Miracle Deforms

Bagi saya, masa-masa menjadi mahasiswa adalah puncak selebrasi intelegensia. Belajar ilmu kedokteran layaknya merekam rumus-rumus eksakta dalam bentuk yang berbeda. Banyak yang berkata ilmu kedokteran itu adalah seni, bagi saya ilmu kedokteran layaknya sains murni. Melalui fisiologi saya belajar mekanisme kerja sebuah mesin maha rumit bernama manusia, mekanika kerjanya dan bagaimana kelak saya harus memperbaiki bagian yang rusak. Ada pula farmakologi yang mengajarkan saya tentang senyawa biokimia berupa rantai-rantai heksagon indah yang secara menakjubkan dapat berikatan dengan susunan molekul tubuh dan memberi efek yang menyembuhkan. Bagi saya, penyembuhan itu adalah sebuah bentuk kekakuan hukum; tanda-gejala memberi diagnosa dan berakhir dengan terapi.

Saya belajar bahwa penyakit muncul karena ketidakseimbangan dalam tubuh. Dan layaknya mesin, sekali kita memahami cara kerjanya maka tak ada hal lain yang tidak dapat dirasionalisasi. Obat pun demikian, aksi-reaksinya adalah ilmu yang dapat dijelaskan dalam berlembar-lembar kata, walaupun memahaminya tak pernah sederhana. Dalam  ilmu pasti tak ada bualan bernama keajaiban pun saya tak pernah belajar tentang itu. Tak ada jampi penyembuh ataupun sihir sakti yang dapat menjadi rantai heksagon layaknya senyawa kimia. Tetapi tak perduli sehebat apapun (kalaupun ini adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan) seorang dokter. Ada miliaran sel yang tak kasat dari pandangannya, ada berbagai kemungkinan yang dapat muncul dari sebuah diagnosis yang ditegakkannya, ada banyak lorong-lorong gelap dalam labirin otaknya dan banyak ruang kosong untuk penjelasan di luar nalar yang akhirnya berujung pada satu kesimpulan: Keajaiban, mungkin saja ada… Continue reading

Welcome to The Youngest Country in The World!

Doro Refugee Camp, 20 March 2013. [09:51pm]

Sejauh apa mimpi bisa membawamu?”

Saya tak pernah menyangka bahwa hidup saya akan sedemikian dinamisnya, layaknya riak-riak sungai kecil di tepi hutan, yang kadang mengering saat kemarau dan penuh jeram saat musim penghujan tiba. Baru beberapa hari yang lalu saya menikmati sejuknya mesin pendingin, sembari menikmati segelas jus apel di salah satu restoran kegemaran saya di Makassar. Dan kini padang tandus nan luas sama sekali tak memberi ruang untuk saya berteduh dari sengatan surya negeri ini yang cadas, pun sebotol air untuk menghapus dahaga.

Sungguh, sebelum saya menapak negeri ini saya tak pernah mempercayai bahwa di sebuah sudut bumi ada tempat yang layaknya semesta yang paling terisolasi. Tempat kehidupan ditempa dengan sangat keras, dimana hidup adalah tentang hari esok, tentang udara yang masih dapat dihirup dalam selimut debu.

Dan mimpi? Mimpi adalah perhiasan termahal yang dapat manusia kenakan…

***

Perang sipil yang berkepanjangan membelah Sudan menjadi dua bagian, sekali lagi agama yang semestinya menjadi pemersatu tak ayal menjadi pemecah. Dan hal itu membuat Sungai Nil yang agung kembali menambah nama deretan negeri yang dilintasinya; Republik Sudan Selatan. Negara termuda di dunia, rumah saya untuk setengah tahun ke depan.  Continue reading

[Give Away] Memento from Malawi

Almarhum ayah saya sering mengingatkan untuk tak pernah lupa melafal “terima kasih” kepada mereka yang telah menoreh jasa dalam hidup kita. Beliau percaya bahwa gugusan aksara pendek itu menginfiltrasi jauh ke dalam sanubari tiap orang, memberi rasa senang teruntuk mereka yang kita tujukan dan menjadi jangkar bagi kita agar senantiasa membumi.

