Promise and Its Paradox

Doro Refugee Camp, 10 August 2013 [02:18am]

“Kata bukanlah benda yang dapat dipegang, tapi mampu mengikat lebih kuat dari tali kekang kuda-kuda perang.” Ayah saya pernah berpesan…

Saya ingat, kalimat itu dilontarkannya saat saya dengan jumawa berjanji akan menempati ranking satu sebelum saya tamat di sekolah menengah. Ayah saya kemudian tak pernah menagih janji, tapi diamnya membuat hati saya senantiasa risau saat pengumuman juara kelas tiap satu cawu berakhir.

Saya yang licik senantiasa mencari pembenaran saat ayah saya menanyakan rangking berapakah saya di cawu ini. Dia tak pernah mempersalahkan, tak pernah mencibir pun memarahi saat janji saya sekali lagi tak mampu saya tepati. Kemudian seiring waktu saya pun paham bahwa kata bukanlah benda yang dapat dipegang, mampu mengalir jauh melintasi rentang masa, tak terkikis, tak berubah, tak dapat di putar arah apalagi dibalikkan…

Cawu terakhir di sekolah menengah pun datang dan beruntung janji berat yang terucap di kala awal akhirnya mampu saya tepati, saya menempati rangking satu di tahun terakhir itu. Rasa bangga meluap dengan hebat, bukan karena saya menjadi juara kelas tetapi karena akhirnya janji yang terucap purna sudah.

Sejak saat itu saya tak senang mengumbar janji. Berjanji layaknya mengikat dengan simpul mati, tak terpatahkan hingga menjadi kenyataan. Saya pun berusaha tak berjanji, karena takut akan mengingkarinya nanti. Bagi saya janji layaknya palapa yang dipantangkan Gajah Mada, tak akan saya ujarkan seandainya tak mampu saya lakukan. Continue reading

Satu Syawal [2.0]

Siapapun kalian, bagaimana pun kalian memandang agama dan Tuhan saya percaya satu Syawal ini adalah hari yang istimewa. Saat kenangan kalian kembali menari di dalam reuni, saat jabat tangan dan hatur salam meluruhkan dosa yang merekat maha erat dan saat satu syawal hanyalah berarti libur, waktu istirahat ataupun sejenak pelepas penat.

Apapun itu, selamat berlebaran teman!

***

Doro Refugee Camp, 8 August 2013 [06:48pm]

Satu syawal kembali datang, saya pun [kembali] terpisah jauh dari rumah dan kemeriahannya. Pekerjaan ini membuat saya tidak memiliki dikotomi waktu sama sekali, siang ataupun malam, senin ataupun minggu tampak tak berbeda. Semua hanyalah gelinding demi gelinding waktu yang berlari saling memburu dan membuat saya [sayangnya] harus melepas satu syawal kali ini dengan tanpa apa-apa.

Lebaran ini bukan kali pertama saya terpisah jauh dari rumah, tapi lebaran kali ini adalah pertama kalinya saya berlebaran tanpa berlebaran. Satu syawal setahun yang lalu, Tuhan masih memberi saya waktu untuk melewatkannya dengan sedikit rasa. Kali ini, saya hanya mampu menikmati kemeriahannya dalam kesendirian.

Hari ini layaknya hari kemarin, klinik kami sedang sibuk-sibuknya. Wabah malaria mendekam cukup lama dan membuat antrian pasien mengular tanpa henti. Mereka yang datang dengan meriang ataupun sudah dalam keadaan koma tak mampu lagi saya hitung dengan jari, waktu kerja kami pun merentang semakin panjang. Beruntung saya masih mampu mengucapkan hatur salam kepada ibu melalui telepon pagi tadi, saat subuh baru saja berlalu dan sinyal telekomunikasi sedang sedikit bersahabat. Sedih? Ya tentu saja… Continue reading

Connection, At The World We Live In.

Doro Refugee Camp, 21 July 2013 [12:08pm]

Kalau boleh saya mengibaratkan kita manusia layaknya hewan amphibia, selalu hidup di dua dunia. Kita hidup di antara realita dan mimpi, diantara harapan dan apa yang ada dalam genggaman dan apabila boleh saya menyamaratakan, sepertinya kita; Manusia abad sekarang semuanya hidup dalam dua alam, buana nyata dan dunia maya. Tentu saja, saya pun demikian…

Di dunia maya saya tak lebih dari kumpulan meta data, pun semua orang demikian. Bytes-bytes kami bersinggungan dan menjelma menjadi memori. Membuat saya memiliki kenangan virtual tentang siapa saja yang pernah saya temui. Di balik layar dan beragam avatar banyak dari mereka adalah manusia-manusia yang mencerahkan dan betapa beruntungnya beberapa dari mereka akhirnya dapat saya raih dalam jabat tangan yang sesungguhnya.

