Saya berharap Tuhan tidak akan pernah bosan mendengar harapan dan mimpi dari tempat terjauh di bumi; Hati kami…
Gua dan Jejak Sejarah

“A people without the knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots” ~ Mark Garvey
Leang-Leang – Maros, 15 November 2012 [8:33am]
Karst Maros adalah salah satu destinasi liburan favorit saya, jaraknya yang dekat dari rumah dan pesona bentangan pegunungan kapur yang meliuk panjang di tengah area persawahan hijau yang luas membuat karst terluas di dunia -setelah Karst Guilin di Cina- ini seakan tidak ada habisnya untuk di jelajahi. Di balik pegunungan hitam yang menjulang tinggi, terdapat ratusan gua bentukan alam yang jauh melintas perut bumi menyembunyikan pesona lain daerah ini: jutaan stalagtit dan stalagmit yang berpadu dengan sungai, air terjun serta danau bawah tanah.
Saya senang menenggelamkan diri ke dunia di bawah sana, menemukan diri saya dalam konstelasi alam nan megah yang menanti untuk di pendarkan oleh cahaya senter. Di dalam gua, kesunyian adalah ketentraman absolut dan pekat gelap adalah teman perjalanan yang paling ideal.
Tapi rupanya ada gugusan gua yang sering saya alpa. Leang-Leang namanya, sebuah gugusan gua prasejarah yang menyimpan misteri kehidupan manusia zaman Mesolitikum. Atas ajakan rekan saya Achied yang tengah berkunjung ke Makassar, hari ini kealpaan saya seketika terhapuskan.
…
Setelah perjalanan 40 menit meninggalkan Makassar, kami telah disajikan pemandangan alam yang terbentang luas di kiri kanan jalan. Karst-karst hitam legam yang diselubungi hijaunya pohon membentuk formasi bentangan alam yang sangat mengagumkan. Tidak jarang kami menemukan formasi karst di tengah area persawahan, tak berubah, tak bergerak, tak pula dipindahkan. Manusia telah beradaptasi dan menerima kontur alam ini sebagai bagian dari tanah mereka. Sesekali kami melintas gerombolan sapi yang merumput dengan santai seakain ingin bersaing dengan para ibu yang tengah asik menikmati matahari pagi sambil bercengkrama di beranda warung-warung mereka.
Selalu ada rasa iri yang menjejak masuk melihat manusia yang dapat bersinergi dengan alam dalam suasana pedesaan seperti di sini, tak berlebih dan tak juga kekurangan. Dicukupkan.
…
Tak lama kemudian, kami telah sampai di kawasan Leang-leang.
Leang sejatinya berarti gua, kawasan ini memiliki dua gua yang menyimpan bukti akan adanya kehidupan manusia di jaman Mesolitikum; Salah satu periode di zaman pra-sejarah saat manusia masih hidup dalam gua dan berburu demi kelangsungan hidupnya. Pagi ini ditemani seorang polsus, kami akan merunut dan menyaksikan bukti keberadaan mereka
Beberapa menit berjalan dari pagar kawasan, kami telah tiba di atas sebuah tebing yang berfungsi sebagai pintu masuk gua. Lantai gua menjorok keluar berhiaskan bebatuan kapur berwarna putih, sangat kontras dengan karst di sekelilingnya yang berwarna hitam legam. Sulur-sulur tanaman menempel di permukaan stalagtit, menggantung jauh di atap gua seakan berusaha mencapai lantai. Memberikan kesan liar yang indah.
…
“Kerang-kerang ini adalah bekas sisa santapan mereka…” Sembari berjalan,polsus yang menemani kami memberi penjelasan.
Saya berhenti dan memandang fosil-fosil kerang yang membatu di pelataran mulut gua. Saya menyentuhnya dan masih dapat merasakan gulir-gulir yang menghiasi permukaan kerang. Seketika saya merinding karena takjub membayangkan 5000 tahun yang lalu ras manusia purba yang menjadi nenek moyang saya pernah bermungkim disini. Rasa takjub saya semakin menjadi saat menyadari keberadaan fosil kerang ini menjadi bukti bahwa kawasan tebing yang tengah kami daki, dahulunya adalah daerah pesisir dan lautan!
Masa ribuan tahun dilewatkan alam dengan bermetamorfosis secara sempurna, dari lautan menjadi pegunungan kapur yang menjulang tinggi. Sungguh ajaib!
