Little Adult

“For in every adult there dwells the child that was, and in every child there lies the adult that will be.” ~ John Connolly

***

Sewaktu saya kecil, saya sering bertanya-tanya berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menjadi dewasa? Saat itu saya mengartikan dewasa sebagai sebuah puncak kebebasan, selebrasi atas pencapaian usia yang membuat saya dapat melewati batasan-batasan yang selama ini mengungkung saya.

Saat saya dewasa tak ada lagi bapak yang akan mempertanyakan kenapa saya pulang pagi hari ini, tak ada lagi rasa was-was harus mengendarai motor tanpa takut di tilang karena tak memiliki SIM, saya bebas berpacaran tanpa malu-malu bergandengan tangan dan akhirnya mengantongi kartu tanda penduduk serta ikut pemilihan umum untuk pertama kalinya.

Dewasa sejatinya merunut usia, tolak ukur yang paling mudah untuk dijadikan acuan. Saat usiamu mencapai bilangan tertentu maka kedewasaan seharusnya ikut ditasbihkan ke dalam dirimu. Tapi seringnya saya mendengar bahwa dewasa itu adalah sebuah pilihan, bahwa tidak semua yang menua semerta-merta ikut menjadi dewasa, saya merasa itu ada benarnya juga. Dewasa dan usia layaknya Theseus dan Centaur dalam Labirin Kreta, di mana ia harus memilih lorong tepat sembari berpacu dengan Centaur yang terus menerus memburunya. Pilihan ada dimana-mana beberapa mengajarkanmu kebijakan sisanya hanya menjerumuskanmu pada penyesalan.

Dewasa adalah sebuah pilihan? Bagaimana jika dewasa adalah sebuah keterpaksaan?

***

Bo – Sierra Leone, 27th January 2014 [12:24pm]

Aminata Konteh nama gadis kecil itu, Ami, begitu saya biasa memanggilnya.

Ami adalah pasien pertama saya di rumah sakit ini, kami bertemu di suatu petang di hari pertama saya bertugas. Sore itu Ami dibawa ayahnya ke UGD rumah sakit kami setelah menderita demam tinggi sejak tujuh hari yang lalu.

“It’s been 7 days and you just bring her today? What took you so long?!”

Setengah jengkel saya bertanya kepada ayahnya. Pria dengan tampang lusuh dan kaos usang bergambar Ernest Koroma di depan saya cuma bisa terdiam, buru-buru dia membaringkan Ami yang sore itu hanya berbalut selembar lapa.

Tubuh Ami ceking dengan mata yang setengah terbuka, sebuah benjolan besar kemerahan dan bernanah di lehernya tampak kontras dengan kulitnya. Sejak demam tinggi menderanya sudah tak terhitung berapa kali dia mengalami kejang, kejang terakhirnya tak kunjung berhenti hingga ia tak sadarkan diri.

Ami tak berespon sama sekali, saat itulah ayahnya melarikan dia ke rumah sakit kami.

Minggu-minggu pertama Ami dilewatkan di perawatan intensif, tentu bukanlah masa-masa yang menyenangkan. Beberapa kali ia mengalami henti napas dan henti jantung dan kami pun  harus meresusitasinya, tapi Ami layaknya pejuang-pejuang Athena yang tak mengenal kata menyerah. Kematian tak pernah berhasil merenggutnya dan pelan tapi pasti ia mulai pulih.

Setelah hampir tiga minggu dirawat di perawatan intensif, saya pun memindahkan Ami ke bangsal nomor dua bersama dengan anak-anak lain yang membutuhkan intervensi bedah ringan.

Pulih dari gizi buruk, tuberkulosis dan ostemyelitis yang dideritanya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Selain itu, Ami pun menderita Sickle Cell Anemia, sebuah kelainan genetis dalam sel darahnya.

Banyak malam dilewatkan Ami sendiri, ayahnya jarang menemaninya hingga dini hari. Kami menempatkan gadis kecil berusia enam tahun itu di sudut kiri bangsal, tempat terdekat dengan pintu keluar dimana ia bisa dengan bebas memandang jalan sembari menanti ayahnya datang.

Sejak ia mulai bisa kembali berjalan, Ami tak pernah lagi meminta bantuan perawat kami untuk membopongnya ke kamar mandi, gadis kecil itu melakukan semuanya sendiri. Mulai dari mandi di pagi hari, mencuci bajunya yang hanya tiga lembar saja hingga ke dapur rumah sakit kami untuk meminta segelas susu jatahnya hari itu.

Benjolan besar yang bernanah di lehernya harus seringkali kami bersihkan, tindakan yang bagi anak-anak lain adalah sebuah mimpi buruk (tak jarang mereka mulai menangis ketakutan saat perawat kami memanggil nama mereka satu persatu). Tapi Aminata adalah pengecualian, dengan langkah tegap ia akan memenuhi panggilan perawat kami. Jangan tanyakan lagi sudah berapa puluh kantong darah yang diterimanya, kelainan genetis yang di derita Ami membuat ia senantiasa bergantung pada transfusi darah. Terkadang saat krisis Sickle Cell-nya mendera, ia hanya mampu meringkuk kesakitan di kasurnya sembari mencoba tidur, tapi tak pernah sekalipun saya melihatnya menangis. Tak sekalipun…

Ayah Ami mengunjunginya di rumah sakit tak jarang seminggu sekali selebihnya ia lewatkan sendiri, tanpa keluarga ataupun sanak saudara yang lain.