Banyak yang berkata, dunia maya tak lebih dari ilusi. Harapan kosong yang banyak orang berusaha raih. Tempat dimana semua orang berusaha tampak sempurna ataupun berkebalikan dari realita sesungguhnya. Tapi bagi saya, dunia maya ataupun nyata tak banyak berbeda. Keduanya bagai satu simpul benang yang saling berikatan; saling bersentuhan sisi antara satu dan lainnya dengan cara yang berbeda.

Dan kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satunya…

*** Continue reading

It’s Time to Move On

Stone Town – Zanzibar, July 12 2013 [05:05pm]

Hey, how are you?

Well, I don’t know if this postcard will arrive at where it belongs [supposed to be your mailbox]

But at any cases, I would like you to know how picturesque this island is. Dazzling sun, breese from indian ocean, the solitude white sand beach. i know how you adore beach as much I love it, how you like to scuttle yourself into the silent sea garden. I believe it will be easy for anchor your heart here.

It’s been my sixth days on this island…

Do you remember, I’ve said that I pine for ocean, seafood [darn, I try not to mention sushi but yes sushi!]. That’s the reason why I chose to landed myself in Zanzibar. The city also gorgeous, but let me tell you a secret, I got lost almost everyday on the riddle labyrinth of Stone Town [seriously the labyrinths are bizzare].

But there, yesterday in the middle of the city maze from a guy at the mosque I found my epiphany….

All of this time it’s not about you. I think I was lost before and there I met you on a long darren road. I think I finally found the way back to a place I call home, even at the end you left me alone.

There, at that time I felt a real lost…

But the man at the mosque made me realize one thing. That actually I have never lost. I simply just miss the concrete path and accidentally choose the lone trail.

But no matter which path I choose, it will lead me to the final destination in my life. None is better than the other, both of it offers me a lesson. I simply grateful for that.

Maybe eventually we dispart at the crossroads but I believe, one day we will meet again. In the path where we first met, where there is only adventure and story to share.

Perhaps you are my final destination or perhaps not. But one thing for sure, you are one of the best stopover in the course of my life.

And for that, my feeling still stay the same as we first met.

See you when i see you, dear….

Zanzibar dalam Tiga Cangkir Teh

Zanzibar Coffee House, 8 July 2013 [05:45pm]

Ini sudah cangkir ketiga, selesap demi selesap teh hitam tandas sudah. Sepertinya ada yang salah dalam tiap cangkir yang saya minta, selalu ada rasa ingin tambah di akhir seduhannya. Sungguh saya mengangkat jempol akan rasa teh di pulau ini, satu sendok kecil madu sudah cukup untuk menyempurnakan seduhannya, membalut teh yang menjadi perpaduan antara daun teh hitam dan vanilla dengan rasa manis. Membuatnya menjadi salah satu teh ternikmat yang pernah saya icip dalam hidup saya.

Zanzibar Coffee House nama tempat ini, bangunan tua berlantai tiga dengan pintu ukir persia dan sebuah poster kuno tentang tata cara menyeduh kopi dalam bahasa arab, menghias salah satu dindingnya. Beruntung saya menemukan tempat ini tanpa sengaja, mereka tidak hanya menyajikan kopi arabika Zanzibar yang pekatnya melegenda, tapi teh hitam vanilla yang di seduh dalam cangkir pualamnya menarik seluruh gravitasi saya, membuat saya betah duduk lebih lama. Sayangnya ini mungkin cangkir terakhir saya, sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang toko ini akan segera tutup seperti toko-toko yang lain. Continue reading

Maybe it’s not always about summer, spring or winter wings. Or about the sun, the moon or the milky way. Maybe it’s merely about you and me. The space and time and our memories…

Me with the juxtaposition idea of us and the universe.

Next Adventure: Ocean!

Indian Ocean, 7 July 2013 [10:56am]

 Debur ombak, angin barat yang membakar, bau garam, lautan biru tak berujung. Saya pulang!

