Senja dan Epilog Akhir Tahun

Bo – Sierra Leone, 31st December 2013 [06:22pm]

Jangan bilang-bilang kalau saya membagimu satu rahasia:

Saya menyukai kamar jenazah….

***

Saat rumah sakit ini dibangun belasan tahun yang lalu, mereka menempatkan kamar jenazah jauh di sudut belakang, ukurannya hanya beberapa petak saja dengan kisi-kisi tipis berbalur cat putih bersih, dindingnya pun kini hampir menyatu dengan pagar. Sebuah lampu neon menggantung di langit-langitnya, satu bilah dipan kayu, sebuah kursi dan jendela mungil yang memungkinkan saya memandang ke gugusan bukit berhias rimbun hutan mungil di belakang rumah sakit kami.

Rumah sakit tempat saya ditugaskan kali ini bernama Gondama Referral Centre, sebuah rumah sakit sederhana di timur Sierra Leone yang mengkhususkan diri untuk menangani anak-anak sejak hari pertama kehidupan mereka hingga berusia lima belas tahun.

Bukan tanpa alasan rumah sakit ini dikhususkan, Sierra Leone menempati posisi pertama sebagai negara dengan tingkat kematian anak tertinggi di dunia. Tiap harinya rumah sakit kami menampung lebih dari ratusan pasien, mulai dari bayi mungil yang lahir prematur hingga anak-anak yang datang dengan kondisi kejang hingga koma. Continue reading

A Note to All of Us

Every now and then I have this love and hate relationship with media…

Seringnya media membuat saya yang jauh dari rumah bisa melek berita, tapi seminggu terakhir sejak kasus dokter Ayu mulai ramai serta gerakan solidaritas mulai di dengungkan, media semacam memberi kesan negatif tentang dokter.

Sebagai dokter saya tentunya merasa gerah akan berbagai opini negatif, opini-opini dari orang yang dalam semalam berkat bantuan internet tiba-tiba ilmu kedokterannya seakan sederajat dengan keilmuan guru-guru besar saya (tapi sayangnya kelompok yang satu ini keilmuannya tampak seakan tunnel vision saja tanpa melirik kedokteran secara holistik dan sebagai sebuah kesatuan sistem maha kompleks yang membutuhkan lebih dari satu rentang usia manusia untik mempelajarinya) ataupun mereka yang menghujat secara nyaring melalui beragam sosial media.

Saya pun menangkap kesan bahwa dokter semakin kesini semakin menjadi public enemy… Continue reading

“Nowadays we often use the term “proximity” to talk about the doctor-patient relationship. But in fact it is much more than that, it should not limited to the medical act. I often got a question why I choose to be a doctor and later become humanitarian worker. For me this profession is special. It’s the feeling of humanity. Going towards other human being to provide help, it makes us all part of our common humanity, with positive vision of what humanity is, of what mankind is.

Everyday we go and meet the other, knowing that we are all the same, but at the same time we are also different…” ~ tis

People put their faith on us when all we can do is believe in ourself and put our faith into something greater than us: To God, Good Power, Universe or anything you may call him or it. I choose this path of life, be a doctor with all of the consequences, the sacrifices, time that I have devoted. But little do I know that I gain more than just knowledges, fame or any important substances. A doctor is not only a profession, it is a way of life. And by that it will take me more than one life to understand the meaning and to practice medicine perfectly as what the society wants me to be. As a doctor I will NEVER promise you a result but I promise you my effort, my long-life willingness of learning the recent knowledge and God damn knows that oath I have recited at the very first day of my life as a doctor; to help others. By that I don’t need respect but I need your trust and a simple note for all of us to remember.

That no matter how you see me and think of me. I am just an ordinary human like you and I am afraid of ignorance too…

#stopkriminalisasidokter

Back to The Black Continent

Freetown – Sierra Leone, 27 October 2013 [10:22am]

Pergilah mencari dan sampaikan pada saya saat suatu hari nanti, di sebuah sudut bumi kamu menemukan satu orang saja yang mencintai ketidaknyamanan.

***

Diberinya saya waktu beberapa minggu untuk beristirahat, menikmati rumah dan makanan buatan tangan ibu saya. Masih banyak cerita dan kenangan tentang Sudan Selatan yang belum saya tulis dan paparkan, saya masih harus kembali membiasakan diri tidur tenang tanpa dentuman suara senapan dan kini pekerjaan kembali membawa saya melintas samudera, ke sebuah negara di barat Afrika: Sierra Leone.

