Tentang Cinta yang Terlalu Muda

Doro Refugee Camp, 19 August [06:48pm]

“No, you’re kidding!”

Saya sontak bersorak ketika Balla mengatakan perempuan di hadapan saya ini adalah istri dari pemuda kecil yang menjadi pasien kami.

“No my friend, I’m telling you the truth. Some of us married when we were very young” kata-katanya bergetar akibat kelakar. Perawat saya yang satu ini memang pandai menyimpul tawa.

Saya melayangkan pandangan ke arah gadis kecil yang kini hanya mampu tersipu sembari menggulung sudut kaos yang dikenakannya. Sebuah tangan pelan terjulur memeluk punggungnya, saya menoleh ke arah pemuda yang kini duduk di sampingnya sembari memamerkan susunan giginya yang putih rapih.

“So you are a man, literally!” Ujar saya takjub kepada pemuda berusia 15 tahun itu, saya berharap kata-kata saya tidaklah sejanggal ekspresi saya saat itu. Continue reading

Saya pernah jatuh cinta, kepada sepasang bola mata hitam dan rambutnya yang kelam serta pada sebaris senyum hangat di wajahnya yang menenangkan. di sudut matanya saya menyimpan rindu, saat dia memanggil nama saya ataupun tiap kali jari-jemari kami bertaut membelenggu, saat dia menyapa melalui barisan aksara ataupun saat kami bertukar sapa melalui suara.

Saya pernah jatuh cinta, saya senantiasa jatuh cinta…

Je pense à mettre ce journal inédit sur ​​mon prochain livre

Satu Syawal [2.0]

Siapapun kalian, bagaimana pun kalian memandang agama dan Tuhan saya percaya satu Syawal ini adalah hari yang istimewa. Saat kenangan kalian kembali menari di dalam reuni, saat jabat tangan dan hatur salam meluruhkan dosa yang merekat maha erat dan saat satu syawal hanyalah berarti libur, waktu istirahat ataupun sejenak pelepas penat.

Apapun itu, selamat berlebaran teman!

***

Doro Refugee Camp, 8 August 2013 [06:48pm]

Satu syawal kembali datang, saya pun [kembali] terpisah jauh dari rumah dan kemeriahannya. Pekerjaan ini membuat saya tidak memiliki dikotomi waktu sama sekali, siang ataupun malam, senin ataupun minggu tampak tak berbeda. Semua hanyalah gelinding demi gelinding waktu yang berlari saling memburu dan membuat saya [sayangnya] harus melepas satu syawal kali ini dengan tanpa apa-apa.

Lebaran ini bukan kali pertama saya terpisah jauh dari rumah, tapi lebaran kali ini adalah pertama kalinya saya berlebaran tanpa berlebaran. Satu syawal setahun yang lalu, Tuhan masih memberi saya waktu untuk melewatkannya dengan sedikit rasa. Kali ini, saya hanya mampu menikmati kemeriahannya dalam kesendirian.

Hari ini layaknya hari kemarin, klinik kami sedang sibuk-sibuknya. Wabah malaria mendekam cukup lama dan membuat antrian pasien mengular tanpa henti. Mereka yang datang dengan meriang ataupun sudah dalam keadaan koma tak mampu lagi saya hitung dengan jari, waktu kerja kami pun merentang semakin panjang. Beruntung saya masih mampu mengucapkan hatur salam kepada ibu melalui telepon pagi tadi, saat subuh baru saja berlalu dan sinyal telekomunikasi sedang sedikit bersahabat. Sedih? Ya tentu saja… Continue reading

It’s Time to Move On

Stone Town – Zanzibar, July 12 2013 [05:05pm]

Hey, how are you?

Well, I don’t know if this postcard will arrive at where it belongs [supposed to be your mailbox]

But at any cases, I would like you to know how picturesque this island is. Dazzling sun, breese from indian ocean, the solitude white sand beach. i know how you adore beach as much I love it, how you like to scuttle yourself into the silent sea garden. I believe it will be easy for anchor your heart here.

It’s been my sixth days on this island…

Do you remember, I’ve said that I pine for ocean, seafood [darn, I try not to mention sushi but yes sushi!]. That’s the reason why I chose to landed myself in Zanzibar. The city also gorgeous, but let me tell you a secret, I got lost almost everyday on the riddle labyrinth of Stone Town [seriously the labyrinths are bizzare].

