Welcome to The Youngest Country in The World!

Doro Refugee Camp, 20 March 2013. [09:51pm]

Sejauh apa mimpi bisa membawamu?”

Saya tak pernah menyangka bahwa hidup saya akan sedemikian dinamisnya, layaknya riak-riak sungai kecil di tepi hutan, yang kadang mengering saat kemarau dan penuh jeram saat musim penghujan tiba. Baru beberapa hari yang lalu saya menikmati sejuknya mesin pendingin, sembari menikmati segelas jus apel di salah satu restoran kegemaran saya di Makassar. Dan kini padang tandus nan luas sama sekali tak memberi ruang untuk saya berteduh dari sengatan surya negeri ini yang cadas, pun sebotol air untuk menghapus dahaga.

Sungguh, sebelum saya menapak negeri ini saya tak pernah mempercayai bahwa di sebuah sudut bumi ada tempat yang layaknya semesta yang paling terisolasi. Tempat kehidupan ditempa dengan sangat keras, dimana hidup adalah tentang hari esok, tentang udara yang masih dapat dihirup dalam selimut debu.

Dan mimpi? Mimpi adalah perhiasan termahal yang dapat manusia kenakan…

***

Perang sipil yang berkepanjangan membelah Sudan menjadi dua bagian, sekali lagi agama yang semestinya menjadi pemersatu tak ayal menjadi pemecah. Dan hal itu membuat Sungai Nil yang agung kembali menambah nama deretan negeri yang dilintasinya; Republik Sudan Selatan. Negara termuda di dunia, rumah saya untuk setengah tahun ke depan.  Continue reading

[Give Away] Memento from Malawi

Almarhum ayah saya sering mengingatkan untuk tak pernah lupa melafal “terima kasih” kepada mereka yang telah menoreh jasa dalam hidup kita. Beliau percaya bahwa gugusan aksara pendek itu menginfiltrasi jauh ke dalam sanubari tiap orang, memberi rasa senang teruntuk mereka yang kita tujukan dan menjadi jangkar bagi kita agar senantiasa membumi.

Kini, saya ingin mengucap terima kasih kepada kalian. Orang-orang yang tak semuanya sempat saya sapa dengan kata saat berkunjung ke rumah maya saya yang sederhana ini. Kepada kalian, baik yang meninggalkan jejak aksara di kolom komentar atau pun yang hanya memberi sedikit ruang di girus otaknya untuk merekam gambar ataupun susunan kata di halaman ini. Seandainya tangan saya bisa menjangkau keluar dari batasan dunia maya, saya ingin menyalami kalian satu persatu dan mengucapkan “terima kasih”.

Continue reading

Loe Valley: The Camp

Tahun dua ribu tiga adalah kali pertama saya mendaki. Saat itu saya mengikuti proses penerimaan anggota baru di sebuah organisasi kampus. Saya yang baru dan tak mengenal alam sama sekali berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin sebagai jawaban akan begitu banyak keraguan yang saat itu saya rasakan.

Layaknya vitamin, senior-senior saya dengan telaten dan tanpa jeda mencekoki saya dengan gambaran indahnya alam di luar sana, sebagai penyemangat bagi kami untuk tak mundur dari prosesi ini. Walau terkadang secara tak sadar umpatan akan beratnya pendakian juga sering terlontar dalam candaan-candaan bebas mereka.

Lebih dua bulan saya mempersiapkan diri, mengikuti olahraga bersama rekan-rekan kelompok pendakian dan berburu perlengkapan gunung yang sebagian besar namanya tak pernah saya dengar sebelumnya.

Saat waktu pendakian tiba, tubuh saya yang ceking dijejali dengan tas raksasa yang mampu memuat sebuah tenda dan perlengkapan masak layaknya dapur ibu saya. Sepatu berat yang menderap seperti milik para tentara bersanding dengan sebuah botol air minum kecil yang saya ragukan isinya dapat bertahan memenuhi dahaga saya hingga tiba di tujuan kami nantinya.

Kemudian kami mulai berjalan, ke tempat yang sejak beberapa bulan yang lalu telah menjadi satu-satunya target hidup saya. Sungguh saya buta arah, saya hanya tahu mengekor mereka yang melangkah di depan. Kaki saya melangkah berat, pelan dan goyah

Perjalanan itu menjadi perjalanan terberat dan terlama dalam hidup saya saat itu, semangat saya mengendur dan menguap pelan-pelan. Senyum berganti dengan umpatan, dan saat itu saya berjanji tak akan pernah mendaki lagi!