Kini sebuah negeri yang namanya akrab di telinga.

Continue reading

Dia masih bertanya di belahan bumi manakah saya saat ini, tapi saya merasa jawaban akan tempat tak akan pernah memuaskannya.

Maka saya membalas pesan singkatnya dengan beberapa deret aksara:

“Saya sedang melabuhkan sauh, menikmati tenangnya dermaga hidup hingga tiba waktunya nanti untuk mengangkat jangkar dan berlayar kembali…”

Dan dia pun merangkul jawabannya…

Sebuah nukilan singkat dari janin buku yang tengah saya tulis, semoga suatu hari nanti bisa disentuh oleh jemarimu….

Seringkali saya memaku erat-erat harapan di dalam benak saya. Walaupun saya sendiri mahfum bahwa layaknya dua sisi mata uang, senantiasa ada kesempatan serta kekecewaan yang saling bersisian bersamanya.

Sebutlah saya seorang pemimpi tapi saya percaya bahwa untuk semua harapan dan cita yang tertuang di dalam doa, diluar sana akan selalu ada manusia lain yang setia mengamini. Dan untuk semua doa serta cinta yang terucap di dalam diam, percayalah Tuhan Maha Mendengar…

What I think after a pray tonight…

Tentang Dia dan Tangisnya

Doro Refugee Camp, 5 August 2013 [07:12am]

Tangisnya membuncah, lebih lengking dibandingkan riuh pengeras suara di depan sana. Kakinya digelung lumpur, tubuh telanjangnya pun basah akibat air yang tumpah. Mati-matian dia membawa air dalam jerigen yang beratnya mungkin lebih berat dari berat badannya sebelum akhirnya dia lelah, terjatuh dalam kubangan dan air yang dibawanya tumpah membasahi tanah yang sudah basah. Kini dia harus mengulanginya lagi, mengantri, memompa air kemudian membawanya pulang ke rumah yang hanya Tuhan yang tahu seberapa jauhnya. Mungkin dia akan gagal sekali lagi, dua kali lagi atau berkali-kali lagi.

Dan saya berada disana, bergeming memandangnya dari salah satu sisi. Tidak, saya sama sekali tidak berfikir untuk membantunya, dia harus berusaha sendiri karena hanya dengan begitu dia dapat belajar bertahan dan hidup.

Pemandangan ini bukan kali pertama saya temui, negeri ini secadas kisah-kisah yang hidup di dalamnya. Apabila kau berkata hidup adalah sebuah perjuangan, negeri ini dapat memberikanmu kesahihan. Tanah besar ini bukan tempat bagi orang-orang kecil yang lemah, air tak mengalir dengan mudah kawan! Kau harus mempunyai tenaga dan upaya untuk merengkuhnya.

Maka jangan salahkan saya apabila kadang saya berfikir, mungkin Tuhan tidaklah seadil yang saya kira… Continue reading

Tentang Cinta yang Terlalu Muda

Doro Refugee Camp, 19 August [06:48pm]

“No, you’re kidding!”

Saya sontak bersorak ketika Balla mengatakan perempuan di hadapan saya ini adalah istri dari pemuda kecil yang menjadi pasien kami.

“No my friend, I’m telling you the truth. Some of us married when we were very young” kata-katanya bergetar akibat kelakar. Perawat saya yang satu ini memang pandai menyimpul tawa.

Saya melayangkan pandangan ke arah gadis kecil yang kini hanya mampu tersipu sembari menggulung sudut kaos yang dikenakannya. Sebuah tangan pelan terjulur memeluk punggungnya, saya menoleh ke arah pemuda yang kini duduk di sampingnya sembari memamerkan susunan giginya yang putih rapih.

“So you are a man, literally!” Ujar saya takjub kepada pemuda berusia 15 tahun itu, saya berharap kata-kata saya tidaklah sejanggal ekspresi saya saat itu. Continue reading

Saya pernah jatuh cinta, kepada sepasang bola mata hitam dan rambutnya yang kelam serta pada sebaris senyum hangat di wajahnya yang menenangkan. di sudut matanya saya menyimpan rindu, saat dia memanggil nama saya ataupun tiap kali jari-jemari kami bertaut membelenggu, saat dia menyapa melalui barisan aksara ataupun saat kami bertukar sapa melalui suara.

Saya pernah jatuh cinta, saya senantiasa jatuh cinta…

Je pense à mettre ce journal inédit sur ​​mon prochain livre