekarangan dan lantai kota. Ia menguap hilang berganti hujan tebal yang menggantung lama. Salju tak pernah bersahabat dengan kota ini, begitu pikir saya.

Lebih setahun menamai kota ini sebagai rumah, salju adalah barang langka yang hanya singgah beberapa menit saja, teman-teman saya yang tumbuh dan besar di kota ini pun mengamininya. Beberapa dari mereka melewatkan dekade – dekade hidup dengan dapat menghitung jari berapa kali hujan salju berkunjung.

London yang muram dan kelabu adalah gambaran yang setiap harinya saya dapatkan, tetapi itu pula yang membuat saya mencintai kota ini. Karena dibalik bilik-bilik rumah di ruas jalan, terdapat lampu dan pemanas yang senantiasa dinyalakan, ruang makan senantiasa diliputi aroma masakan, pub yang bingar, kedai kopi yang menghangatkan serta orang-orang yang membuat saya merasa pulang.

Tetapi pagi ini saya terbangun di tengah hujan salju yang lebat, begitu lebatnya ia memutihkan kisi-kisi jendela saya dalam sekejap. Matahari yang biasanya muncul sesaat sebelum pukul sembilan tidak lagi tampak, langit layaknya diselubungi kelambu tipis. Dari puncak-puncak rumah yang berbagi pagar, cerobong asap memuntahkan uap perapian, pohon-pohon yang mengering kini berdaunkan bunga es, jalan serta gorong-gorong pun berselaput tua.

Wajah London berubah dalam semalam dan untuk sesaat saya tidak mengenali kota ini!

*** Continue reading

Ikan Mas Turut Menertawakan Kelemahan Kita

Processed with VSCO with c6 preset

Mungkin ini saatnya untuk berhenti mengumpulkan dan mulai perlahan melepaskan…

London – Inggris Raya, 12 November 2017 [03:04pm]

Satu pagi enam bulan yang lalu saya bangun lebih awal dari biasanya dan bergegas mengeluarkan sebagian besar baju yang menggantung di lemari. Saya memilah pakaian, sepatu, topi, hingga kaos kaki yang terlipat rapi di laci-laci kayu dan memindahkannya ke kantong hitam yang dengan cepat terisi dan menggelembung.

Kotak kardus yang tergeletak di lantai perlahan mulai penuh dengan lembaran kartu pos dari kerabat, beragam hadiah, suvenir yang rutin saya kumpulkan dari berbagai kota dan negara, serta foto yang selama ini telah mengekalkan kenangan saya tentang orang-orang penting yang pernah bersinggungan. Setelahnya, saya menutupnya rapat-rapat, membawanya ke tempat pengumpulan donasi dan melepaskannya pergi mencari tuan yang baru.

Pagi itu saya memandang kamar yang kosong…

Meja belajar saya tak lagi bersolek dengan banyak benda, hanya tumpukan buku yang masih tertinggal di sana.

Lemari saya pun kini tampak telanjang, hanya terisi beberapa lembar baju, celana serta sepatu.

Saya tercenung untuk sesaat, mencoba menelaah keputusan saya satu jam yang lalu untuk melepaskan sebagian besar benda yang telah saya kumpulkan selama beberapa dekade.

Dan saya tidak pernah merasa lebih lapang dan bebas dari saat itu!

*** Continue reading

Tak Ada Filosofi di dalam Kopi Kami Pagi Ini

Processed with VSCO with a2 preset

Matahari di musim gugur layaknya gadis perawan di sarang penyamun, ia menjadi begitu berharga, sehingga kala ia terbit tak ada pekerjaan lain yang lebih penting dibanding menikmati sekejap waktu saat ia bertahta.

***

Winchester – Hampshire, 28 Oktober 2017 [10:25am]

Saat ramalan cuaca memberi tahu bahwa Sabtu ini wilayah tenggara Inggris akan dihujani cahaya matahari, saya dan rekan saya Nick menanggalkan pekerjaan rumah yang menumpuk dan memutuskan untuk mengunjungi Wincester, sebuah kota kecil berjarak 68 mil di tenggara London. Nama Winchester muncul seperti kelinci dari topi pesulap, Nick tetiba teringat nama kota yang pernah didengarnya ini dan menyarankan kami untuk berkunjung kesana.

