Di suatu siang, pertengahan bulan November dua tahun yang lalu, saya sedang berada di pelataran gereja di Sa Pa – Vietnam. Mencoba berlindung dari sengatan matahari siang itu yang sangat kontras dengan cuaca Sa Pa yang dingin. Tak lama kemudian ekor mata saya menangkap geliat seorang gadis kecil yang berusaha menjual souvenir sembari menggendong adik bayinya kepada sepasang turis eropa yang tengah berfoto. Sayang hanya penolakan yang dia dapatkan. Turis berlalu pergi dia pun juga memutar arah. Ekspresi sedih dan kecewanya sungguh menyentuh saya. Sedetik saya mengabadikannya dalam kamera, kemudian memanggilnya. Dagangannya yang berupa lima buah gantungan mungil hasil rajutan ibunya saya beli…

“Tengkuuu” dia berujar, dahi saya mengkerut berusaha mengartikan…

“Thankyou” dia kembali melafalkan, dalam bahasa inggris yang lebih jelas…

Saya tergelak dalam tawa, dia pun juga

Hari itu kami berdua pulang membawa cerita dan bahagia…

Sebuah serpihan kenangan singkat dua tahun lalu yang ingin saya bagi bersama kalian di #turnamenfotoperjalanan ronde ketiga oleh Wira Nurmansyah selamat menikmati cerita disana 🙂

Chintheche District, 9th September 2012 [05:33pm]

Bus AXA ini kembali berhenti untuk ke tujuh kalinya dalam rentang waktu 7 jam perjalanan saya, tepat di kilometer 368 dari Lilongwe Ibukota Republik Malawi di sebuah ibukota distrik kecil bernama Chintheche. Sekali lagi saya dan penumpang lain harus turun untuk menjalani pemeriksaan satu persatu oleh polisi perbatasan.

Hal yang lumrah bagi mereka? Tapi tidak bagi saya… Continue reading

Semangkok mie, sate dan segelas teh di sudut foto sempat membuat saya tertegun beberapa saat. Kembali mengingat kapan terakhir saya menikmati sajian sederhana berbahan tepung dan kuah hangat ini, sepertinya sudah lama sekali…

Saya bukanlah penggemar berat hidangan ini, tapi lidah saya tidak pernah dikecewakan oleh liatnya adonan dan kuah hangat semangkok mie. Tidak perduli apakah itu disajikan di warung pinggiran pasar atau di ruang-ruang mewah bangunan tinggi penghias kota. Continue reading

Saya rindu berada di sana, di kedalaman samudera di ruang biru pekat tanpa suara. Laut memanggil tanpa bisa saya menjawab. Karib perjalanan saya ini bergurau mengibaratkan saya bagai ikan, ingsang saya mengerjap dan sisik saya mengering di dataran Afrika.

Ya, sungguh saya ingin sekali pulang kesana. Ke laut, tempat yang senantiasa saya sebut rumah… 

Setiap kali saya melihat pohon Baobab raksasa, saya selalu membayangkan saat awal penciptaan mungkin Tuhan sedang bercanda dan menanamnya terbalik hingga daunnya tenggelam di tanah dan akarnya mencuat…

Tapi pohon khas Afrika ini selain ukurannya yang gigantis juga penuh dengan selaput mistis. Masyarakat Afrika percaya bahwa baobab itu bernyawa dan segala bagian tubuhnya bisa dimanfaatkan mulai dari buah, batang, serabut, dan akar. Bahkan dahulu baobab dilubangi dan dijadikan kuburan bagi penderita penyakit misterius yang kini kita kenal dengan sebutan Lepra. Buahnya unik bertekstur mirip beledu dan daunnya berguguran tidak tersisa saat musim dingin menerpa.