But there, yesterday in the middle of the city maze from a guy at the mosque I found my epiphany….

All of this time it’s not about you. I think I was lost before and there I met you on a long darren road. I think I finally found the way back to a place I call home, even at the end you left me alone.

There, at that time I felt a real lost…

But the man at the mosque made me realize one thing. That actually I have never lost. I simply just miss the concrete path and accidentally choose the lone trail.

But no matter which path I choose, it will lead me to the final destination in my life. None is better than the other, both of it offers me a lesson. I simply grateful for that.

Maybe eventually we dispart at the crossroads but I believe, one day we will meet again. In the path where we first met, where there is only adventure and story to share.

Perhaps you are my final destination or perhaps not. But one thing for sure, you are one of the best stopover in the course of my life.

And for that, my feeling still stay the same as we first met.

See you when i see you, dear….

Tentang Hawa dan Tahun yang Berulang

Hidup banyak bercerita tentang hal-hal yang indah. Tentang harapan yang menang melawan kemustahilan, cinta yang menang melawan ego dan benci, atau si miskin yang menang melawan tirani konglomerat. Bahkan kitab suci turut bercerita tentang si kecil Daud yang menang melawan sang raksasa Jalut.

Tetapi sayang beberapa kisah dalam hidup ini, saya adalah sang raksasa…

***

Doro Refugee Camp, 4 April 2013 [10:23pm]

Ini sudah malam ke empatnya, tak ada yang berbeda. Dia masih tetap terbaring bisu di tenda isolasi. Terakhir saya mengunjungi beberapa jam yang lalu, memastikan gula darahnya tetap dalam batas yang normal sebelum akhirnya berlalu pergi dengan peluh yang membanjir. Sungguh tempat ini jauh dari kata nyaman, suhu Sudan selatan tak pernah bersahabat bahkan saat malam.

Tenda isolasi bukanlah tempat favorit semua orang, sejak wabah hepatitis E menyerang daerah ini, hidup yang sejatinya telah berat menjadi lebih berat lagi. Penyakit ini menjelma menjadi momok menakutkan bukan hanya bagi mereka yang awam tapi bagi kami yang bergelut dengannya tiap hari. Tak ada yang tahu, siapakah yang kelak terbaring disini. Hari ini mereka, esok lusa mungkin saja kami…

Dia dengan kulitnya yang hitam legam tampak cantik berbalut kain biru malam ini, matanya tertutup sempurna, napasnya memelan setiap saat saya mengamatinya. Tetapi ada seorang pria yang selalu setia di sana, mengusapi dahinya yang basah oleh keringat ataupun sekedar mengosongkan kantong urine-nya yang gelap karena air seni yang pekat. Pria itu hanya mampu duduk terpaku dengan tatapan kosong, malam yang bisu seakan ikut menenggelamkannya. Saya kadang satir bergumam, sulit membedakan siapa yang sebenarnya sedang koma. Continue reading

Half Page of Northern Rhodesia

Livingstone City, 20 September 2012 [1:55pm]

Hari ini hari terakhir saya menikmati hangatnya matahari Zambia, seharusnya saya menuliskan kisah betapa megahnya negeri utara Rhodesia ini dengan Mosi-O-Tunya yang menggelegar serta Zambezi yang menggeliat panjang. Tapi biarlah halaman itu saya sisihkan sementara, untuk berbagi cerita tentang manusia-manusia yang bersinggungan dalam perjalanan saya kali ini.

Siapapun yang pertama kali berucap “the strangers you meet on the way will leave you a memory that will linger forever” benarlah adanya. Bagi saya, tempat yang kita tuju hanyalah separuh dari cerita perjalanan separuhnya lagi adalah orang-orang yang kita temui dan berbagi lintasan waktu sepanjang perjalanan.

Saya tidak pernah menyangka bahwa alam Zambia bukan hanya menarik para pejalan yang hendak bergumul dengan liarnya Afrika. Tapi juga para pencinta yang hendak menuliskan kisah mereka di hilir-hilir zambezi ataupun savana kering South Luwanga. Saya pun demikian, walau hanya dapat mengecap rasa cinta yang dibagi mereka dalam cerita. Tetapi ada keterikatan, yang membuat saya tersenyum senang saat mereka berbagi kisah manis dan tersenyum getir saat ikut merasakan kisah  pahit yang dibagi…

***

Continue reading