A Note to All of Us

Every now and then I have this love and hate relationship with media…

Seringnya media membuat saya yang jauh dari rumah bisa melek berita, tapi seminggu terakhir sejak kasus dokter Ayu mulai ramai serta gerakan solidaritas mulai di dengungkan, media semacam memberi kesan negatif tentang dokter.

Sebagai dokter saya tentunya merasa gerah akan berbagai opini negatif, opini-opini dari orang yang dalam semalam berkat bantuan internet tiba-tiba ilmu kedokterannya seakan sederajat dengan keilmuan guru-guru besar saya (tapi sayangnya kelompok yang satu ini keilmuannya tampak seakan tunnel vision saja tanpa melirik kedokteran secara holistik dan sebagai sebuah kesatuan sistem maha kompleks yang membutuhkan lebih dari satu rentang usia manusia untik mempelajarinya) ataupun mereka yang menghujat secara nyaring melalui beragam sosial media.

Saya pun menangkap kesan bahwa dokter semakin kesini semakin menjadi public enemy… Continue reading

“Nowadays we often use the term “proximity” to talk about the doctor-patient relationship. But in fact it is much more than that, it should not limited to the medical act. I often got a question why I choose to be a doctor and later become humanitarian worker. For me this profession is special. It’s the feeling of humanity. Going towards other human being to provide help, it makes us all part of our common humanity, with positive vision of what humanity is, of what mankind is.

Everyday we go and meet the other, knowing that we are all the same, but at the same time we are also different…” ~ tis

People put their faith on us when all we can do is believe in ourself and put our faith into something greater than us: To God, Good Power, Universe or anything you may call him or it. I choose this path of life, be a doctor with all of the consequences, the sacrifices, time that I have devoted. But little do I know that I gain more than just knowledges, fame or any important substances. A doctor is not only a profession, it is a way of life. And by that it will take me more than one life to understand the meaning and to practice medicine perfectly as what the society wants me to be. As a doctor I will NEVER promise you a result but I promise you my effort, my long-life willingness of learning the recent knowledge and God damn knows that oath I have recited at the very first day of my life as a doctor; to help others. By that I don’t need respect but I need your trust and a simple note for all of us to remember.

That no matter how you see me and think of me. I am just an ordinary human like you and I am afraid of ignorance too…

#stopkriminalisasidokter

Tentang Cinta yang Terlalu Muda

Doro Refugee Camp, 19 August [06:48pm]

“No, you’re kidding!”

Saya sontak bersorak ketika Balla mengatakan perempuan di hadapan saya ini adalah istri dari pemuda kecil yang menjadi pasien kami.

“No my friend, I’m telling you the truth. Some of us married when we were very young” kata-katanya bergetar akibat kelakar. Perawat saya yang satu ini memang pandai menyimpul tawa.

Saya melayangkan pandangan ke arah gadis kecil yang kini hanya mampu tersipu sembari menggulung sudut kaos yang dikenakannya. Sebuah tangan pelan terjulur memeluk punggungnya, saya menoleh ke arah pemuda yang kini duduk di sampingnya sembari memamerkan susunan giginya yang putih rapih.

“So you are a man, literally!” Ujar saya takjub kepada pemuda berusia 15 tahun itu, saya berharap kata-kata saya tidaklah sejanggal ekspresi saya saat itu. Continue reading

Promise and Its Paradox

Doro Refugee Camp, 10 August 2013 [02:18am]

“Kata bukanlah benda yang dapat dipegang, tapi mampu mengikat lebih kuat dari tali kekang kuda-kuda perang.” Ayah saya pernah berpesan…

Saya ingat, kalimat itu dilontarkannya saat saya dengan jumawa berjanji akan menempati ranking satu sebelum saya tamat di sekolah menengah. Ayah saya kemudian tak pernah menagih janji, tapi diamnya membuat hati saya senantiasa risau saat pengumuman juara kelas tiap satu cawu berakhir.

Saya yang licik senantiasa mencari pembenaran saat ayah saya menanyakan rangking berapakah saya di cawu ini. Dia tak pernah mempersalahkan, tak pernah mencibir pun memarahi saat janji saya sekali lagi tak mampu saya tepati. Kemudian seiring waktu saya pun paham bahwa kata bukanlah benda yang dapat dipegang, mampu mengalir jauh melintasi rentang masa, tak terkikis, tak berubah, tak dapat di putar arah apalagi dibalikkan…

Cawu terakhir di sekolah menengah pun datang dan beruntung janji berat yang terucap di kala awal akhirnya mampu saya tepati, saya menempati rangking satu di tahun terakhir itu. Rasa bangga meluap dengan hebat, bukan karena saya menjadi juara kelas tetapi karena akhirnya janji yang terucap purna sudah.

Sejak saat itu saya tak senang mengumbar janji. Berjanji layaknya mengikat dengan simpul mati, tak terpatahkan hingga menjadi kenyataan. Saya pun berusaha tak berjanji, karena takut akan mengingkarinya nanti. Bagi saya janji layaknya palapa yang dipantangkan Gajah Mada, tak akan saya ujarkan seandainya tak mampu saya lakukan. Continue reading

Zanzibar dalam Tiga Cangkir Teh

Zanzibar Coffee House, 8 July 2013 [05:45pm]

Ini sudah cangkir ketiga, selesap demi selesap teh hitam tandas sudah. Sepertinya ada yang salah dalam tiap cangkir yang saya minta, selalu ada rasa ingin tambah di akhir seduhannya. Sungguh saya mengangkat jempol akan rasa teh di pulau ini, satu sendok kecil madu sudah cukup untuk menyempurnakan seduhannya, membalut teh yang menjadi perpaduan antara daun teh hitam dan vanilla dengan rasa manis. Membuatnya menjadi salah satu teh ternikmat yang pernah saya icip dalam hidup saya.

Zanzibar Coffee House nama tempat ini, bangunan tua berlantai tiga dengan pintu ukir persia dan sebuah poster kuno tentang tata cara menyeduh kopi dalam bahasa arab, menghias salah satu dindingnya. Beruntung saya menemukan tempat ini tanpa sengaja, mereka tidak hanya menyajikan kopi arabika Zanzibar yang pekatnya melegenda, tapi teh hitam vanilla yang di seduh dalam cangkir pualamnya menarik seluruh gravitasi saya, membuat saya betah duduk lebih lama. Sayangnya ini mungkin cangkir terakhir saya, sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang toko ini akan segera tutup seperti toko-toko yang lain. Continue reading