Selain lokasi camp kami yang unik yang diapit oleh dua pohon baobab raksasa. Saya beruntung dapat melihat salah satu pohon baobab tertua di Afrika yang terletak ujung timur taman nasional Liwonde dan merasa lebih beruntung lagi dapat memungut beberapa buah yang jatuh dari pohon baobab berusia 4000 tahun ini!

hmm, berharap untuk dibawa pulang dan dijadikan buah tangan bagi kalian 🙂

Si Kecil Ibra

Perkenalkan namanya Ibra, jerapah jantan berusia 14 bulan. Lahir di Giraffe Centre dari jerapah betina tertua di tempat konservasi itu. Pertemuan saya dengan Ibra terjadi beberapa hari sebelum saya meninggalkan Kenya.

Setelah tersenyum puas melihat sebuah stiker visa Republik Malawi kembali tertempel di passport hijau saya, saya dan Ronald kolega dari MSF South Sudah berkunjung ke Giraffe Centre. Sebuah tempat konservasi jerapah jenis Rothschild salah satu jenis jerapah yang sudah hampir punah. Letaknya di pinggiran kota Nairobi, cukup dekat dengan Nairobi National Park. Selain mengenal Ibra, saya pun berkesempatan untuk belajar lebih banyak tentang hewan cantik ini.

Walaupun hewan berleher jangkung ini hanya terdiri dari satu spesies saja, ada beberapa sub-spesies. kesemuanya merupakan sub-spesies yang dilindungi. Menurut saya jerapah selain anggun, juga pemalas. Mereka menghabiskan 12 jam lebih waktunya hanya untuk makan!

Hmm, seandainya hidup manusia juga bisa seperti mereka mungkin kita akan lebih bahagia…

Ibra mungkin beruntung bisa lahir di tempat konservasi ini, kemudian memastikan dirinya bisa tumbuh dewasa sebelum kembali ke alam liar tempat dimana dia semestinya berada atau mungkin juga dia sial, karena akhirnya harus menghabiskan masa kecilnya terkungkung dalam keterbatasan?

Apapun itu hipotesa saya, sepertinya Ibra tidak berfikir seruwet itu. Selama ada pucuk hijau untuk digapai dan gosokan hangat ibunya di punggungnya, semua akan baik-baik saja…

Hmm, seandainya kita juga bisa sesederhana mereka…

Megahnya Merah Jambu

Sudah lama saya tidak merasakan sejuk mesin pendingin di dalam pusat perbelanjaan. Seperti umumnya warga asia lainnya, saya terbiasa untuk menikmati kehangatan bangunan kaku bernama Mall dan berbulan-bulan tidak berkunjung ke Mall membentuk semacam kerinduan. Beruntunglah Nairobi memiliki banyak pilihan mall yang bisa dikunjungi.

Saya menemukan oase!

Pernah suatu hari saya berkunjung ke Sarit Centre sebuah mall yang terletak di timur Nairobi, niatnya untuk makan siang sekaligus menonton premiere Captain America. Sambil menanti waktu pemutaran film, saya memilih untuk berjalan-jalan di sepanjang lorong mall yang dipenuhi dengan poster-poster serta leafet iklan, beberapa saat kemudian ekor mata saya menangkap sebuah foto danau yang indah terpampang di salah satu sudut. Bukannya gambaran danau biru yang tenang, tapi sebuah danau berwarna merah jambu, akibat tertutup oleh ribuan burung flamingo. Lake Naivasha saya membaca namanya. Seketika saya tahu, kemana tujuan saya berikutnya! Continue reading

Safari adalah hal pertama yang muncul di benak saya saat mendengar kata Kenya! Sudah menjadi impian saya sejak pertama kali menonton film Out in Africa bahwa suatu hari nanti saya akan berkunjung ke benua hitam dan bersentuhan dengan hewan-hewan liar.

Maka kesempatan berkunjung ke Kenya tidak saya sia-siakan. Ingin rasanya berkendara di atas 4WD melintas Masaai Mara dan melihat migrasi ribuan wilderbeest dan zebra. Sayang, musim hujan mengungkung hewan-hewan jauh di dalam rimbunnya semak savana.