“I’ll drive us to Winchester, we can go for a walk and lunch before heading back to London in the afternoon” katanya. Saya yang hanya pernah ke tiga kota lain di Inggris selain London tidak akan menolak sebuah ajakan mengunjungi kota baru. Berbekal GPS yang menjadi penunjuk arah dan dua cangkir kopi, kami bergerak meninggalkan London di Sabtu pagi. Saya menyukai kopi yang dikawinkan dengan susu kedelai dan Nick senantiasa memilih kopi pekat yang diseduh cepat.

Bagi saya, kopi adalah ritual, layaknya segelas air dingin saat bangun pagi dan sebait ucapan “selamat malam” yang saya kirimkan saat beranjak tidur untuk adik-adik dan ibu saya. Kopi pun tidak memiliki identitas, kopi yang enak bukan berasal dari biji kopi yang ditanam di tanah dengan nama unik ataupun diseduh dengan beragam metode yang hingga kini tak mampu saya hapalkan satu persatu. Sebagai pembuka hari, kopi cukup dengan sekadar hadir, tak peduli ia terseduh dari teko di dapur, tersedia dalam tiga puluh detik dari restoran cepat saji di sudut jalan, ataupun hadir dalam cangkir tanah liat berhias latte art dari gerai kopi masa kini yang tumbuh layaknya cendawan di musim hujan.

Adalah waktu dan pengalaman yang dihabiskan tatkala mengecap kopi yang menjadikan ia bermakna.

Dan pagi ini, kopi kami berpasangan dengan sejarah dan agama…

*** Continue reading

Oasis Huacachina: Elegi Cinta yang Bertahan Terlalu Lama

Photo 10-29-15, 05 23 19.jpg

Oasis Huacachina – Peru, 29 Oktober 2015 [08:33 PM]

Matahari telah meluruh sempurna saat saya dan Honney tengah duduk di La Case de Bamboo. Kami sengaja memilih restoran vegetarian ini setelah mendengar desas desus tentang Quinoa Atamalada yang konon membuat turis yang mengunjungi Huachachina akan kembali lagi dengan dituntun oleh aroma masakan ini, yang menjadi penyatuan antara ají amarillo, jinten dan kacang pinus.

Di piring datar berwarna putih, Quinoa Atamalada yang berwarna lembayung tampak menyilaukan. Ají amarillo –yang sejatinya adalah cabai kecil berwarna jingga yang ditumbuk halus- memberi warna pada quiona yang pucat. Gurihnya kacang pinus terkecap saat saya menggigit potongan-potongan kecilnya. Sama sekali tidak ada yang salah dengan statemen itu, semua yang telah mencoba Quinoa Atamalada akan senantiasa ingat rasa dan tampilannya seperti mereka mengingat terik matahari yang memanggang tengkuk mereka di gurun-gurun terpanas dunia yang memagar Ica.

We made our own ají amarillo. To keep the taste fresh, we order the chilli from Huánuco every week. Restoran yang baik akan selalu menyiapkan ají amarillo-nya sendiri.” Perempuan bertubuh tambun yang menjadi pelayan sekaligus koki di restoran ini bercerita.

“Nenek moyang kami akan menghindari garam, seks dan ají amarillo selama beberapa hari sebelum membuat persembahan kepada dewa Inca. Legend says, the gods can’t stand the heat and spicy taste of ají amarillo haha!” kata-katanya terhambur bersama dengan gelak tawa.

*** Continue reading

Tentang Pasir dan Kupu-Kupu di Tengkuknya

Photo 10-28-15, 15 59 15.jpg

WHUZZZ!

