Hari ini teman-teman dari grup #duaranselwannabe berkumpul untuk pertama kalinya!

Dan selalu ada yang istimewa dari pertemuan pertama. tidak sabar rasanya menanti cerita apa yang bakal tertuang dari riuhnya suara-suara yang akhirnya melebur nyata, bukan hanya kata demi kata yang berbaris rapi di chat grup bbm.

Berharap bisa ikut menikmati malam bersama mereka disana, tapi mungkin untuk saat ini. biarlah salam hangat tersampaikan, melalui canggihnya teknologi. Hingga nanti kerinduan maya terhapus oleh perjumpaan nyata.

Selamat bertemu dan berbagi mimpi teman-teman #duaranselwannabe

ps: fotonya kabur harap dimaklumi, yang memotret baru pertama kali memegang kamera.

Berdagang Hari

Tidak ada hiburan yang lebih menyenangkan dibanding perjumpaan dengan orang-orang terkasih. perjumpaan seperti ini dengan mudah saya temui di bandara ataupun terminal, tempat dimana bahagianya perjumpaan berbaur dengan sedihnya perpisahan…

Tapi kali ini tidak. bagi masyarakat di desa kecil ini tempat semua rasa melebur itu bernama pasar, pusat semesta dari nadi kehidupan desa. di satu sudut bisa kau temui riuhnya para ibu penjaja sayur sedang berbagi hijaunya cerita, disaat yang sama gumaman kering para pria berkumandang, sekering ikan yang dijajakannya.

Penjual dan pembeli bertemu dan saling menawar mimpi…

Tiap hari saya melintas tempat ini, berjalan sepuluh menit menuju klinik dengan kopi di tangan atau cekikikan ringan memandang layar telepon genggam. sapaan hangat para penghuni pasar selalu menambah semangat.

Disini listrik masih menjadi barang yang langka walau telepon genggam sudah mulai berdering dimana saja, maka barbershop and phone charger salah satu tempat berkumpul favorit. Apalagi bagi toko-toko kecil yang menyediakan kotak ajaib bernama televisi, merekalah juaranya!

Ya hangatnya kopi dan sapaan, saya butuh itu. bulan ini terlalu dingin untuk darah tropisku…

Bangunan ini berdinding bata merah, tiga ruang kecil memuat beberapa matras yang di selimuti kelambu usang berwarna hijau. Di bangunan ini tiap harinya saya menyapa pasien yang kami rawat, sayang bangunan ini tidak cukup besar untuk menampung semua pasien, hingga kadang beberapa dari mereka harus rela tidur beralaskan lantai.

Bangunan ini tidak pernah sepi dari riuh tangis para balita atau tawa kecil para ibu mereka tiap kali kami datang dengan porsi suntikan penilisin atau pun quinine bagi anak mereka.

Di bangunan ini banyak yang datang kemudian pergi dan kembali lagi.

Tapi dibangunan ini juga ada yang datang kemudian pergi dan tak akan dapat kami sapa lagi…

 

A LOST-CEPTION

Dia seorang wanita usia dua puluhan datang dengan pakaian hitam dan chitenje lusuh bermotif bunga, seorang bayi tertidur pulas di pundaknya. Sesaat setelah dia duduk, dia menyodorkan buku mungil bersampul orange, health passport miliknya. Dari sampul yang telah sobek dan halaman kertas usam dan kotor terkena tanah menjelaskan bahwa dia sudah lama tidak berkunjung ke klinik. Disini tidak sepertinya layaknya di Indonesia, pasien membawa rekam medik mereka masing-masing, sebuah buku mungil yang di namakan health passport.

Sudah dua hari dia mengeluh demam dan nyeri perut sebelum dia datang mengunjungi klinik kami. Tapi bukan keluhannya yang menarik perhatian saya, tetapi sebuah bentuk oval bergaris dua yang ditulis dengan tinta merah, tertera di halaman depan health passport-nya. Dia penderita HIV… Continue reading

Saat pagi dimulai dengan dentuman lonceng gereja dan kesendirian senyap ditelan riuhnya pasar. Kabut tebal dan dinginnya udara senantiasa menghias seperti tidak pernah bosan menyingkirkan sinar mentari pagi…

Selamat datang Juni, bulannya para penikmat sepi.

Luka and what Lies Inbetween

When death smiles at us, all we can do is smile back…

***

Saya sedang berada di Blue Elephant, salah satu bar favorit kami di kota Blantyre, alunan reggae berbalut potongan daging panggang serta kuchi-kuchi bir khas Malawi cukup membuat hangat suasana malam itu. Bulan ini Juni teman, puncak musim dingin telah datang memeluk malam serta keragaman di dalamnya. Saya tidak pernah suka musim dingin, mungkin karena dalam darah saya kental mengalir hangatnya matahari khatulistiwa, tanah yang senantiasa saya sebut rumah.

Kemudian kami mendapat sebuah pesan singkat, “Goliath has passed away”. Singkat. sesingkat isinya. Salah seorang kolega kembali kepangkuan-Nya malam itu.  Continue reading

No matter how world teasing me on, at the end of my day. I just need to sit under a giant baobab tree in a backyard of our clinic. Enjoy one of God greatest paint, a women and twilight sky. And I know, that everything gonna be alright…

A mai (women) of Malawi. with their humble way of greet people and a generous smile while carrying their baby. little of me know that they are the backbone of a family. not only take care of the baby but also supporting the whole family issues.

Here comes April and the suprises

Satu-satunya yang bisa saya jadikan alasan dan persalahkan atas dugaan dan gambaran saya tentang Afrika mungkin adalah film-film yang mewarnai layar kaca saya sedari kecil. Mungkin seperti juga kalian alami, Afrika yang tandus, dengan savana bergulir, hewan-hewan liar memenuhi oase, suhu serta humiditas yang tinggi, penduduk kulit gelap dengan tingkah pribumi bersahaja. Lengkap sudah! Sepertinya Tuhan meluangkan waktu dan terlena saat memasak benua hitam ini. Itu pandanganku dulu. Continue reading

Nyasa Lake of Malawi really got the name. and the kid as well. They are a kid of sun, they grow under mighty Baobab tree and live by the blessing of God through the water and fish. I Love Them! 🙂