A Journey to Thekerani.

A typical Monday for me begins with a 4WD ride over unpaved roads from the small town of Thyolo heading to Thekerani village where I spend most days of every week working.

 Nowadays, it has been very cold already. Last May, the rainy season has ended and the thick fog marked the beginning of winter.

Similar to many Asians, Africa in my imagination is barren, dry land, scorching hot weather, and packed with wild animals. It never crossed my mind that winter exists here. There is no snow but temperatures can drop to 6 degree celcius!. It is cold enough to make my tropical blood shiver. I am not prepared. Continue reading

Advertisements

92 Hari yang Lalu di Cape Maclear

I need a holiday soon!” ujarku pada Andy beberapa hari yang lalu saat memandang antrian pasien yang tiada berujung.  Entah mengapa, hiburan paling menyenangkan walau hanya berupa pikiran adalah liburan. Dan itu membuat saya kembali memutar rekaman kenangan 92 hari yang lalu ke Cape Maclear di Lake Malawi.

Saya sebagaimana layaknya orang Indonesia lain yang lahir dan besar bertemankan laut dan garam, selalu ada kerinduan akan pantai dan ombak. Sayangnya di landlocked country ini yang berbataskan daratan negara lain, pantai dan laut adalah hal yang mustahil ditemui. Lake Malawi adalah satu-satunya tempat dimana saya bisa berenang dalam kolam renang raksasa buatan Tuhan.

Tepat libur paskah, saya dan beberapa kolega dari MSF Belgium dan MSF Paris memutuskan untuk berkunjung ke Cape Maclear, salah satu titik di sepanjang garis pantai danau yang menempati posisi ketiga sebagai danau terbesar di Afrika. Saking luasnya danau ini, sehingga dia memuat 1//3 bagian dari Republik Malawi. Beberapa kali saya sempat tertidur dalam mini van yang kami kendarai saat memasuki wilayah distrik Manggochi, dimana birunya danau telah terlihat, terbangun beberapa jam kemudian dan masih mendapati pemandangan yang sama. Dan Cape Maclear yang kami tuju masih beberapa jam lagi jauhnya.

Hamparan pemandangan pulau-pulau kecil tersebar di sepanjang jalan serta horizon yang tak berujung. Apabila tak ada yang memberi tahu sebelumnya, saya akan dengan mudah menyangka bahwa Lake Malawi yang dikenal juga sebagai Lake Nyassa sesungguhnya adalah lautan. Malawi berbagi danau raksasa ini dengan Mozambique dan juga Tanzania. Continue reading

No Money, No Cry

Dalam tiga hari sejak diumumkannya mantan Presiden Bingu Wa Mutharika terkena serangan jantung, wakil presiden Jocye Banda merubah wajah negara kecil ini dengan menjadi presiden wanita pertama di Republik Malawi.

Dan banyak yang menarik untuk diperhatikan dari kepemimpinan Joyce Banda. Setelah mengembalikan bendera nasional Republik Malawi ke desain bendera lama [yang oleh almarhum presiden Bingu Wa Mutharika sempat diganti] kali ini dia mengeluarkan uang dalam pecahan dan desain baru!

Bagi saya desain baru ini cukup menarik, mengingat desain lama yang monoton (hanya bergambar satu orang yang sama yaitu John Chilembe, pejuang kemerdekaan Malawi) serta cukup besar (lupakan untuk menyimpannya dengan rapi dalam dompet). Desain baru lebih variatif dan ukurannya lebih bersahabat. 🙂

Selain itu adanya tokoh wanita Rose Chibambo yang mendapat kehormatan untuk tertera di pecahan 200 Kwacha yang baru, bagi negara yang sebagian penduduknya masih memandang emansipasi dan kepemimpinan wanita dengan sebelah mata cukup memberi angin segar bagi para A mai- A mai pendukung kesetaraan gender.

Sayangnya devaluasi membuat nilai mata uang Malawi merosot tajam, menyebabkan harga-harga melonjak naik dan masyarakat semakin tercekik oleh kokohnya dominasi mata uang asing.

Saya masih menunggu warna-warni mata uang baru ini bisa sedikit memberi harapan bagi kelabunya kehidupan masyarakat marginal Malawi…

Setidaknya untuk membeli sebotol Kuchi-Kuchi dan bernyanyi. 🙂

Hari ini teman-teman dari grup #duaranselwannabe berkumpul untuk pertama kalinya!

Dan selalu ada yang istimewa dari pertemuan pertama. tidak sabar rasanya menanti cerita apa yang bakal tertuang dari riuhnya suara-suara yang akhirnya melebur nyata, bukan hanya kata demi kata yang berbaris rapi di chat grup bbm.

Berharap bisa ikut menikmati malam bersama mereka disana, tapi mungkin untuk saat ini. biarlah salam hangat tersampaikan, melalui canggihnya teknologi. Hingga nanti kerinduan maya terhapus oleh perjumpaan nyata.

