Raja Ampat [A prolog]

Seandainya traveling adalah suatu sistem kepercayaan, maka saya dapat berkata bahwa negeri saya Indonesia adalah kuil sucinya. Bentangan alam negeri saya mampu memikat siapa saja untuk berjalan dan menjejaki tiap sudutnya. Sungguh saya sedang tidak bercanda! Negeri saya bukanlah daratan yang berbalut empat musim layaknya Eropa atau negeri yang terkungkung jazirah berselimut debu dan retakan tanah seperti Afrika.

Negeri saya memanjang dari barat ke timur membentuk formasi gugusan ribuan pulau hijau yang dikelilingi lautan berwarna nan kaya. Matahari yang manunggal pun enggan pindah dan menyirami negeri saya dengan cahaya hampir sepanjang tahun. Banyak yang mengibaratkan negeri saya kepingan surga, saya pun mengamininya.

Bagi mereka yang senang menenggelamkan diri dalam misteri dan keajaiban bawah laut, akan dengan mudah dibuat terpesona oleh Indonesia. Tersebutlah beberapa lokasi penyelaman di negeri saya yang namanya tersohor jauh melintas jarak dan bentangan benua. Salah satunya adalah Raja Ampat… Continue reading

Family!

Thyolo District, 26 October 2012 [03:44pm]

Saya sering menuliskan kisah tentang hidup jauh dari rumah, berbagi halaman ini dengan cerita tentang mereka yang saya temui tiap hari di  klinik kecil di pedalaman Afrika. Tanpa saya sadari, ada mereka yang kisahnya tak pernah tertulis dalam huruf dan rangkaian kata. Mereka, para tokoh yang berbagi cerita dengan saya dalam misi kali ini…

Mengemban tugas menjadi pekerja kemanusiaan di negeri ini, saya tidaklah sendiri. Misi kami mempekerjakan lebih dari 150 staf nasional yang bertugas di kantor ataupun di lapangan layaknya saya. Tapi berbanding terbalik dengan itu, kami hanya terdiri dari 7 orang pekerja asing. Mereka menyebut kami expatriat, saya menyebutnya keluarga…

Hidup sendiri dan jauh dari rumah, bagi saya mereka adalah rekan kerja, teman dan saudara. Kami berasal dari latar belakang, ras dan kebangsaan yang berbeda tapi dalam keberagaman kami menemukan sebuah sinergisme dalam hidup dan bekerja. Dari mereka saya belajar banyak hal, bagaimana saling menghargai dan bagaimana kemajemukan dapat mencipta rasa penghormatan. Continue reading

Half Page of Northern Rhodesia

Livingstone City, 20 September 2012 [1:55pm]

Hari ini hari terakhir saya menikmati hangatnya matahari Zambia, seharusnya saya menuliskan kisah betapa megahnya negeri utara Rhodesia ini dengan Mosi-O-Tunya yang menggelegar serta Zambezi yang menggeliat panjang. Tapi biarlah halaman itu saya sisihkan sementara, untuk berbagi cerita tentang manusia-manusia yang bersinggungan dalam perjalanan saya kali ini.

Siapapun yang pertama kali berucap “the strangers you meet on the way will leave you a memory that will linger forever” benarlah adanya. Bagi saya, tempat yang kita tuju hanyalah separuh dari cerita perjalanan separuhnya lagi adalah orang-orang yang kita temui dan berbagi lintasan waktu sepanjang perjalanan.

Saya tidak pernah menyangka bahwa alam Zambia bukan hanya menarik para pejalan yang hendak bergumul dengan liarnya Afrika. Tapi juga para pencinta yang hendak menuliskan kisah mereka di hilir-hilir zambezi ataupun savana kering South Luwanga. Saya pun demikian, walau hanya dapat mengecap rasa cinta yang dibagi mereka dalam cerita. Tetapi ada keterikatan, yang membuat saya tersenyum senang saat mereka berbagi kisah manis dan tersenyum getir saat ikut merasakan kisah  pahit yang dibagi…

***

Continue reading

Saya rindu berada di sana, di kedalaman samudera di ruang biru pekat tanpa suara. Laut memanggil tanpa bisa saya menjawab. Karib perjalanan saya ini bergurau mengibaratkan saya bagai ikan, ingsang saya mengerjap dan sisik saya mengering di dataran Afrika.

Ya, sungguh saya ingin sekali pulang kesana. Ke laut, tempat yang senantiasa saya sebut rumah… 

This day, I feel I lose all of them – a family

A woman of around twenty years old wearing a black dress and shabby flowerish chitenje is in the consultation room. A baby is sleeping on her lap. She hands me a small orange book with a torn cover.

Unlike in Indonesia, here in Malawi, patients keep their own medical records – a little book we call “health passport.” The soiled dull papers show that it was long time ago since her last visit to our health centre.

She has been suffering from fever and abdominal pain for two days already and decided to come to our health centre. But there is something else that catches my attention – printed on the front page of her health passport, there is an inscribed red oval shape with two horizontal lines.