…
Memasuki gua, suhu seketika berubah menjadi lebih dingin dan lembab. Pintu gua yang lebar memungkinkan cahaya matahari untuk masuk dan menyinari hingga ke langit-langit gua. Disana, terdapat sekumpulan lukisan berbentuk telapak tangan berjari lima -ada pula yang hanya berjari empat-, berlatarkan warna merah kekuningan. Lembab dan basah, seakan baru saja dilukis dan menanti untuk dikeringkan…
“Manusia gua memilih dedaunan khusus yang dilebur bersama batu untuk menghasilkan pewarna alami. Mereka kemudian menempelkan telapak tangan di dinding gua dan menyemburkan pewarna melalui mulutnya” polsus memberi penjelasan…
“Apa manusia purba dahulunya ada yang berjari empat?” dengan penasaran saya menunjuk lukisan telapak tangan yang hanya terdiri dari empat jari.
“Manusia purba memotong jari, sebagai tanda duka cita saat ada kerabat mereka yang meninggal, lukisan berjari empat menandakan salah satu anggota kelompok mereka ada yang telah meninggal” polsus kembali menjelaskan.
Saya bergidik!
Sesaat saya tertegun memandang lukisan-lukisan di dinding gua, silih berganti saya memandang lukisan telapak tangan yang berpadu dengan lukisan hewan menyerupai babi berwarna merah darah. Saya menyadari, kini saya tengah berhadapan langsung dengan bukti nyata keberadaan ras manusia purba di tanah ini.
…
Sejarah sungguh memainkan alur yang sangat apik, menyimpan misteri yang menanti untuk dikulik.
Saya tersenyum menyadari fakta bahwa kita manusia, tak peduli bentangan zaman ribuan tahun, manusia purba ataupun dengan tingkat intelegensi tinggi seperti saat ini. Kita memiliki satu kesamaan, kita semua butuh eksistensi.
Karena mereka yang tidak merekam jejak keberadaannya, akan terhapus dalam alur sejarah planet ini.
…
Akankah kita demikian? Semoga saja tidak…
Saya berharap tangan saya lebih dari dua, untuk memberi kepada sesama, menyokong mimpi, bersujud kepada Tuhan dan memelukmu di kala malam…
Family!

Thyolo District, 26 October 2012 [03:44pm]
Saya sering menuliskan kisah tentang hidup jauh dari rumah, berbagi halaman ini dengan cerita tentang mereka yang saya temui tiap hari di klinik kecil di pedalaman Afrika. Tanpa saya sadari, ada mereka yang kisahnya tak pernah tertulis dalam huruf dan rangkaian kata. Mereka, para tokoh yang berbagi cerita dengan saya dalam misi kali ini…
…
Mengemban tugas menjadi pekerja kemanusiaan di negeri ini, saya tidaklah sendiri. Misi kami mempekerjakan lebih dari 150 staf nasional yang bertugas di kantor ataupun di lapangan layaknya saya. Tapi berbanding terbalik dengan itu, kami hanya terdiri dari 7 orang pekerja asing. Mereka menyebut kami expatriat, saya menyebutnya keluarga…
Hidup sendiri dan jauh dari rumah, bagi saya mereka adalah rekan kerja, teman dan saudara. Kami berasal dari latar belakang, ras dan kebangsaan yang berbeda tapi dalam keberagaman kami menemukan sebuah sinergisme dalam hidup dan bekerja. Dari mereka saya belajar banyak hal, bagaimana saling menghargai dan bagaimana kemajemukan dapat mencipta rasa penghormatan. Continue reading
Saya menulis beberapa kalimat kemudian menghapusnya dan menulisnya kembali. mencoba mencari kata yang paling sempurna untuk menceritakan tentang seorang wanita yang tak sempurna.