Selamat bertemu dan berbagi mimpi teman-teman #duaranselwannabe

ps: fotonya kabur harap dimaklumi, yang memotret baru pertama kali memegang kamera.

Berdagang Hari

Tidak ada hiburan yang lebih menyenangkan dibanding perjumpaan dengan orang-orang terkasih. perjumpaan seperti ini dengan mudah saya temui di bandara ataupun terminal, tempat dimana bahagianya perjumpaan berbaur dengan sedihnya perpisahan…

Tapi kali ini tidak. bagi masyarakat di desa kecil ini tempat semua rasa melebur itu bernama pasar, pusat semesta dari nadi kehidupan desa. di satu sudut bisa kau temui riuhnya para ibu penjaja sayur sedang berbagi hijaunya cerita, disaat yang sama gumaman kering para pria berkumandang, sekering ikan yang dijajakannya.

Penjual dan pembeli bertemu dan saling menawar mimpi…

Tiap hari saya melintas tempat ini, berjalan sepuluh menit menuju klinik dengan kopi di tangan atau cekikikan ringan memandang layar telepon genggam. sapaan hangat para penghuni pasar selalu menambah semangat.

Disini listrik masih menjadi barang yang langka walau telepon genggam sudah mulai berdering dimana saja, maka barbershop and phone charger salah satu tempat berkumpul favorit. Apalagi bagi toko-toko kecil yang menyediakan kotak ajaib bernama televisi, merekalah juaranya!

Ya hangatnya kopi dan sapaan, saya butuh itu. bulan ini terlalu dingin untuk darah tropisku…

Bangunan ini berdinding bata merah, tiga ruang kecil memuat beberapa matras yang di selimuti kelambu usang berwarna hijau. Di bangunan ini tiap harinya saya menyapa pasien yang kami rawat, sayang bangunan ini tidak cukup besar untuk menampung semua pasien, hingga kadang beberapa dari mereka harus rela tidur beralaskan lantai.

Bangunan ini tidak pernah sepi dari riuh tangis para balita atau tawa kecil para ibu mereka tiap kali kami datang dengan porsi suntikan penilisin atau pun quinine bagi anak mereka.

Di bangunan ini banyak yang datang kemudian pergi dan kembali lagi.

Tapi dibangunan ini juga ada yang datang kemudian pergi dan tak akan dapat kami sapa lagi…

 

A LOST-CEPTION

Dia seorang wanita usia dua puluhan datang dengan pakaian hitam dan chitenje lusuh bermotif bunga, seorang bayi tertidur pulas di pundaknya. Sesaat setelah dia duduk, dia menyodorkan buku mungil bersampul orange, health passport miliknya. Dari sampul yang telah sobek dan halaman kertas usam dan kotor terkena tanah menjelaskan bahwa dia sudah lama tidak berkunjung ke klinik. Disini tidak sepertinya layaknya di Indonesia, pasien membawa rekam medik mereka masing-masing, sebuah buku mungil yang di namakan health passport.

Sudah dua hari dia mengeluh demam dan nyeri perut sebelum dia datang mengunjungi klinik kami. Tapi bukan keluhannya yang menarik perhatian saya, tetapi sebuah bentuk oval bergaris dua yang ditulis dengan tinta merah, tertera di halaman depan health passport-nya. Dia penderita HIV… Continue reading

Hujan Hari Ini

Hari ini hujan turun di tengah hari…

Kapan terakhir kali saya mencium harumnya tanah kerak yang basah oleh tetesan hujan? Sepertinya tidak lama, baunya masih jelas terekam dalam kotak di otak. Bau tanah Afrika sepertinya sama saja dengan halaman belakang rumah saya di Indonesia.

Selalu ada yang istimewa dari hujan, kemampuannya membuat segala hal melambat dan romantis. Seperti romantisnya senyuman dari pasien-pasien yang setia menunggu antrian, orang-orang yang tidak saya kenal. Saling berbagi senyuman, sesuatu yang menyembuhkan.

Here I learned that a smile from a stranger is a one simple remedy for a lone soul….

so what are we waiting, let’s share happiness people! 🙂

Saat pagi dimulai dengan dentuman lonceng gereja dan kesendirian senyap ditelan riuhnya pasar. Kabut tebal dan dinginnya udara senantiasa menghias seperti tidak pernah bosan menyingkirkan sinar mentari pagi…

Selamat datang Juni, bulannya para penikmat sepi.

Rasa-rasanya ingin saya masukkan matahari kamis pagi kedalam bola kaca, untuk kemudian saya guncangkan hingga bersinar hangat di malam-malam musim dingin…

Rasa-rasanya ingin saya masukkan aroma sabtu sore ke botol kecil, untuk kemudian saya hirup di pekatnya senin pagi…

Dan rasa-rasanya ingin saya rekam ramainya jumat malam kita kedalam piringan hitam, untuk kemudian saya putar di sunyinya kesendirian…

At one of the coldest night in Thekerani