She is HIV positive… Continue reading

Hai dinda…

Satu-satunya tempat yang ingin saya kunjungi saat ini adalah ruangan kecil di Lantai 2 Fakultas Kedokteran UNHAS. salah satu tempat yang saya sebut rumah, tempat pertama kali saya tertarik akan bidang kemanusiaan. saya lahir dari janji yang terpatri di rumah kecil itu, di TBM Calcaneus FK UNHAS.

Banyak cerita yang menggantung indah disana, tempat saya belajar bahwa memang tidak mudah melebur, memecah tiap partikel ke-Aku-an kemudian mencipta wujud “Kita”, tempat saya belajar berhenti bersikap sinis akan mimpi dan kebersamaan, tempat saya belajar bahwa tidak ada kata tidak untuk menolong sesama dan tak ada kata “nanti” hanya ada sekarang dan saat ini. Tempat saya belajar bahwa janji yang sependek tarikan napas akan mengalir seumur hidup.

Sore ini di Afrika, saya teringat para prajurit-prajurit kecil yang kami sebut saudara telah menuntaskan baktinya setahun menjaga rumah kecil kami. ingin rasanya menyalami dan memeluk mereka satu-persatu, kembali tenggelam dalam ruang kecil di lantai dua itu.

Tapi rindu masih menggantung tinggi dan belum tersapu oleh pertemuan, biarlah sore ini saya mengirim salam melalui catatan Hai dinda. semoga sampai tepat waktunya, sebelum mentari tenggelam esok hari.

***

Continue reading

Megahnya Merah Jambu

Sudah lama saya tidak merasakan sejuk mesin pendingin di dalam pusat perbelanjaan. Seperti umumnya warga asia lainnya, saya terbiasa untuk menikmati kehangatan bangunan kaku bernama Mall dan berbulan-bulan tidak berkunjung ke Mall membentuk semacam kerinduan. Beruntunglah Nairobi memiliki banyak pilihan mall yang bisa dikunjungi.

Saya menemukan oase!

Pernah suatu hari saya berkunjung ke Sarit Centre sebuah mall yang terletak di timur Nairobi, niatnya untuk makan siang sekaligus menonton premiere Captain America. Sambil menanti waktu pemutaran film, saya memilih untuk berjalan-jalan di sepanjang lorong mall yang dipenuhi dengan poster-poster serta leafet iklan, beberapa saat kemudian ekor mata saya menangkap sebuah foto danau yang indah terpampang di salah satu sudut. Bukannya gambaran danau biru yang tenang, tapi sebuah danau berwarna merah jambu, akibat tertutup oleh ribuan burung flamingo. Lake Naivasha saya membaca namanya. Seketika saya tahu, kemana tujuan saya berikutnya! Continue reading

Thyolo dari Pinggir Jalan

Distrik Thyolo nama kota kecil di selatan Malawi ini, tempat kantor kami berpusat. Kota kecil di dataran tinggi dengan kebun teh tertua di Afrika. Ya Teh, tanaman hijau yang menjadi salah satu alasan Kerajaan Inggris menjadikan Negeri Nyassa ini sebagai daerah kolonisasinya.

Kehidupan disini amatlah sederhana, sepeda menjadi alat transportasi utama. Baik pribadi maupun bycyle taxi. Satu yang menarik perhatian saya adalah tidak adanya papan reklame yang umum saya dapati di kota-kota lainnya. Membuat tiap reklame yang terpasang di toko-toko kecil keperluan masyarakat menjadi adalah seni yang dilukis oleh tangan-tangan terampil.

….

Mungkin waktu berhenti di distrik ini, tapi tak mengapa. saya senang terjebak di dalamnya… 🙂

Berdagang Hari

Tidak ada hiburan yang lebih menyenangkan dibanding perjumpaan dengan orang-orang terkasih. perjumpaan seperti ini dengan mudah saya temui di bandara ataupun terminal, tempat dimana bahagianya perjumpaan berbaur dengan sedihnya perpisahan…

Tapi kali ini tidak. bagi masyarakat di desa kecil ini tempat semua rasa melebur itu bernama pasar, pusat semesta dari nadi kehidupan desa. di satu sudut bisa kau temui riuhnya para ibu penjaja sayur sedang berbagi hijaunya cerita, disaat yang sama gumaman kering para pria berkumandang, sekering ikan yang dijajakannya.

Penjual dan pembeli bertemu dan saling menawar mimpi…

Tiap hari saya melintas tempat ini, berjalan sepuluh menit menuju klinik dengan kopi di tangan atau cekikikan ringan memandang layar telepon genggam. sapaan hangat para penghuni pasar selalu menambah semangat.

Disini listrik masih menjadi barang yang langka walau telepon genggam sudah mulai berdering dimana saja, maka barbershop and phone charger salah satu tempat berkumpul favorit. Apalagi bagi toko-toko kecil yang menyediakan kotak ajaib bernama televisi, merekalah juaranya!

Ya hangatnya kopi dan sapaan, saya butuh itu. bulan ini terlalu dingin untuk darah tropisku…