Waktu berganti dan janji tinggallah janji…

Ini kali keberapa saya mendaki? Saya pun sudah tak tahu pasti. Umpatan itu masih tetap saya lontarkan, berjanji untuk tidak akan pernah mendaki lagi. Tetapi ada sesuatu di ujung perjalanan yang selalu membuat saya mengingkari janji itu.

Sekali lagi, kemudian sekali lagi… Continue reading

Loe Valley: A Prolog

Saya percaya walaupun masa depan tampak lamat-lamat dan menggelap, saat kita menderap langkah maju menuju kesana tak ada kata mundur ataupun berbalik arah…

***

Lengkese, 15 Februari 2013 [11:24pm]

Malam telah pekat saat rombongan kami tiba di desa Lengkese, desa terakhir yang dapat dijangkau oleh jalur transportasi. Sebuah rumah kayu yang telah sering kami kunjungi menjadi persinggahan sementara, sebelum kami memulai perjalanan panjang menuju Lembah Loe keesokan subuhnya.

Rombongan kami berjumlah sembilan orang,  kedelapan orang lainnya bukanlah karib saya, pun umur kami terpaut sedemikian jauhnya tapi kami semua terlahir dari rahim organisasi kampus yang sama, membuat kami terikat sebuah persaudaraan unik yang menghapus segala sekat pembeda.

Continue reading

Reuni Bawah Air

“Apakah kalian senang bereuni, memutar waktu dan memanggil kembali kenangan yang menari?”

Saya pernah sekali berkunjung ke akuarium raksasa bernama Seaworld, saat itu saya masih kecil. Mungkin karena kegemaran memotret saya telah memperlihatkan wujudnya, maka hari dimana kami berkunjung ke Seaworld ibu mengamanahkan sebuah kamera saku dengan sebuah rol film berkapasitas 36 kutipan kepada saya. Saya pun di daulat menjadi tukang foto keluarga.

Seaworld yang dipenuhi lampu temaram dan ikan beraneka ragam dengan mudah memikat perhatian saya. Bola mata saya yang kecil membelalak kagum tiap kali ikan-ikan besar berenang berseliweran.  Saya ingin memotret tiap-tiap dari mereka tapi kemudian meragu. Mengingat tiap shutter yang saya tekan berarti satu rekam gambar yang tak bisa lagi di ulang ataupun di hapus layaknya kamera digital masa kini. Maka saya bersabar, menanti momen terbaik dan ikan paling cantik… Continue reading

Raja Ampat [A prolog]

Seandainya traveling adalah suatu sistem kepercayaan, maka saya dapat berkata bahwa negeri saya Indonesia adalah kuil sucinya. Bentangan alam negeri saya mampu memikat siapa saja untuk berjalan dan menjejaki tiap sudutnya. Sungguh saya sedang tidak bercanda! Negeri saya bukanlah daratan yang berbalut empat musim layaknya Eropa atau negeri yang terkungkung jazirah berselimut debu dan retakan tanah seperti Afrika.

Negeri saya memanjang dari barat ke timur membentuk formasi gugusan ribuan pulau hijau yang dikelilingi lautan berwarna nan kaya. Matahari yang manunggal pun enggan pindah dan menyirami negeri saya dengan cahaya hampir sepanjang tahun. Banyak yang mengibaratkan negeri saya kepingan surga, saya pun mengamininya.

Bagi mereka yang senang menenggelamkan diri dalam misteri dan keajaiban bawah laut, akan dengan mudah dibuat terpesona oleh Indonesia. Tersebutlah beberapa lokasi penyelaman di negeri saya yang namanya tersohor jauh melintas jarak dan bentangan benua. Salah satunya adalah Raja Ampat… Continue reading

Gua dan Jejak Sejarah

“A people without the knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots” ~ Mark Garvey

 Leang-Leang – Maros, 15 November 2012 [8:33am]

Karst Maros adalah salah satu destinasi liburan favorit saya, jaraknya yang dekat dari rumah dan pesona bentangan pegunungan kapur yang meliuk panjang di tengah area persawahan hijau yang luas membuat karst terluas di dunia -setelah Karst Guilin di Cina- ini seakan tidak ada habisnya untuk di jelajahi. Di balik pegunungan hitam yang menjulang tinggi, terdapat ratusan gua bentukan alam yang jauh melintas perut bumi menyembunyikan pesona lain daerah ini: jutaan stalagtit dan stalagmit yang berpadu dengan sungai, air terjun serta danau bawah tanah.

