Luka and what Lies Inbetween

When death smiles at us, all we can do is smile back…

***

Saya sedang berada di Blue Elephant, salah satu bar favorit kami di kota Blantyre, alunan reggae berbalut potongan daging panggang serta kuchi-kuchi bir khas Malawi cukup membuat hangat suasana malam itu. Bulan ini Juni teman, puncak musim dingin telah datang memeluk malam serta keragaman di dalamnya. Saya tidak pernah suka musim dingin, mungkin karena dalam darah saya kental mengalir hangatnya matahari khatulistiwa, tanah yang senantiasa saya sebut rumah.

Kemudian kami mendapat sebuah pesan singkat, “Goliath has passed away”. Singkat. sesingkat isinya. Salah seorang kolega kembali kepangkuan-Nya malam itu. 

Goliath namanya, dia salah satu penjaga di compound kami. Dia berjuang bersama kami melawan epidemi dunia ini sejak sepuluh tahun terakhir. Tapi ironi, dia pun harus berjuang untuk bertahan hidup melawan virus yang mengalir hidup dalam tubuhnya. Ya, satu lagi prajurit kami gugur dalam perang ini.

Hari berikutnya, seperti umumnya Juni dalam gambaran syair Malawi. Kabut tebal menyelimuti seluruh kaki gunung Mulanje. Kami pun berkendara menuju desa Luka, tempatnya dilahirkan dan tempatnya disemayamkan. Rasa sedih berbalut penasaran, ini akan menjadi pertemuan terakhir saya dengan Goliath dan juga pertemuan pertama saya dengan pemakaman di tanah Afrika. Sungguh tidak mudah mencapai desanya, setelah mobil kami berhenti di  desa Thekerani, kami masih harus berjalan kaki satu jam lebih untuk mencapai desa Luka.

Rumah Goliath mungil tertata rapi oleh batu bata merah, apik pekarangannya. Kedatangan rombongan kami disambut oleh ratusan pasang mata para kerabat yang duduk dalam diam di halaman rumahnya. Hujan turun rintik-rintik hari itu, selain sunyi hanya isak tangis dari rumah yang kami dengar. Bagi saya, hal ini cukup menarik mengingat setiap harinya saya mendengar riuh para penduduk bercakap.

tapi kali ini, sepertinya pagi mencuri bilik-bilik suara mereka…

Perlahan satu persatu kami memasuki rumah Goliath, di tengah rumah mungil itu ada sebuah peti jenazah kayu bersemayam berhias bunga kuning yang tumbuh di musim dingin. Goliath tertidur abadi disana, dikelilingi istri serta anaknya. Sebagai seorang penganut Kristen Pantekosta layaknya kebanyakan masyarakat Malawi, ada seorang pendeta yang sudah siap memimpin doa sebelum pemakaman berlangsung.

tiba-tiba seorang kolega kami mulai menyanyi….

Dia mulai menyanyi sebuah lagu yang tidak saya pahami yang kemudian menjadi sebuah peristiwa yang akan sulit saya lupa. Manusia-manusia disana mulai bernyanyi bersama, layaknya paduan suara gereja yang indah. Tidak hanya satu atau dua yang ikut terlarut dan menangis dalam lantunan suara megah itu. Saya sama sekali tidak paham isi dari lagu yang mereka nyanyikan, tapi itu cukup membuat bulu kuduk saya berdiri. Bukan karena takut, tapi karena terpana oleh bagaimana semesta pagi itu melepas Goliath pergi dengan lullaby gothic nan merdu.

Pendeta kemudian memulai ritual…

Satu persatu kerabat dekat memberikan kata sambutan, melepas pergi sang saudara, kawan dan suami tercinta. Goliath adalah pria bersahaja, banyak yang mencintainya. Kawan-kawan dari klub sepakbola di kampungnya, memberikan penghormatan dengan menggotong peti jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Di sebuah puncak bukit di desa Luka, tempat terdekat dengan surga bagi mereka yang tinggal disana.

Kami pun ikut mengantarnya bersama-sama, cukup jauh rupanya sekitar 45 menit berjalan kaki dari rumah Duka. disana telah ada sebuah liang lahat yang cukup besar, cukup besar sehingga bisa memuat tidak hanya peti jenazahnya. Goliath pun dikuburkan disana, bersama dengan sebuah koper hitam berisi benda-benda kesukaannya serta sebuah kasur busa. Sebelum ke surga inilah pemberhentian dia sementara, dibuat senyaman mungkin untuknya tepat di bawah pohon kamboja.

Rupanya ini belum berakhir, sekelompok wanita kemudian mulai menyanyi lagu yang [sekali lagi] tidak saya mengerti. Tapi ada yang berbeda kali ini, tidak ada lagi lantunan nada sedih yang bisa saya rasa. Lagu ini lagu riang, membawa rasa bahagia bagi yang mendengarnya.

Kemudian sekali lagi, semua orang ikut terlarut dan bernyanyi…

Satu demi satu tampak kembali tersenyum sembari bernyanyi, penasaran saya ingin bertanya lagu apa ini. Tapi tampaknya selain saya dan seorang kawan semua orang tampaknya terlalu asik dengan dunia mereka saat itu. Setelah tiga-empat lagu, di akhiri dengan sorakan Halelujah dan Ameen dari pendeta, orang-orang pun beranjak pergi. Tidak ada lagi kesedihan disana, pemakaman berakhir dengan indah…

Mungkin beginilah mereka ingin dilepaskan, lepas pergi bersama segala kesedihan. Menyisakan kenangan manis yang diputar berulang-ulang kali dalam bioskop disalah satu sudut otak. Biarlah semua sedih dan duka ikut terkubur.

Kemudian pulanglah, pulanglah kerumah dan melanjutkan hidup. Hingga nanti kita semua mewujud dalam reuni besar di tanah Tuhan.

When death smiles at us, all we can do is smile back… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s