Huachachina Sand Dunes – Peru, 28 Oktober 2015 [03:15 PM]

Gravitasi seakan terjungkal dan menarik segenap organ dalam rongga dada saya ke angkasa. Tubuh saya babak belur terhantam angin yang datang bagai peluru, mengiris tiap jengkal kulit dan menyisakan nyeri yang menggantung. Teriakan saya terbenam oleh raungan mesin mobil yang seakan menertawai penumpangnya. Dua puluh menit yang panjang dan tetes-tetes keringat yang berdesis sebelum menguap hilang kala ia menyentuh kerangka baja dune buggy yang kami kendarai.

Lima orang penumpang –dengan lutut masih gemetaran dan pegangan yang goyah- melompat keluar sedetik setelah mesin motor dimatikan. Mereka tak seharusnya menghabiskan seporsi besar lomo saltado siang tadi, kini gravitasi seakan menagih kerakusan mereka dan meminta irisan daging gurih dengan aroma bawang dan merica yang pekat itu untuk dikeluarkan dari perut mereka.

Tapi Honney tampaknya tidak terpengaruh sama sekali, matanya liar memandang puncak demi puncak bukit pasir yang seakan tak bertepi. Ia merayakan tiap partikel pasir yang menyusup di rambutnya dan radiasi matahari yang memanggang kulitnya sama rata dengan gurun yang kami jejaki.

“Husni stop raving and hurry up! We don’t have a lot of time, Angelito only agree to stop for 30 minutes in extremo sur. We have to keep moving”.

Continue reading

Saat Kita Menggenapkan Kisah-Kisah Ganjil.

Bogor – Indonesia, 15 Februari 2016 [02:37 PM]

 From   : AR Putri

To        : Me

Halo Kak Husni, 

Perhitungan Kakak tepat sekali, kami sekarang ada di kelas 2 SMA. Beberapa dari kami memang sudah pindah ke sekolah lain, tetapi kita semua still stay in touch with each other.

Senang sekali menerima e-mail dari kakak. Hal ini membangkitkan ingatan bahwa kami pernah ingin mempublish kumpulan cerita yang kami buat berdasarkan artikel yang kakak buat tentang Suku Dani.  Continue reading

Saat Kita Terpilin Dalam Jaring-Jaring Kemungkinan

Satu pagi di bulan Mei saat tanah Sudan Selatan tengah membara dihantam terik dan kaki-kaki telanjang legam dan hitam tengah retak kala bercumbu dengan tanah negeri muda ini.

Sebuah surel mengisi kotak pesan saya dan menjadi awal cerita lintas benua dan masa ini…

***

Bogor – Indonesia, 7 Mei 2013 [12:47 PM] 

From   : AR Putri

To        : Me

Dear Kak Husni Mubarak Zainal,

Kami adalah siswa-siswi kelas 8 dari Sekolah Nasional Plus Bogor Raya, Bogor yang terdiri dari kelas 8A dan 8B, berjumlah 48 siswa. Kami ingin berkenalan dengan kakak melalui email ini. Mungkin Kak Husni bingung, mengapa tiba-tiba kami  menghubungi Kak Husni, yang ternyata sekarang tidak tinggal di Indonesia lagi, melainkan di Malawi, Afrika. Ada cerita di balik keinginan kami mencari jejak dimana Kak Husni berada. Cerita itulah yang mendorong kami berusaha mencari tahu dimana keberadaan Kak Husni saat ini. Agak sedikit sulit menemukan alamat email Kak Husni, tapi untunglah akhirnya kami dapat menemukannya. Begini ceritanya: Continue reading

Satu Cerita dalam Ratusan Langkah 

Pernah empat kali dalam hidup saya menandai batas kemampuan fisik dan mental saya dengan pencapaian yang tidak pernah saya duga sebelumnya…

***

Yang pertama di tahun 2004, kala itu usia saya 19 tahun, dengan tubuh ceking dan fisik pas-pasan saya ditugaskan sebagai tim medis di sebuah Lomba Cross Country Wisata. Semua rencana menjadi bencana tatkala saya dan seorang adik kelas terpisah dari rombongan utama, membuat kami harus menjelajah rimba dan melintas dua lembah dalam dua malam, tanpa tenda, peta dan penerang. Tak ada api untuk mengubah berliter-liter beras di pundak saya menjadi nasi, serta tak ada jubah tenda untuk membangun kerangka-kerangka besi di tas saya menjadi tempat berteduh kala hujan deras di malam pertama, kami tidur beralaskan tanah dan berselimut satu ponco.