Kini, saya ingin mengucap terima kasih kepada kalian. Orang-orang yang tak semuanya sempat saya sapa dengan kata saat berkunjung ke rumah maya saya yang sederhana ini. Kepada kalian, baik yang meninggalkan jejak aksara di kolom komentar atau pun yang hanya memberi sedikit ruang di girus otaknya untuk merekam gambar ataupun susunan kata di halaman ini. Seandainya tangan saya bisa menjangkau keluar dari batasan dunia maya, saya ingin menyalami kalian satu persatu dan mengucapkan “terima kasih”.

Continue reading

Family!

Thyolo District, 26 October 2012 [03:44pm]

Saya sering menuliskan kisah tentang hidup jauh dari rumah, berbagi halaman ini dengan cerita tentang mereka yang saya temui tiap hari di  klinik kecil di pedalaman Afrika. Tanpa saya sadari, ada mereka yang kisahnya tak pernah tertulis dalam huruf dan rangkaian kata. Mereka, para tokoh yang berbagi cerita dengan saya dalam misi kali ini…

Mengemban tugas menjadi pekerja kemanusiaan di negeri ini, saya tidaklah sendiri. Misi kami mempekerjakan lebih dari 150 staf nasional yang bertugas di kantor ataupun di lapangan layaknya saya. Tapi berbanding terbalik dengan itu, kami hanya terdiri dari 7 orang pekerja asing. Mereka menyebut kami expatriat, saya menyebutnya keluarga…

Hidup sendiri dan jauh dari rumah, bagi saya mereka adalah rekan kerja, teman dan saudara. Kami berasal dari latar belakang, ras dan kebangsaan yang berbeda tapi dalam keberagaman kami menemukan sebuah sinergisme dalam hidup dan bekerja. Dari mereka saya belajar banyak hal, bagaimana saling menghargai dan bagaimana kemajemukan dapat mencipta rasa penghormatan. Continue reading

Half Page of Northern Rhodesia

Livingstone City, 20 September 2012 [1:55pm]

Hari ini hari terakhir saya menikmati hangatnya matahari Zambia, seharusnya saya menuliskan kisah betapa megahnya negeri utara Rhodesia ini dengan Mosi-O-Tunya yang menggelegar serta Zambezi yang menggeliat panjang. Tapi biarlah halaman itu saya sisihkan sementara, untuk berbagi cerita tentang manusia-manusia yang bersinggungan dalam perjalanan saya kali ini.

Siapapun yang pertama kali berucap “the strangers you meet on the way will leave you a memory that will linger forever” benarlah adanya. Bagi saya, tempat yang kita tuju hanyalah separuh dari cerita perjalanan separuhnya lagi adalah orang-orang yang kita temui dan berbagi lintasan waktu sepanjang perjalanan.

Saya tidak pernah menyangka bahwa alam Zambia bukan hanya menarik para pejalan yang hendak bergumul dengan liarnya Afrika. Tapi juga para pencinta yang hendak menuliskan kisah mereka di hilir-hilir zambezi ataupun savana kering South Luwanga. Saya pun demikian, walau hanya dapat mengecap rasa cinta yang dibagi mereka dalam cerita. Tetapi ada keterikatan, yang membuat saya tersenyum senang saat mereka berbagi kisah manis dan tersenyum getir saat ikut merasakan kisah  pahit yang dibagi…

***

Continue reading

Saya rindu berada di sana, di kedalaman samudera di ruang biru pekat tanpa suara. Laut memanggil tanpa bisa saya menjawab. Karib perjalanan saya ini bergurau mengibaratkan saya bagai ikan, ingsang saya mengerjap dan sisik saya mengering di dataran Afrika.