***

Manusia dan laut senantiasa memiliki hubungan yang unik, setidaknya itu menurut saya. Manusia dan rasa keingintahuannya berusaha menjelajahi laut, mencari tahu apa yang ada di balik horizonnya. Dibangunnya kapal-kapal besar dari batang kayu terkuat, di bentangkannya layar-layar terlebar dari rajutan kain-kain terbaik. Tapi pada akhirnya manusia tak pernah dapat menaklukkan lautan, para pelaut pun bergantung pada bintang sebagai penunjuk arah, atau bias cahaya merkusuar dari daratan terdekat. Di hembusan angin barat dan timur yang silih berganti mereka meletakkan harapan, berharap angin memeluk layar-layar mereka dan mengantarkan hingga tiba di haribaan tujuan

Manusia sebagai entitas tercerdas di bumi pun tidak dibekali dengan kemampuan untuk hidup di air, yang sayangnya menjadi daerah terluas di planet biru ini. Agama-agama Samawi turut bercerita tentang Musa yang mampu membelah lautan ataupun Isa yang dibekali kemampuan untuk dapat berjalan di atas air. Tapi tampaknya hanya mereka, dua manusia istimewa dari miliaran penduduk daratan yang dikisahkan memiliki kemampuan seperti itu, tapi saya yakin, ada jutaan orang lainnya yang berharap diberi mukjizat yang sama. Continue reading

May the road rise up to meet you, may the wind always be at your back, may the sun shine warm upon your face and the rains falls soft upon your fields and may God lead my way to find you again someday.

Somewhere over the sea, a place where you and me meant to be….

Dar Es Salaam dan Rahasia Besarnya

Dar Es Salaam, 06 July 2013 [11:44am]

“He who wanders around by day a lot, learn a lot.” ~ Old African Proverbs

***

 Dua hari saya lewatkan di Dar Es Salaam, sebuah kota metropolis di Timur Afrika. Ibukota Republik Tanzania, rumah bagi Kilimanjaro; Satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia. Dalam bahasa Swahili, mereka menyebut Dar Es Salaam dengan  “Bongo” atau “Otak”, satu-satunya hal yang membuat seseorang dapat bertahan dalam kota dimana lebih dari 70% penduduknya hidup tanpa sanitasi, air ataupun listrik yang memadai.

Dar Es Salaam tidak tercipta dalam semalam,  sejarah panjang kota ini mengular dari masa keemasan dinasti-dinasti Yaman hingga ke tapak-tapak kaki para penguasa Eropa. Dalam rentang masa Dar Es Salaam berevolusi panjang, tertidur sekejap saat karavan budak dihentikan hingga kemudian kembali bangun dalam keriuhan pembangunan sejak abad ke 19 dimulai.

Sebelum matahari meninggi, saya telah turut berjejalan dengan penduduk Dar Es Salaam di atas Dala-Dala, angkutan umum yang menyusuri tiap lekuk kota ini. Membiarkan diri saya terlarut dalam alunan musik India, aroma tubuh khas Afrika, rombongan perempuan tinggi semampai yang tertutup burqa, serta anak muda dengan gaya ghetto khas Amerika. Sekejap saya takjub dengan kemampuan bus kecil ini menyatukan berbagai kultur yang tampaknya saling berseberangan.

Masih terngiang percakapan saya dengan Vicki (tuan rumah saya) pagi tadi, olehnya dibagi sekeping rahasia kota ini. Continue reading

Ketidaktahuan yang Menenangkan

Doro Refugee Camp, 29 June 2013 [08:07am]

Jam delapan tiap harinya bocah ini duduk di bangku kayu yang terletak di depan klinik kami. Menunggu saya tiba dengan senyumnya yang merekah lebar. Tiap hari tanpa mengenal jeda, bocah ini datang berkunjung di waktu yang sama. Kadang ditemani ibunya, ayahnya atau tak jarang dia berkunjung sendirian.

Biasanya saat hujan turun, dia akan datang sedikit terlambat. Terkadang dengan baju yang basah kuyup ataupun sendalnya yang berselimut lumpur tebal, tapi tak sekalipun bibirnya tak berhias senyum yang membusur. Saat hujan tampak lebat saya biasanya meminta dia tinggal lebih lama, sekedar untuk menghangatkan diri dengan segelas susu sembari menunggu hujan berlalu.

Bocah itu bernama Kilinton, saya pertama kali berjumpa dengannya beberapa bulan yang lalu. Bukan perjumpaan yang menyenangkan apabila saya boleh bercerita. Kilinton datang dengan ditandu, tubuhnya ringkih dan nafasnya memburu. Saat itu saya berfikir, maut sekali lagi datang berkunjung ke klinik kecil kami dalam bentuk bocah berusia delapan tahun. Continue reading