Dua hari kami bertahan dengan air hujan dan segumpal gula merah yang kami jilati kala perut keroncongan atau kepala mulai pening akibat kekurangan energi. Kesialan bertambah saat sepatu adik kelas saya rusak, kami yang berusaha memburu jejak matahari harus melambat mengikuti ritmenya. Saya pun memutuskan untuk memberikan sepatu saya padanya dan berjalan dengan satu kaos kaki bolong melintas hutan, gunung, menyisir lembah dan menepis semut-semut merah dan lintah yang tak henti-hentinya bergantungan di sela-sela kaki dan betis saya.

Beruntung di malam kedua kami bertemu dengan rombongan utama dan berhasil pulang dengan selamat. Sejak itu saya belajar; Agar jangan pernah mendaki gunung tanpa kaos kaki cadangan dan senantiasa menyelipkan gula merah dan doa di sela-sela langkah.

Yang kedua di tahun 2013. Kala itu saya dan dua orang teman bersepeda melintas desa Tikongko menuju kota Bo di Sierra Leone. 50 kilometer seakan meregang saat matahari di atas kami menguapkan tiap jengkal keringat. Suhu siang itu mencapai 40 derajat dan Ramadhan tak membuat hari menjadi lebih mudah.

Kerongkongan saya kering kerontang tapi saya berusaha sekuat tenaga untuk menepis rasa haus jauh-jauh. Sial lagi-lagi menghampiri dan salah satu rekan saya tak lagi kuat mengayuh pedal, menyisakan saya dan seorang wanita yang harus menggotong sepeda dan menopangnya hingga temaram lampu kota terlihat di kejauhan.

Sejak saat itu, tak lagi-lagi saya menerima ajakan bersepeda!

Yang ketiga kala usia saya 22 tahun. Di ICU salah satu rumah sakit, ayah saya menghembuskan napas terakhirnya. Setelah berbulan-bulan berjuang melawan Leukimia akhirnya di satu siang perjalanan beliau pun purna. Waktu seakan berhenti kala monitor di sisi kirinya tak lagi menandakan ia ada. Saya masih membisikinya lantunan ayat suci, genggamannya pun masih hangat terasa. Isak tangis Ibu dan adik-adik saya membuncah seketika, tak lama berselang tubuh kaku beliau telah basah oleh tangis hangat kerabat dan saudara.

Tapi ada sesuatu yang membuat saya tak meneteskan air mata, sesuatu yang tak saya ketahui mengapa. Saya memeluk keluarga saya yang kini tak lagi sempurna, menimang adinda saya yang terkecil dan tak urung menangisi kepergian ayah saya.

Beberapa minggu berselang setelah pemakamannya dan saya tengah merapikan jejelan baju yang menggunung, saya terantuk pada potongan tiket bioskop terakhir yang saya dan ayah saya kunjungi, beberapa hari sebelum ia pergi. Saya memandangnya lekat-lekat dan tanpa saya sadari air mata saya pun jatuh pelan-pelan.

Saya menangis. Terisak sendiri menyadari besarnya tanggung jawab yang kini saya emban, menyadari tak ada lagi ayah yang menjadi pelarian segala remeh temeh masalah hidup, enam kepala yang kini akan mendongak kepada saya saat dirudung masalah dan masa depan yang mau tak mau harus saya tantang sendiri. Sejak saat itu saya menutup lembaran hidup sebagai pemuda dan melangkah menjadi lelaki dewasa serta kepala keluarga.

Yang keempat?

Saya akan menceritakan sedikit lebih panjang tentang itu…

*** Continue reading