Dari ayahnya saya mengetahui bahwa ibunya meninggalkan mereka sejak usia Ami tiga tahun. Ayah Ami pun terpaksa merantau ke ibukota dan menitipkan Ami kepada neneknya. Tetapi malang tak dapat disangkal, beberapa bulan yang lalu neneknya meninggal dunia. Sejak itu si kecil Ami tinggal sendiri sembari diawasi oleh tetangga mereka. Biaya serta jarak membuat ayahnya jarang pulang untuk menjenguknya, kepulangan terakhirnya dikejutkan dengan menemukan Ami yang sudah terbujur kaku akibat kejang.

***

Saat malam natal datang, banyak keluarga dari pasien kami yang datang mengunjungi anak-anak mereka, membawa makanan serta hadiah sekadarnya. Terkecuali Ami serta beberapa anak-anak yang lain, tak ada kotak-kotak hadiah di bawah pohon berhias bagi mereka, tak ada remah-remah keceriaan natal yang terserak dan dapat mereka pungut. Malam natal dilewatkan Ami seorang diri dan untuk pertama kali saya melihat sendu di raut wajah gadis kecil itu…

Saya tahu rasanya bertahan seorang diri, saya mengerti betapa pekatnya sepi dan dinginnya sunyi. Usia membuat saya mengerti dan dapat memaknai kesendirian sebagai bagian yang tidak terelakkan dari hidup, tapi tidak bagi seorang anak kecil berusia lima tahun. Ami telah melewatkan banyak bagian dari hidupnya yang masih muda dengan kesendirian. Dan untuk satu hari, untuk satu malam yang istimewa dalam hidupnya saya berjanji tak akan meninggalkan dia seorang diri…

“This is your present, Marry Christmas!” Saya memberinya sebungkus coklat yang telah saya siapkan sehari sebelumnya, saya sengaja menyiapkan hadiah natal sederhana bagi pasien-pasien kami di rumah sakit.

“And this is a special present for you, because you are the nicest kid in the ward.” Saya menyodorkan sebungkus coklat lagi padanya.

Tangan kecilnya menggapai dan matanya membulat sempurna, gadis kecil itu tampak bahagia. Saya pun bahagia…

Hari kedua puluh satu dirawat, Ami mendatangi saya yang baru saja tiba di rumah sakit. “Doctor pumwi, my papa will come and I will eat papaya. I will give you some” ujarnya dalam bahasa Krio sederhana. Dia memanggil saya pumwi, istilah lokal bagi orang asing.

“I’ve told you, my name is Husni not Pumwi.” Untuk kesekian kali saya memberi tahu nama saya, yang tampaknya begitu sulit untuk diingat ataupun dilafalkan olehnya.

“I like papaya,  my mama always give me papaya too. Thank you Ami”

“Where is your Mama?” tanyanya polos.

“She’s at home. My home is far, just like your father’s home. But I will meet her soon, just like you will meet your papa soon” ujar saya.

Dia tersenyum sembari berlari kecil kembali ke bangsal.

Keesokan harinya, Aminata menepati janji. Sepotong kecil pepaya disimpannya untuk saya. Ayahnya telah kembali ke Freetown jauh sebelum matahari terbit, kembali meninggalkan dia sendiri. Saya memandang gadis kecil itu dengan perasaan kagum, kedewasaan yang dimilikinya jauh meninggalkan usianya yang sungguh masih belia.

Saat saya yang masih bertanya-tanya apakah arti dewasa, seorang gadis kecil memberi saya jawabannya. Mungkin dewasa datang sebagai sebuah pilihan tak jarang ia datang dalam bentuk sebuah keterpaksaan, tapi bukanlah cara yang menjadi penentu kadar yang utama.  Aminata memberi saya contoh nyata bahwa kedewasaan terletak dari cara kita memandang hidup, bagaimana kita dapat mengalahkan rasa ego, mengesampingkan rasa takut dan berdiri teguh pada hal yang kita percayai,. Seperti ia percaya bahwa ayahnya akan datang hari ini atau esok hari atau keesokan harinya lagi.

***

Saya menuliskan ini beberapa saat setelah Aminata meninggalkan rumah sakit kami. Kondisinya telah jauh lebih membaik, tubuhnya sudah berisi dan bengkak di lehernya sudah mengecil. Ayahnya memutuskan untuk membawa dia ke Freetown dan berniat menitipkannya sementara di panti asuhan. Mungkin saya tidak akan bertemu dengannya lagi, tapi pertemanan kami selama beberapa bulan terakhir ini akan membekas untuk waktu yang sangat lama.

Sebelum pulang ayahnya mengucapkan terima kasih kepada saya dan perawat-perawat yang telah membantu Aminata.Si kecil Ami tampak begitu senang dan tak ingin melepaskan gendongan ayahnya.

“Be well Ami, don’t be naughty ok?!” Saya mengelus kepala gadis kecil yang dibalasnya dengan anggukan pelan. Kemudian tanpa di duga ia memeluk saya erat-erat. Tangannya yang kecil tak dapat menjangkau seluruh punggung saya tapi kehangatan yang diberinya tak akan mudah untuk saya lupa. Dan untuk pertama dan terakhir kalinya, ia melafal nama saya….

 I couldn’t be more happy, I couldn’t be more happy…

Bye Bye Ami!

  

Advertisements

4 thoughts on “Little Adult

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s