Saya senang menenggelamkan diri ke dunia di bawah sana, menemukan diri saya dalam konstelasi alam nan megah yang menanti untuk di pendarkan oleh cahaya senter. Di dalam gua, kesunyian adalah ketentraman absolut dan pekat gelap adalah teman perjalanan yang paling ideal.

Tapi rupanya ada gugusan gua yang sering saya alpa. Leang-Leang namanya, sebuah gugusan gua prasejarah yang menyimpan misteri kehidupan manusia zaman Mesolitikum. Atas ajakan rekan saya Achied yang tengah berkunjung ke Makassar, hari ini kealpaan saya seketika terhapuskan.

Setelah perjalanan 40 menit meninggalkan Makassar, kami telah disajikan pemandangan alam yang terbentang luas di kiri kanan jalan. Karst-karst hitam legam yang diselubungi hijaunya pohon membentuk formasi bentangan alam yang sangat mengagumkan. Tidak  jarang kami menemukan formasi karst di tengah area persawahan, tak berubah, tak bergerak, tak pula dipindahkan. Manusia telah beradaptasi dan menerima kontur alam ini sebagai bagian dari tanah mereka. Sesekali kami melintas gerombolan sapi yang merumput dengan santai seakain ingin bersaing dengan para ibu yang tengah asik menikmati matahari pagi sambil bercengkrama di beranda warung-warung mereka.

Selalu ada rasa iri yang menjejak masuk melihat manusia yang dapat bersinergi dengan alam dalam suasana pedesaan seperti di sini, tak berlebih dan tak juga kekurangan. Dicukupkan.

Tak lama kemudian, kami telah sampai di kawasan Leang-leang.

Leang sejatinya berarti gua, kawasan ini memiliki dua gua yang menyimpan bukti akan adanya kehidupan manusia di jaman Mesolitikum; Salah satu periode di zaman pra-sejarah saat manusia masih hidup dalam gua dan berburu demi kelangsungan hidupnya. Pagi ini ditemani seorang polsus, kami akan merunut dan menyaksikan bukti keberadaan mereka

Beberapa menit berjalan dari pagar kawasan, kami telah tiba di atas sebuah tebing yang berfungsi sebagai pintu masuk gua. Lantai gua menjorok keluar berhiaskan bebatuan kapur berwarna putih, sangat kontras dengan karst di sekelilingnya yang berwarna hitam legam. Sulur-sulur tanaman menempel di permukaan stalagtit, menggantung jauh di atap gua seakan berusaha mencapai lantai. Memberikan kesan liar yang indah.

“Kerang-kerang ini adalah bekas sisa santapan mereka…” Sembari berjalan,polsus yang menemani kami memberi penjelasan.

Saya berhenti dan memandang fosil-fosil kerang yang membatu di pelataran mulut gua. Saya menyentuhnya dan masih dapat merasakan gulir-gulir yang menghiasi permukaan kerang. Seketika saya merinding karena takjub membayangkan 5000 tahun yang lalu ras manusia purba yang menjadi nenek moyang saya pernah bermungkim disini. Rasa takjub saya semakin menjadi saat menyadari keberadaan fosil kerang ini menjadi bukti bahwa kawasan tebing yang tengah kami daki, dahulunya adalah daerah pesisir dan lautan!

Masa ribuan tahun dilewatkan alam dengan bermetamorfosis secara sempurna, dari lautan menjadi pegunungan kapur yang menjulang tinggi. Sungguh ajaib!

Memasuki gua, suhu seketika berubah menjadi lebih dingin dan lembab. Pintu gua yang lebar memungkinkan cahaya matahari untuk masuk dan menyinari hingga ke langit-langit gua. Disana, terdapat sekumpulan lukisan berbentuk telapak tangan berjari lima -ada pula yang hanya berjari empat-, berlatarkan warna merah kekuningan. Lembab dan basah, seakan baru saja dilukis dan menanti untuk dikeringkan…

“Manusia gua memilih dedaunan khusus yang dilebur bersama batu untuk menghasilkan pewarna alami. Mereka kemudian menempelkan telapak tangan di dinding gua dan menyemburkan pewarna melalui mulutnya” polsus memberi penjelasan…

“Apa manusia purba dahulunya ada yang berjari empat?” dengan penasaran saya menunjuk lukisan telapak tangan yang hanya terdiri dari empat jari.