Beruntunglah saya bisa mengunjungi Nairobi National Park, satu-satunya taman nasional di dunia yang terletak di hiruk pikuk kota dan kondisinya masih sangat terjaga.

Jiwa kanak-kanak saya seketika kembali saat pertama kali saya berjumpa Jerapah yang sedang menggapai jumput dedaunan atau sekumpulan zebra yang saling menyisir leher satu dan lainnya. Berusaha sekuat tenaga untuk mengenali singa yang bersembunyi ataupun leopard yang tertidur malas di puncak pohon besar, dan mengendap-endap pelan di balik Buffalo yang berjalan pelan dan keluarga Rhino yang pemalunya sungguh luar biasa.

sungguh hewan-hewan ini anggun dan menarik dalam caranya masing-masing, tak heran beberapa dari kita tega berburu untuk mengabadikan keindahannya.

sayang…

[I upload the series of my trip to Nairobi National Park at Nairobi National Park 14 on Flickr. To you who loves cute animal, ENJOY!] 🙂

Thyolo dari Pinggir Jalan

Distrik Thyolo nama kota kecil di selatan Malawi ini, tempat kantor kami berpusat. Kota kecil di dataran tinggi dengan kebun teh tertua di Afrika. Ya Teh, tanaman hijau yang menjadi salah satu alasan Kerajaan Inggris menjadikan Negeri Nyassa ini sebagai daerah kolonisasinya.

Kehidupan disini amatlah sederhana, sepeda menjadi alat transportasi utama. Baik pribadi maupun bycyle taxi. Satu yang menarik perhatian saya adalah tidak adanya papan reklame yang umum saya dapati di kota-kota lainnya. Membuat tiap reklame yang terpasang di toko-toko kecil keperluan masyarakat menjadi adalah seni yang dilukis oleh tangan-tangan terampil.

….

Mungkin waktu berhenti di distrik ini, tapi tak mengapa. saya senang terjebak di dalamnya… 🙂

No Money, No Cry

Dalam tiga hari sejak diumumkannya mantan Presiden Bingu Wa Mutharika terkena serangan jantung, wakil presiden Jocye Banda merubah wajah negara kecil ini dengan menjadi presiden wanita pertama di Republik Malawi.

Dan banyak yang menarik untuk diperhatikan dari kepemimpinan Joyce Banda. Setelah mengembalikan bendera nasional Republik Malawi ke desain bendera lama [yang oleh almarhum presiden Bingu Wa Mutharika sempat diganti] kali ini dia mengeluarkan uang dalam pecahan dan desain baru!

Bagi saya desain baru ini cukup menarik, mengingat desain lama yang monoton (hanya bergambar satu orang yang sama yaitu John Chilembe, pejuang kemerdekaan Malawi) serta cukup besar (lupakan untuk menyimpannya dengan rapi dalam dompet). Desain baru lebih variatif dan ukurannya lebih bersahabat. 🙂

Selain itu adanya tokoh wanita Rose Chibambo yang mendapat kehormatan untuk tertera di pecahan 200 Kwacha yang baru, bagi negara yang sebagian penduduknya masih memandang emansipasi dan kepemimpinan wanita dengan sebelah mata cukup memberi angin segar bagi para A mai- A mai pendukung kesetaraan gender.

Sayangnya devaluasi membuat nilai mata uang Malawi merosot tajam, menyebabkan harga-harga melonjak naik dan masyarakat semakin tercekik oleh kokohnya dominasi mata uang asing.

Saya masih menunggu warna-warni mata uang baru ini bisa sedikit memberi harapan bagi kelabunya kehidupan masyarakat marginal Malawi…

Setidaknya untuk membeli sebotol Kuchi-Kuchi dan bernyanyi. 🙂