I hate silence, it’s an unspoken language yet I don’t speak. It has a poor translation and emptiness weak. I hate silence, when you are miles away and the language we speak is mere loneliness and million words to read…”
@justhityou
An Abundant of White
“People change for two reason; either their mind has been enlightened or their heart has been broken”
***
Seemingly I saw that phrase written at the corner of a magazine page. The old guy that sits next to me has been reading it for quite sometimes before he falls asleep soundly. It was one hour to go before the train arrives at Denizli, from the window morsel with light rain I could see the bright orange sky was slowly turning to dark violet. Swirling sound of steel hitting the bottom of rail creates a humdrum music.
There was nothing such interesting with the scenery. An abundant of orange field crisscrossing towns that looked similar one to another, every half an hour or forty-five minutes the train will stop for a while at a designated station. Beside the old man that sleeping next to me the wagon was dared empty. I counted there was a total of seven people including me and nobody seemed knowing each other. No conversation, no sound of chit chatting neither a ring of a phone. The emptiness and constant humming of the train machine felt excruciating. Continue reading
Manusia, Tuhan, Cinta dan Meja Makan yang Dibagi Dua
Selçuk – Turkey, 24 December 2014[07:12pm]
“Can I sit here? tanya dia.
Sesaat saya memandang pria itu sebelum menjawabnya dengan anggukan kepala.
“Have you ordered?” Tanyanya lagi.
“Not yet, it seems there’s only one waiter and he’s pretty busy” jawab saya sekadarnya.
Beberapa saat kami berdua kembali sibuk dengan layar kecil ponsel kami sebelum pelayan bertubuh tambun dengan serpihan uban keperakan menyapa. Disodorkannya sebuah menu bergambar ke tengah-tengah meja, kemudian perhatiannya kembali terarah pada layar televisi yang tergantung di tengah-tengah ruangan. Continue reading
The Cycle of Everything
Selçuk – Turkey, 24 December 2014 [06:06pm]
“There are two roads, most distant from each other: the one leading to the honorable house of freedom, theother the house of slavery, which mortals must shun. It is possible to travel the one through manliness and lovely accord; so lead your people to this path.” ~ The Oracle of Apollo
***
Matahari tengah menggantung tinggi saat saya tiba di Ephesus siang tadi. Silaunya memberi bayang-bayang lebar yang menutupi setengah Amphiteater-nya yang megah. Pengukur suhu digital di telepon genggam saya menunjukkan angka tujuh, angka yang cukup nyaman di pertengahan musim dingin seperti ini. Saya merapatkan jaket tipis berwarna hitam yang tengah saya kenakan, sembari melayangkan pandang ke sekeliling, Mencoba menikmati momen sekejap.
Sedari kecil saya menyenangi mitologi Yunani dan peradaban Roma. Bagi saya, kisah mereka jauh lebih menarik dibanding komik tebal rekaan penulis-penulis Jepang. Para dewa-dewi Olimpus layaknya superhero yang hidup dalam imajinasi saya. Meskipun kisah mereka jauh dari sempurna -bergelimang intrik, perang, cinta dan kecemburuan- tapi peradaban yang mengagungkan mereka berkembang jauh melintas ruang dan masa. Nama-nama mereka menghiasi langit dalam rupa gugusan bintang, planet hingga bulan-bulan yang mengorbit pelan. Mereka seakan hidup dalam jagad raya yang manusia temukan. Dari peradaban Yunani dan Roma, para filsuf-filsuf yang saya kagumi berasal, ilmu pengetahuan pun berkembang dan lahir layaknya Athena yang lahir dari kepala Zeus yang terbelah.
Mereka membangun kota-kota besar, kuil-kuil pemujaan dan perpustakaan raksasa ribuan tahun sebelum manusia mengenal alat berat dan kendaraan bermesin!
Sip of Morning and Tale of Politic
Karachi-Pakistan, 13th of February 2015 [09:36am]
I decided to start my day by visiting Machar Colony through Liyari Expressway. A highway that currently in a status of dormant from construction is located along Liyari River. It is designed to relieve the traffic of this giant city. The peaceful ambiance creates when I drive for couple of minutes is seldom to find in a city with robust noise echoing from each vein of the small alley.
When we talk about Lyari we talk about a history!
It was a hotbed of radical politics and intellectuals who settled in the aftermath of bloody partition India-Pakistan and still an area where political parties are made or broken. During the era of Zia ul Haq, Lyari sustained the liberal resistance; it becomes the defense base of political activist who risked their lives to fight the oppression of fundamentalist military regime.
A dense populated area locates at the tip of the city. The town is a hub for Pakistan People Party and home for Sheedi community. Gang war, violent, football and targeted killing makes the town that was known as the oldest part of Karachi now become the epicenter of the most dangerous city in the world.
But for me Lyari is fascinating in many ways, I have visited the town several time. My journey to Liyari began couple of months with a first step to Marie Adelaide Leprosy Centre. I had the picture of violent area at the back of my mind, being ready to rob or attacked, horrendous event was nothing but certainty. But 10 minutes drives crossing small road, passed a series of old British-era buildings in pale yellow and blue color embroidered by street vendor guarded by arm-man in Shalwaar Kameez and thick mustache depicting the old-school hindi actor, slowly ease my worry. It’s an area as other town of Karachi.