Teruntuk ibu saya, yang berulang tahun hari ini…
Ibu saya adalah wanita pekerja, tiap gerus di tubuhnya melukiskan masa-masa sulit yang dia lewati. semenjak ayah saya tiada, ibu menjadi kepala keluarga bekerja tanpa kenal lelah untuk menopang keluarga kami | ibu saya jarang beristirahat, selalu bangun paling pagi dan tidur tak jarang di dini hari. ibu saya hanyalah lulusan sma, tapi dia adalah guru paling mempesona yang pernah tertulis dalam buku takdir saya… | ibu saya jarang mengeluh, jarang mengumbar rindu dan peluk cium nan syahdu. kami bukan keluarga romantis apabila saya mampu berkata, tapi diam kami berarti cinta dan teruntuk itu saya menyukai suasana bisu di meja makan kami | tawa ibu saya adalah obat paling manjur saat saya sakit, leluconnya yang kadang sarkastik menyadarkan saya bahwa realita hidup yang keras kadang cukup di tertawai saja | ibu saya cantik, saya sering berujar pada almarhum ayah betapa beruntungnya dia mempersunting salah satu wanita tercantik yang pernah Tuhan ciptakan ke dunia | ibu saya adalah penyemangat terbesar dalam hidup saya, tak pernah ada batasan yang diberikannya. apapun keputusan dalam hidup saya, ada doanya yang mengiringi…
Kini ibu saya berulang tahun, saya yakin hari ini hanya hari biasa baginya. bangun, berdoa dan bekerja. tapi kini saya yang berharap dan berdoa, semoga Tuhan senantiasa memberinya kesehatan dan semoga Tuhan memberi saya kesempatan, untuk membuatnya duduk diam dan menikmati hidup, seperti dia yang telah menghidupi saya selama ini…
Half Page of Northern Rhodesia
Livingstone City, 20 September 2012 [1:55pm]
Hari ini hari terakhir saya menikmati hangatnya matahari Zambia, seharusnya saya menuliskan kisah betapa megahnya negeri utara Rhodesia ini dengan Mosi-O-Tunya yang menggelegar serta Zambezi yang menggeliat panjang. Tapi biarlah halaman itu saya sisihkan sementara, untuk berbagi cerita tentang manusia-manusia yang bersinggungan dalam perjalanan saya kali ini.
Siapapun yang pertama kali berucap “the strangers you meet on the way will leave you a memory that will linger forever” benarlah adanya. Bagi saya, tempat yang kita tuju hanyalah separuh dari cerita perjalanan separuhnya lagi adalah orang-orang yang kita temui dan berbagi lintasan waktu sepanjang perjalanan.
Saya tidak pernah menyangka bahwa alam Zambia bukan hanya menarik para pejalan yang hendak bergumul dengan liarnya Afrika. Tapi juga para pencinta yang hendak menuliskan kisah mereka di hilir-hilir zambezi ataupun savana kering South Luwanga. Saya pun demikian, walau hanya dapat mengecap rasa cinta yang dibagi mereka dalam cerita. Tetapi ada keterikatan, yang membuat saya tersenyum senang saat mereka berbagi kisah manis dan tersenyum getir saat ikut merasakan kisah pahit yang dibagi…
***
Kadang saya berfikir bahwa kelahiran kita sesungguhnya adalah sebuah akhir dan hidup adalah perjalanan panjang untuk kembali ke rumah…

Di suatu siang, pertengahan bulan November dua tahun yang lalu, saya sedang berada di pelataran gereja di Sa Pa – Vietnam. Mencoba berlindung dari sengatan matahari siang itu yang sangat kontras dengan cuaca Sa Pa yang dingin. Tak lama kemudian ekor mata saya menangkap geliat seorang gadis kecil yang berusaha menjual souvenir sembari menggendong adik bayinya kepada sepasang turis eropa yang tengah berfoto. Sayang hanya penolakan yang dia dapatkan. Turis berlalu pergi dia pun juga memutar arah. Ekspresi sedih dan kecewanya sungguh menyentuh saya. Sedetik saya mengabadikannya dalam kamera, kemudian memanggilnya. Dagangannya yang berupa lima buah gantungan mungil hasil rajutan ibunya saya beli…
“Tengkuuu” dia berujar, dahi saya mengkerut berusaha mengartikan…
“Thankyou” dia kembali melafalkan, dalam bahasa inggris yang lebih jelas…
Saya tergelak dalam tawa, dia pun juga
Hari itu kami berdua pulang membawa cerita dan bahagia…
…
Sebuah serpihan kenangan singkat dua tahun lalu yang ingin saya bagi bersama kalian di #turnamenfotoperjalanan ronde ketiga oleh Wira Nurmansyah selamat menikmati cerita disana 🙂
Before I die, I want to know how does it feel to be alive…

Chintheche District, 9th September 2012 [05:33pm]
Bus AXA ini kembali berhenti untuk ke tujuh kalinya dalam rentang waktu 7 jam perjalanan saya, tepat di kilometer 368 dari Lilongwe Ibukota Republik Malawi di sebuah ibukota distrik kecil bernama Chintheche. Sekali lagi saya dan penumpang lain harus turun untuk menjalani pemeriksaan satu persatu oleh polisi perbatasan.
Hal yang lumrah bagi mereka? Tapi tidak bagi saya… Continue reading
You must be logged in to post a comment.