Reuni Bawah Air

“Apakah kalian senang bereuni, memutar waktu dan memanggil kembali kenangan yang menari?”

Saya pernah sekali berkunjung ke akuarium raksasa bernama Seaworld, saat itu saya masih kecil. Mungkin karena kegemaran memotret saya telah memperlihatkan wujudnya, maka hari dimana kami berkunjung ke Seaworld ibu mengamanahkan sebuah kamera saku dengan sebuah rol film berkapasitas 36 kutipan kepada saya. Saya pun di daulat menjadi tukang foto keluarga.

Seaworld yang dipenuhi lampu temaram dan ikan beraneka ragam dengan mudah memikat perhatian saya. Bola mata saya yang kecil membelalak kagum tiap kali ikan-ikan besar berenang berseliweran.  Saya ingin memotret tiap-tiap dari mereka tapi kemudian meragu. Mengingat tiap shutter yang saya tekan berarti satu rekam gambar yang tak bisa lagi di ulang ataupun di hapus layaknya kamera digital masa kini. Maka saya bersabar, menanti momen terbaik dan ikan paling cantik…

Semakin lama memasuki lorong seaworld semakin saya dibuat terpana, saya berlari ke depan kemudian kembali ke belakang mengikuti seekor hiu martil yang berenang tak tentu arah. Hingga sekelebat bayangan hitam mencuri perhatian saya, seekor ikan besar yang berenang pelan. Saya bergeming dalam diam, terpaku beberapa saat dan tanpa sadar menekan shutter pertama saya hari itu. “Ikan itu terbang dalam air” adalah satu-satunya kata yang terujar, saat saya melihat pari manta pertama dalam hidup saya.

Kini bertahun-tahun berlalu sejak saya saat itu dan saya kembali berjumpa dengan Pari Manta, di tempat mereka “terbang bebas tanpa batas”; Lautan.

Manta Sandy Bottom, 19 December 2012 [12:00pm] 

Saya sedang berendam di perairan yang dangkal, mencoba mengurangi panas tubuh dan rasa nyeri akibat kulit yang mulai terbakar terik matahari. Berbanding terbalik dengan wilayah barat Indonesia yang mulai bertemankan hujan hampir tiap harinya, wilayah timur negeri ini masih setia ditemani terik matahari tropis. Hujan seakan belum enggan memasuki timur jauh Indonesia.

Air di bawah saya hanya selutut, bening layaknya kaca hingga permukaan pasirnya tampak dengan jelas. Saya bersila di pasir hingga air menutupi seluruh permukaan dada saya, rasanya sejuk. Ditambah lagi pemandangan laut yang menghampar luas tanpa sekat hingga ke ujung cakrawala, saya seakan berada di sebuah jacuzzi raksasa!

Beberapa depa dari tempat saya, rekan saya yang lain @indra_aw, @matriphe dan @nicsap juga tampak asyik berendam sembari bercakap. Saya mengalihkan pandangan ke dua buah kapal yang digunakan rombongan kami, bergoyang pelan di atas permukaan air yang beriak tenang. Terik matahari membuat kebanyakan rekan kami memilih untuk menunggu dengan berlindung di kapal. Surface interval* telah kami lewati lewati, tapi toh sayangnya kami belum bisa menyelam sekarang.

Titik penyelaman ini sedang ramai dikunjungi oleh rombongan penyelam lain yang ingin menyaksikan Pari Manta. Agar tidak mengusik si “kelelawar laut”  -julukan untuk pari manta- maka para dive master di Raja Ampat membuat sebuah aturan tidak tertulis untuk saling menunggu dan bertoleransi dalam menyelam di titik ini. Kami layaknya para fans yang menunggu untuk dapat menyaksikan pertunjukan artis idolanya. Mengantri dengan sabar…

Sesekali dari tempat kami menunggu kelebat bayangan hitam muncul begitu dekat dengan permukaan. Tak ayal perhatian kami seketika teralih dan siapapun yang pertama kali melihat si pari raksasa ini akan berteriak memanggil yang lain, hal yang tak pelak langsung diikuti dengan hilangnya dia dari pandangan kami. Sayang sekali!

Beruntunglah kami tidak menghabiskan waktu lama, dua puluh menit kemudian gelembung-gelembung udara mulai tampak memenuhi permukaan laut tempat kami menunggu. Para penyelam satu persatu muncul di permukaan, mereka telah selesai bertamu di lautan dan kini saatnya kami.