Fortune One: Ode of Sierra
Tidak, saya sedang tidak menyampaikan retorika bukan pula berusaha memberimu sebuah pertanyaan filsuf yang mungkin kau temukan jawabannya saat membuka kitab-kitab suci Plato.
Saya sekadar meresonansi sebuah kalimat tanya yang terbersit di dalam otak saya. Pertanyaan itu pun tidak pernah terlintas sebelumnya mengingat surel secara harfiah tidak memiliki massa untuk dapat memberi sebuah rasa.
Pertanyaan itu hadir mengikuti jawabannya saat satu sabtu yang lalu kotak email saya menampilkan sebuah surat dari rekan di benua hitam.
“We are close to win the war Husni, all I can think is how much you want to be here now to end it…”
Pipi saya memerah dan berbagai macam perasaan menggelegak keluar, rasa iri pun bercampur rasa senang, rasa lega bercampur rasa iba, rasa tenang bersinggungan dengan rasa gelisah. Ebola yang menjadi mimpi buruk kami berbulan-bulan lamanya, perlahan mulai kalah.
Saya merasa tertampar tak bisa turun tangan bersama rekan-rekan saya di garis depan melawan salah satu virus paling mematikan di dunia ini.
***
Morning Elegance
Saat pagi menguap dari balik tenda-tenda berwarna dan selesap teh hangat mengusir dingin yang meringkuk nyaman sepanjang malam adalah momen yang paling saya senangi dari berkemah. Tak perduli saat itu berarti sebuah pendakian panjang berhari-hari lamanya atau sebuah perjalanan singkat di akhir minggu, bau sekam dari sisa-sisa api unggun semalam yang basah oleh rintik hujan bekerja layaknya kafein pekat yang diteguk para pecandu kopi, memberi semangat! Saat berkemah, alam memainkan peran seorang wanita ramah yang bekerja sebagai pelayan di kedai-kedai kecil di ujung kota, memberi kenyamanan dengan apa adanya. Membuat saya enggan untuk pulang ataupun beranjak pergi dari kekaguman. Tetapi berkemah bagaimanapun senantiasa berarti sementara, satu masa, satu momen, satu kesempatan dan kemudian setelah itu selesai…
Berkemah berganti kata menjadi berkemas…
Mengepak kembali barang-barang saya, melipat tenda-tenda berwarna, mematikan sekam api dengan tanah yang basah dan menyeruput teh terakhir sebelum ia berasa dingin.
Saya membawa pulang semua beban, ransum dan sampah.
Serta meninggalkan satu saja hal: Masalah.
Dan itu lebih dari cukup untuk meringankan perjalanan pulang saya.
Gratitude
Karachi – Pakistan, 27th January 2015 [01:03am]
Christmas Eve has just passed and the jingles of merry were resonant through the coldest time of the year. I was in Konya, center of Anatolian region in Turkey, about to pay my respect to the great scholar and poet; Rumi. When an email with title “Gratitude” was arrived in my Inbox. It was from one of the person that I dearest the most.
As I read his email, time was flashing back to 2010 when we first joggled in the deep forest of Lambusango. It has taught us in common and the deep sea of Banda has bounded our relation as firm as the rattan bracelet in the wrist of Buton girls. I feel grateful to the motion of destiny in such beautifully bestow the best lesson one could have.
1 month has passed away and I think of sharing this thoughtful piece with you together with the magical place he called home.
I hope you will cherish it as I do and maybe somewhere along the hundred words, you will find your lesson as I do.
*** Continue reading
Harapan tertinggi saya?
Sederhana saja: Saya hanya butuh hidup yang tenang, bersinergi dengan alam dan segenap isinya, menghormati kehidupan sebagaimana tiap entitas itu mencintai penciptanya dengan caranya masing-masing. Saya ingin menua dengan bahagia, melewatkan masa-masa muda dengan petualangan dan rangkaian cerita belajar serta menghargai kehidupan dan menghormati tiap-tiap kepercayaan yang ada.
Berjalan mengajarkan saya bahwa tradisi bukanlah ritual belaka. Di tiap-tiap lekuk kisah dan sejarah selalu terselip doa untuk pencipta jagad raya. Berjalan bukan hanya perkara mendatangi tempat-tempat yang indah, ia mengajarkan saya arti hakiki dari berziarah.
Ya. Saya menziarahi bumi, rumah yang tak urung saya kenali tiap ruangnya…
Seberapa sering kita membandingkan apa yang kita inginkan dengan apa yang kita miliki? Memberi sangkalan pada aturan aritmatika dimana pembanding dan yang dibandingkan tidak merunut pada satuan yang sama?
Sekali-kali mari berhenti membandingkan, mungkin ada baiknya kita berhitung saja? Membulatkan yang kita miliki dengan syukur dan mengurangkan yang kita inginkan dengan ikhlas.
Mungkin itu lebih baik, mungkin dengan begitu kita bisa menambah kadar realitas dan menyimpulkan bahwa kita baik-baik saja dengan apa yang kita punya.
Hidup, harta dan cinta.
Cukup satu untuk menggenapkan….

You must be logged in to post a comment.