Ya, sungguh saya ingin sekali pulang kesana. Ke laut, tempat yang senantiasa saya sebut rumah… 

This day, I feel I lose all of them – a family

A woman of around twenty years old wearing a black dress and shabby flowerish chitenje is in the consultation room. A baby is sleeping on her lap. She hands me a small orange book with a torn cover.

Unlike in Indonesia, here in Malawi, patients keep their own medical records – a little book we call “health passport.” The soiled dull papers show that it was long time ago since her last visit to our health centre.

She has been suffering from fever and abdominal pain for two days already and decided to come to our health centre. But there is something else that catches my attention – printed on the front page of her health passport, there is an inscribed red oval shape with two horizontal lines.

She is HIV positive… Continue reading

Setiap kali saya melihat pohon Baobab raksasa, saya selalu membayangkan saat awal penciptaan mungkin Tuhan sedang bercanda dan menanamnya terbalik hingga daunnya tenggelam di tanah dan akarnya mencuat…

Tapi pohon khas Afrika ini selain ukurannya yang gigantis juga penuh dengan selaput mistis. Masyarakat Afrika percaya bahwa baobab itu bernyawa dan segala bagian tubuhnya bisa dimanfaatkan mulai dari buah, batang, serabut, dan akar. Bahkan dahulu baobab dilubangi dan dijadikan kuburan bagi penderita penyakit misterius yang kini kita kenal dengan sebutan Lepra. Buahnya unik bertekstur mirip beledu dan daunnya berguguran tidak tersisa saat musim dingin menerpa.

Selain lokasi camp kami yang unik yang diapit oleh dua pohon baobab raksasa. Saya beruntung dapat melihat salah satu pohon baobab tertua di Afrika yang terletak ujung timur taman nasional Liwonde dan merasa lebih beruntung lagi dapat memungut beberapa buah yang jatuh dari pohon baobab berusia 4000 tahun ini!

hmm, berharap untuk dibawa pulang dan dijadikan buah tangan bagi kalian 🙂

Si Kecil Ibra

Perkenalkan namanya Ibra, jerapah jantan berusia 14 bulan. Lahir di Giraffe Centre dari jerapah betina tertua di tempat konservasi itu. Pertemuan saya dengan Ibra terjadi beberapa hari sebelum saya meninggalkan Kenya.

Setelah tersenyum puas melihat sebuah stiker visa Republik Malawi kembali tertempel di passport hijau saya, saya dan Ronald kolega dari MSF South Sudah berkunjung ke Giraffe Centre. Sebuah tempat konservasi jerapah jenis Rothschild salah satu jenis jerapah yang sudah hampir punah. Letaknya di pinggiran kota Nairobi, cukup dekat dengan Nairobi National Park. Selain mengenal Ibra, saya pun berkesempatan untuk belajar lebih banyak tentang hewan cantik ini.

Walaupun hewan berleher jangkung ini hanya terdiri dari satu spesies saja, ada beberapa sub-spesies. kesemuanya merupakan sub-spesies yang dilindungi. Menurut saya jerapah selain anggun, juga pemalas. Mereka menghabiskan 12 jam lebih waktunya hanya untuk makan!

Hmm, seandainya hidup manusia juga bisa seperti mereka mungkin kita akan lebih bahagia…

Ibra mungkin beruntung bisa lahir di tempat konservasi ini, kemudian memastikan dirinya bisa tumbuh dewasa sebelum kembali ke alam liar tempat dimana dia semestinya berada atau mungkin juga dia sial, karena akhirnya harus menghabiskan masa kecilnya terkungkung dalam keterbatasan?

Apapun itu hipotesa saya, sepertinya Ibra tidak berfikir seruwet itu. Selama ada pucuk hijau untuk digapai dan gosokan hangat ibunya di punggungnya, semua akan baik-baik saja…

Hmm, seandainya kita juga bisa sesederhana mereka…