“Di sini kita harus menyelam hingga ke dasar, berenang mengikuti arus ke batas karang. Tiap-tiap dari kita akan berbaris di balik karang dan jangan sekali-kali melewati batas. Itu adalah teritori para manta. Kita tidak ingin mengusiknya” Ken, dive master yang merangkap sebagai guide kami menjelaskan. Kami serempak mengiyakan sebelum bergegas turun ke air.

Mengejutkan bahwa suhu air hari itu lebih dingin dari biasanya, visibilitas pun tak sejernih penyelaman kami sebelumnya. Tak ada karang cantik ataupun ikan yang bergerombol seperti lokasi-lokasi yang lainnya. Apa yang membuat Manta tertarik untuk berkumpul disini? Saya bertanya dalam hati, sebelum tersadar bahwa jawabannya melayang bebas di sekeliling saya, Plankton dan Ubur-ubur!

Keruhnya air di perairan ini diakibatkan miliaran partikel plankton, yang melayang bebas bersama ubur-ubur -yang laksana plastik bening- mengapung mengikuti arus air, kadang tunggal tak jarang jamak dalam kelompok. Mereka -mahluk hidup yang telah ada sebelum dinosaurus tercipta, dan di mahkotai sebagai penghuni lautan yang membunuh manusia paling banyak tiap tahunnya- adalah hewan favorit saya sekaligus hewan yang paling saya takuti.

Saya berenang perlahan, memutar di balik terumbu karang dan mendarat pelan di dasar yang berpasir. Kaki katak saya menyentuh lantai laut dan menerbangkan butiran pasir dalam gerakan yang lambat. Saya berpegang pada sebuah karang mati dan kemudian begeming dalam hening. Pertunjukan akan segera dimulai dan reuni saya akan segera berlangsung!

Tak lama kemudian sekelebat bayangan hitam mendekat ke arah batu karang yang jaraknya sekitar 5-7 meter di hadapan saya. Pelan tapi pasti layaknya terbang di dalam lautan bayangan hitam itu semakin lama semakin mendekat. Saya  semakin bergeming dan menunggu dengan detak jantung yang dapat saya rasakan hingga ke telapak tangan.  Sebentar lagi sang kelelawar laut akan menampakkan wujudnya…

Pendar cahaya matahari memberi remang biru di permukaan air, layaknya lampu sorot yang menyambut sang bintang utama. Tiga ekor Pari Manta berwarna hitam berenang perlahan mengelilingi karang di hadapan saya, sayapnya mengepak pelan di lautan laksana memanggil gerombolan ikan Butterfly Fish dan Juvennile Wrashes yang seketika mengerubuti seluruh permukaan tubuhnya dan memakan detritus yang melekat.

Tiga ekor kemudian bertambah menjadi enam, silih berganti mereka melayang pelan. Terbang memutar kemudian hilang untuk kembali lagi beberapa saat kemudian. Mulut mereka membuka lebar, ingsangnya mengembang dan beberapa kubik air memasuki tubuh mereka bersama plankton dan ubur-ubur yang segar. Sebelum mereka melayang bertingkat dan kemudian berputar cepat, menukik ke atas dan meloncat di permukaan air!

Sesaat kemudian, tiba-tiba pari manta yang terbesar berenang mendekati kami yang tengah berkumpul, dia yang berwarna hitam legam melayang begitu dekat diatas kami, tangan saya spontan berusaha menggapai perutnya yang berwarna putih dan hitam bercorak. Dia yang cerdik hanya mengepak pelan dan meninggalkan saya dengan tangan yang menggenggam air yang hampa. Sial!

Mereka bukanlah penguasa lautan layaknya hiu yang jemawa atau paus yang berwibawa, pari manta layaknya penari yang hobi berdansa. Hal yang membuatnya begitu menarik di mata saya. Tak hanya dahulu saat usia saya masih cilik dan melihatnya terbang di air untuk pertama kalinya, tapi hingga kini saat saya bisa bertemu dengannya dalam buana yang sama; Lautan.

 …

Kita memang begitu cakap dalam memainkan kenangan, memilih untuk menyimpan atau mengaburkannya. Kenangan akan hewan ini layaknya lembaran foto pertama saya yang berbingkai kaca, tersimpan rapi dan tak usang. Dan reuni senantiasa menyegarkan ingatan, bahwa pernah dalam suatu masa kami bertamu ke ruang dan waktu yang sama.

Kini, 60 menit pertemuan kami memberikan saya sebuah reminisensi baru, untuk dingat dan diputar hingga kami bertemu lagi di masa yang lain.

Hingga masa itu tiba, sampai jumpa lagi penari laut!

* photo is a courtesy of Michael Sjukrie from Odydive Centre for National Geographic Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s