“Manusia purba memotong jari, sebagai tanda duka cita saat ada kerabat mereka yang meninggal, lukisan berjari empat menandakan salah satu anggota kelompok mereka ada yang telah meninggal” polsus kembali menjelaskan.

Saya bergidik!

Sesaat saya tertegun memandang lukisan-lukisan di dinding gua, silih berganti saya memandang lukisan telapak tangan yang berpadu dengan lukisan hewan menyerupai babi berwarna merah darah. Saya menyadari, kini saya tengah berhadapan langsung dengan bukti nyata keberadaan ras manusia purba di tanah ini.

Sejarah sungguh memainkan alur yang sangat apik, menyimpan misteri yang menanti untuk dikulik.

Saya tersenyum menyadari fakta bahwa kita manusia, tak peduli bentangan zaman ribuan tahun, manusia purba ataupun dengan tingkat intelegensi tinggi seperti saat ini. Kita memiliki satu kesamaan, kita semua butuh eksistensi.

Karena mereka yang tidak merekam jejak keberadaannya, akan terhapus dalam alur sejarah planet ini.

 …

Akankah kita demikian? Semoga saja tidak… 

Family!

Thyolo District, 26 October 2012 [03:44pm]

Saya sering menuliskan kisah tentang hidup jauh dari rumah, berbagi halaman ini dengan cerita tentang mereka yang saya temui tiap hari di  klinik kecil di pedalaman Afrika. Tanpa saya sadari, ada mereka yang kisahnya tak pernah tertulis dalam huruf dan rangkaian kata. Mereka, para tokoh yang berbagi cerita dengan saya dalam misi kali ini…

Mengemban tugas menjadi pekerja kemanusiaan di negeri ini, saya tidaklah sendiri. Misi kami mempekerjakan lebih dari 150 staf nasional yang bertugas di kantor ataupun di lapangan layaknya saya. Tapi berbanding terbalik dengan itu, kami hanya terdiri dari 7 orang pekerja asing. Mereka menyebut kami expatriat, saya menyebutnya keluarga…

Hidup sendiri dan jauh dari rumah, bagi saya mereka adalah rekan kerja, teman dan saudara. Kami berasal dari latar belakang, ras dan kebangsaan yang berbeda tapi dalam keberagaman kami menemukan sebuah sinergisme dalam hidup dan bekerja. Dari mereka saya belajar banyak hal, bagaimana saling menghargai dan bagaimana kemajemukan dapat mencipta rasa penghormatan. Continue reading

Half Page of Northern Rhodesia

Livingstone City, 20 September 2012 [1:55pm]

Hari ini hari terakhir saya menikmati hangatnya matahari Zambia, seharusnya saya menuliskan kisah betapa megahnya negeri utara Rhodesia ini dengan Mosi-O-Tunya yang menggelegar serta Zambezi yang menggeliat panjang. Tapi biarlah halaman itu saya sisihkan sementara, untuk berbagi cerita tentang manusia-manusia yang bersinggungan dalam perjalanan saya kali ini.

Siapapun yang pertama kali berucap “the strangers you meet on the way will leave you a memory that will linger forever” benarlah adanya. Bagi saya, tempat yang kita tuju hanyalah separuh dari cerita perjalanan separuhnya lagi adalah orang-orang yang kita temui dan berbagi lintasan waktu sepanjang perjalanan.

Saya tidak pernah menyangka bahwa alam Zambia bukan hanya menarik para pejalan yang hendak bergumul dengan liarnya Afrika. Tapi juga para pencinta yang hendak menuliskan kisah mereka di hilir-hilir zambezi ataupun savana kering South Luwanga. Saya pun demikian, walau hanya dapat mengecap rasa cinta yang dibagi mereka dalam cerita. Tetapi ada keterikatan, yang membuat saya tersenyum senang saat mereka berbagi kisah manis dan tersenyum getir saat ikut merasakan kisah  pahit yang dibagi…

***

Continue reading